BALIEXPRESS.ID - Ketika mendengar kata "Bhaerawa," banyak orang masih diliputi rasa takut dan prasangka negatif. Namun, Ida Pandita Dukuh Celagi Dhaksa Dharma Kirti mencoba mengubah pandangan itu melalui buku terbarunya, Bhaerawa adalah Jalanku.
Buku ini diluncurkan pekan lalu di Plaza Renon, Denpasar, dengan tujuan meluruskan pemahaman yang salah tentang ajaran kuno ini.
Apa Itu Bhaerawa?
Menurut Ida Pandita, Bhaerawa adalah warisan leluhur yang mengajarkan pemujaan khusus kepada sepasang Dewa-Dewi, yang dianggap memiliki kedudukan lebih tinggi dibanding Dewa-Dewi lainnya.
Secara simbolis, "Bhaerawa" berarti "Raksasa," yang sebenarnya merujuk pada kemampuan luar biasa yang lahir dari pengendalian keinginan dan nafsu manusia.
“Bhaerawa adalah transformasi dari nafsu yang dikendalikan menjadi kekuatan luar biasa. Intinya adalah tentang keberanian dan kedisiplinan,” ungkap Ida Pandita.
Ajaran Cinta Kasih di Balik Stigma Negatif
Ajaran ini sering kali disalahpahami sebagai aliran sesat, terutama karena sifatnya yang eksklusif dan hanya diajarkan kepada murid pilihan.
Pada masa kerajaan, Bhaerawa bahkan menjadi bagian dari strategi bela negara.
Namun, upaya politik dan propaganda mengaburkan inti ajarannya, menjadikannya simbol ketakutan di mata masyarakat awam.
Ida Pandita menekankan bahwa ajaran ini justru berakar pada cinta kasih dan keberanian.
Salah satu contohnya adalah praktik "masegeh," dari persembahan kecil seperti segehan hingga caru besar untuk melatih keberanian, termasuk menghadapi ketakutan di tempat-tempat seperti kuburan.
Peran Guru dalam Ajaran Bhaerawa
Dalam ajaran Bhaerawa, keberadaan seorang guru sangat penting. Guru bertanggung jawab membimbing murid melalui ritual seperti pawintenan (ritual pemberkatan) dan memastikan murid memahami makna mantra sebelum melangkah ke tahap berikutnya.
“Mantra tidak boleh digunakan sembarangan. Pengucapan yang tepat dan pemahaman mendalam adalah kunci,” tegas Ida Pandita.
Bahkan, guru memiliki wewenang untuk menghentikan aliran kekuatan mantra jika murid menyalahgunakannya.
Ini dilakukan demi melindungi murid dari dampak negatif yang bisa timbul.
Rahasia yang Tersembunyi
Ida Pandita mengungkapkan bahwa hingga kini belum ada yang mencapai kesempurnaan dalam ajaran Bhaerawa.
Para praktisi sejati memilih untuk bersembunyi dan menjalankan ajarannya dalam keheningan.
“Mereka yang benar-benar tahu tidak akan berbicara, sedangkan yang berbicara belum tentu tahu,” ujarnya.
Menurutnya, ajaran Bhaerawa penuh dengan simbol yang harus dipecahkan dengan kecerdasan.
Ini membuat penganutnya tidak hanya harus pintar, tetapi juga cerdas dalam memahami makna tersembunyi di balik setiap ajaran.
Menepis Ketakutan, Menumbuhkan Keberanian
Bhaerawa bukanlah sekadar ritual, melainkan perjalanan spiritual untuk mengatasi ketakutan dan menemukan keikhlasan.
Dengan panduan seorang guru, para murid diajarkan untuk memahami dirinya sendiri dan alam sekitarnya, sehingga mampu mencapai pencerahan yang sempurna.
Buku Bhaerawa adalah Jalanku menjadi sebuah jendela untuk memahami ajaran yang sering disalahpahami ini.
Apakah Anda tertarik untuk mengetahui lebih dalam? Rahasia Bhaerawa kini terbuka bagi mereka yang berani mencari kebenaran. ***
Editor : I Putu Suyatra