Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Cerita Mistis dan Sejarah Barong 'Hidup Lagi' dan Hubungan Antara Desa Serongga dan Tojan yang Bermula dari Abad ke-18

I Putu Suyatra • Jumat, 20 Desember 2024 | 16:18 WIB
Barong
Barong

BALIEXPRESS.ID - Tradisi Hindu Bali yang unik dan penuh misteri digelar di Pura Taman Sari Desa Tojan, Klungkung, bertepatan dengan perayaan piodalan.

Ribuan warga dari tiga desa di Gianyar, yaitu Desa Serongga, Desa Lebih, dan Desa Tedung, berjalan kaki sejak subuh untuk "ngiring sasuhunan" ke salah satu tempat suci Hindu Bali tersebut.

Tradisi ini memiliki latar belakang sejarah yang berawal dari kisah mistis tentang Barong yang "hidup kembali" setelah dipralina.

Kisah Awal: Barong Ket yang Tidak Musnah

Mantan Bendesa Desa Pekraman Serongga, Ida Bagus Putra, mengungkapkan bahwa keterkaitan antara Desa Serongga dan Desa Tojan bermula pada abad ke-18.

Saat itu, Anak Agung Gede Kepandean dari Puri Agung Serongga menciptakan dua petapakan Barong Ket.

Salah satu Barong Ket diserahkan kepada A.A. Gede Kesiman di Puri Siangan, Gianyar, sementara yang lain dipasupati sebagai sungsungan masyarakat Desa Serongga.

Namun, sungsungan tersebut membawa beban berat bagi masyarakat Desa Serongga karena sering mengajukan permintaan yang sulit dipenuhi.

Akibatnya, masyarakat memutuskan untuk mempralina Barong Ket dengan cara membakar.

Namun, keanehan terjadi: preraga (badan Barong) hangus, tetapi prerai (tapel/topeng) tetap utuh.

Prerai yang Terpecah dan Menyatu Kembali

Karena ketakutan, prerai tersebut dibuang ke Pantai Lebih, namun kemudian terpecah menjadi dua bagian.

Salah satu bagian ditemukan di Pantai Sedayu, sementara bagian lainnya ditemukan di Pantai Batu Klotok oleh petani Desa Tojan.

Dalam kejadian yang semakin mistis, kedua bagian prerai itu dijadikan lelakut (orang-orangan sawah) oleh para petani, tetapi terus memancarkan cahaya aneh di sawah.

Setelah dimintakan petunjuk kepada orang pintar, terungkap bahwa prerai tersebut berasal dari Desa Serongga.

Akhirnya, prerai itu dikembalikan dan disungsung sebagai Ida Betara Ratu Gede Tojan.

Untuk melengkapi keberadaannya, masyarakat Desa Tojan meminta petapakan Rangda dari kayu sandat, yang kemudian dipasupati dan dikenal sebagai Ida Betara Ratu Sandat.

Tradisi Ngiring yang Memukau Ribuan Warga

Tradisi ngiring sasuhunan ini dimulai sejak pukul 05.00 WITA. Ribuan warga dari Desa Serongga, Lebih, Tedung, dan para penyungsung pura berjalan kaki menuju Pura Taman Sari.

Suasana pagi itu penuh dengan semangat dan keheningan magis, di mana ribuan orang memadati jalan sepanjang rute menuju pura.

Penglingsir Desa Lebih, Wayan Koram, berharap hubungan emosional dan spiritual antara masyarakat ketiga desa dan Pura Taman Sari tetap terjaga.

“Sesuunan yang kita sungsung memiliki ikatan emosional yang mendalam dengan kita semua,” ujar Wayan.

Tradisi yang sarat dengan nilai spiritual dan sejarah ini tidak hanya menguatkan hubungan antar-desa, tetapi juga menjadi bukti betapa tradisi Bali tetap hidup dan penuh daya tarik hingga saat ini.

Bagaimana kisah mistis ini terus memengaruhi kehidupan masyarakat Bali? Ikuti terus cerita menarik lainnya di sini! *** 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #mistis #hindu #sejarah #tradisi #barong