Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Jangan Sembarangan, Wajib ada Padewasan Menebang Kayu untuk Topeng

I Putu Mardika • Jumat, 10 Januari 2025 | 04:30 WIB

Prosesi memohon kayu untuk topeng dengan memperhatikan padewasan
Prosesi memohon kayu untuk topeng dengan memperhatikan padewasan
BALIEXPRESS.ID-Bukan hanya upacara yadnya saja tidak memperhatikan padewasan. Apapun aktifitasnya tetap mencari subha dewasa atau hari baik.

Dengan tujuan untuk kelancaran dari aktifitas tersebut. Baik membuat rumah, upacara yadnya. Termasuk dalam menebang kayu harus sesuai dengan padewasan atau ayuning dewasa.

Gede Anom Ranuara jika ingin membuat lakar (bahan, Red) untuk tapel, maka disarankan saat  kawulu baret kasa.

Sebab pertimbangannya karena kadar air dari kayu itu akan turun pada waktu itu, karena musim kering.

Baca Juga: Panca Datu dalam Pertopengan, Ada lima jenis kayu, Kayu Timbul cocok untuk Tapel Celuluk

Selain itu menebang kayu juga bisa juga dilakukan saat sasih Karo Kasa. Pertimbangannya sama, karena musim kering dan kadar airnya turun.

“Memang ada sisi teologi, sisi mitologi, sisi sains, logika dalam penebangan pepohonan untuk bahan tapel. Dan rasanya ini sah-sah saja, itulah bagian dari kearifan lokal” sebutnya.

Ia menambahkan, dalam Lontar Siwagama juga sudah jelas disebutkan, mengapa ada kayu sakti, dan kayu timbul identik dengan Sang Kalika.

Ketika berbicara mitologi kayu yang dimanfaatkan untuk aktifitas ritual, maka lebih cenderung mengacu dalam Lontar Tantu Pagelaran.

Baca Juga: Tabrak Truk Tangki Parkir Usai Hantam Sepeda Motor, Mobil Civic Ringsek: Polisi Beberkan Kronologi Kejadian

Dalam Lontar tersebut, rata-rata menceritakan lahirnya kayu. Dimana, Ida Bhatari saat ingin bertemu dengan Ida Bhatara Siwa saat beryoga.

Beliau menguji perjalanan Bhatari untuk mencari kebesaran Siwa. Apakah taat atau tidak Ida Bhatari Uma.

“Bhatari Uma digoda oleh raksasa yang kemudian dikutuk menjadi kayu nagasari. Ada pula jadi keladi, semua itu mitologi berkaitan dengan Dewi Uma atau Hyang Giri Putri. Kita tidak bisa memungkiri bahwa Bhatari adalah simbol Pertiwi,” jelas Ranuara.

Tak bisa disangkal jika Dewi Uma atau Dewi Durga dinobatkan penguasa celuluk, lenda-lendi, gamang, tonya, kalika dan lain-lain.

Baca Juga: Tampil Sederhana, Rania Yamin Ternyata Selebgram Tiktok Keturunan Mangkunegaran: Ini Sosoknya

“Sehingga mitologinya dikutuk menjadi kayu. Yang kemudian baik untuk bahan tapel. Apalagi berkaitan dengan sesuhunan yang disungsung masing-masing pura yang sangat disakralkan dan membawa vibrasi positif,” pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#padewasan #Tapel #yadnya #upacara #topeng #kayu