Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Gong Dewa di Banjar Wani, Gamelan Sakral Hindu Bali yang Hanya Mengiringi Upacara Dewa Yadnya

I Putu Suyatra • Jumat, 20 Desember 2024 | 19:21 WIB
gamelan yang ada di Banjar Wani, Desa Gadungan, Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan, Bali.
gamelan yang ada di Banjar Wani, Desa Gadungan, Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan, Bali.

BALIEXPRESS.ID - Bagi umat Hindu Bali, gamelan merupakan bagian tak terpisahkan dari setiap upacara adat.

Biasanya, perangkat gamelan yang dimiliki desa pakraman dapat digunakan untuk berbagai jenis upacara Panca Yadnya, mulai dari Dewa Yadnya hingga Bhuta Yadnya.

Namun, berbeda dengan gamelan yang ada di Banjar Wani, Desa Gadungan, Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan, Bali.

Gamelan ini, yang dikenal dengan sebutan Gong Dewa, hanya digunakan untuk mengiringi upacara Dewa Yadnya.

Tidak hanya itu, alunan suara yang dihasilkan juga dianggap unik dan terdengar aneh bagi sebagian orang.

Bahkan, warga setempat percaya bahwa tanpa iringan Gong Dewa, upacara Dewa Yadnya di desa mereka dianggap tidak lengkap.

Sejarah Gong Dewa yang Berpindah Tempat

Menurut Tokoh Adat Banjar Wani, I Ketut Parwa, Gong Dewa ini telah ada sejak tahun 1930-an.

Gamelan ini dibeli oleh 17 orang warga Desa Gadungan yang tergabung dalam Sekaa Nandur, sebuah kelompok pembajak sawah.

Awalnya, gong ini sering berpindah-pindah tempat, mulai dari Banjar Batur hingga akhirnya menetap di Banjar Wani.

"Gong ini dulu tempatnya berpindah-pindah sesuai dengan tempat tinggal ke-17 orang tersebut. Akhirnya, gong ini berada di Banjar Wani hingga sekarang," jelas Ketut Parwa.

Kesakralan dan Larangan Pemakaian untuk Upacara Lain

Tidak seperti gamelan lainnya, Gong Dewa hanya boleh dimainkan untuk upacara Dewa Yadnya, khususnya di utamaning mandala Pura Desa saat piodalan.

Selain itu, gamelan ini pantang diletakkan di tanah dan selalu ditempatkan pada bale khusus.

Uniknya, pernah terjadi insiden saat Gong Dewa digunakan dalam upacara Pitra Yadnya.

Ketika dimainkan, alunan musiknya menjadi tidak harmonis, bahkan menimbulkan kendala dalam jalannya upacara.

"Percaya atau tidak, suara gong menjadi mesradukan, dan acara warga itu menemui kendala hingga banyak yang kerauhan," tutur Ketut Parwa.

Keunikan Suara dan Pemain Gong Dewa

Gong Dewa memiliki perangkat sederhana, terdiri dari dua buah Reong, dua Jublag, dua Gangse kecil, empat Ceng-Ceng, serta beberapa alat lainnya.

Meski demikian, alunan musik yang dihasilkan menyerupai gong gede, dengan laras suara Selendro yang khas.

Tidak sembarang orang dapat memainkan Gong Dewa. Para penabuhnya biasanya adalah keturunan dari 17 orang yang pertama kali membeli gong ini.

Saat ini, sekaa yang dikenal dengan nama Sekaa Gong Suci hanya beranggotakan 14 orang, sebagian besar adalah warga lanjut usia.

"Generasi muda yang ingin belajar sering kesulitan memainkan gong ini karena tekniknya yang unik. Pemain saat ini adalah generasi keempat hingga kelima," ungkap Ketut Parwa, yang juga Kelian Sekaa Gong Suci.

Kayu Teep dan Usia Seabad Lebih

Perangkat Gong Dewa ini terbuat dari kayu Teep, yang tidak pernah diganti sejak pertama kali dibuat.

Bentuknya yang klasik menjadi bukti sejarahnya. Bahkan, menurut tim dari Provinsi Bali yang pernah mendata, Gong Dewa adalah salah satu dari tiga gong tertua di Tabanan.

Keunikan ini membuat Sekaa Gong Suci beberapa kali tampil di Gedung Kesenian I Ketut Maria Tabanan.

Namun, perhatian pemerintah terhadap pembinaan sekaa maupun perawatan gamelan ini masih sangat minim.

Nilai Sakral dan Sejarah yang Perlu Dilestarikan

Gong Dewa bukan sekadar perangkat gamelan, melainkan simbol tradisi dan sakralitas yang sudah berlangsung hampir seabad.

Suaranya yang unik, sejarah panjangnya, serta kaitannya dengan upacara Dewa Yadnya menjadikannya warisan budaya yang sangat berharga.

Namun, mampukah Gong Dewa ini terus dilestarikan di tengah tantangan zaman?

Semua bergantung pada kesadaran masyarakat dan dukungan pemerintah untuk menjaga keunikan budaya Bali ini. *** 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #dewa yadnya #hindu #Bhuta Yadnya #gamelan #panca yadnya #tabanan