Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Misteri dan Keajaiban Tempat Suci Hindu Bali, Pura Siwa di Kaki Gunung Batukaru: Mengapa Ribuan Orang Tertarik Tangkil?

I Putu Suyatra • Jumat, 10 Januari 2025 | 13:37 WIB
Pura Siwa di Banjar Margasari, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Tabanan
Pura Siwa di Banjar Margasari, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Tabanan

BALIEXPRESS.ID - Di balik lebatnya hutan keramat di Banjar Margasari, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Tabanan, berdiri sebuah tempat suci Hindu Bali yang kini menjadi magnet bagi ribuan pamedek, tak hanya dari Pulau Dewata dan Jawa, tetapi hingga mancanegara.

Pura Siwa, yang dulunya tersembunyi dalam keheningan hutan, kini menjadi tujuan spiritual yang penuh keunikan. Apa yang membuat pura ini begitu istimewa?

Petunjuk Menuju Pura Siwa

Mencapai Pura Siwa memerlukan sedikit usaha, tetapi petualangan ini sepadan. Dari Kota Tabanan, perjalanan dimulai dengan menyusuri Jalan Raya Gilimanuk menuju Pupuan.

Setelah tiba di simpang empat Desa Pujungan, belok kanan menuju SMAN 1 Pupuan.

Dari sana, perjalanan sejauh 20 kilometer melalui hutan membawa pamedek ke Pura Siwa, dengan patokan Pura Malen di sepanjang jalan.

Pura Malen sendiri merupakan pangayatan dari Pura Puncak Mengening Ulundanu Tamblingan.

Jero Mangku Wayan Sutarjana menjelaskan bahwa pura ini digunakan sebagai penanda untuk memudahkan perjalanan ke Pura Siwa.

Aura Mistis Penjaga Hutan Keramat

Saat mendekati Pura Siwa, pamedek akan disambut oleh dua patung tentara lengkap dengan senjata mereka, berdiri gagah menjaga kawasan suci ini.

Di bawah masing-masing patung tertulis "Linggih De Bagus Made" dan "Linggih De Bagus Nyoman".

Menurut kepercayaan setempat, patung-patung ini adalah perwujudan penjaga setia hutan keramat tersebut.

Tak jauh dari sana, terdapat patung Buddha Wiku Budi Dharma, seorang tokoh spiritual yang dikawal dua macan—macan tutul di kanan dan macan hitam di kiri.

Konon, beliau pernah menimba ilmu di Gunung Batukaru, menambah aura mistis tempat ini.

Keunikan Pura dan Simbolisme Spiritual

Memasuki areal utama Pura Siwa, pamedek akan menemukan Lingga-Yoni di tengah Madya Mandala, simbol laki-laki dan perempuan sebagai asal mula kehidupan.

Selain itu, terdapat Bale Pasandekan dan palinggih pangayat Betara ring Gria Mas.

Di Utama Mandala, berdiri patung Dewa Siwa setinggi 10,5 meter, ditemani patung Ganesha, Dewi Parwati, dan Lembu Nandini, wahana Dewa Siwa.

Menariknya, di patung Dewi Parwati terdapat sumber mata air alami yang sering digunakan untuk upacara malukat.

Sejarah Berdirinya Pura Siwa

Pura Siwa didirikan pada tahun 1993 setelah ditemukan arca Dewa Siwa dari perunggu di lokasi tersebut.

Berdasarkan wangsit yang diterima Jero Mangku Sutarjana, pura ini mulai dibangun dengan dana pribadi pada tahun 2008.

Meskipun awalnya dibiayai sendiri, Pura Siwa kini terbuka untuk siapa saja, termasuk umat non-Hindu yang datang untuk meditasi dan penyucian diri.

Tradisi Malukat dan Larangan Sakral

Pamedek yang ingin malukat cukup membawa satu buah Bungkak Nyuh Gading dan bunga berjumlah ganjil.

Namun, ada larangan ketat: perempuan yang sedang datang bulan dilarang memasuki pura.

Jero Mangku Sutarjana menceritakan kisah seorang pamedek yang mengabaikan larangan ini dan mengalami kejadian mistis, mengingatkan pentingnya menjaga kesucian pura.

Piodalan dan Kehidupan Spiritual

Pura Siwa semakin ramai saat piodalan yang jatuh pada Purwaning Tilem Kapat. Namun, pamedek dipersilakan tangkil kapan saja.

Keunikan pura ini, termasuk pohon Don Kayu Sugih raksasa di bawah Situs Ida Betara Lingsir, menjadi daya tarik tersendiri bagi para pencari ketenangan batin dan spiritualitas.

Pura Siwa tak sekadar tempat persembahyangan, tetapi juga destinasi spiritual yang menawarkan kedamaian dan keajaiban. Apakah Anda siap menjelajah ke tempat suci ini dan merasakan energinya? *** 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #pupuan #hindu #Pura Siwa #malukat #tabanan