BALIEXPRESS.ID - Sekaa Teruna Mekar Bhuana, Desa Adat Kedisan Kaja, Desa Kedisan, Tegallalang belajar membuat sarana upacara.
Salah satunya adalah Banten Pejati. Hal itu diungkapkan oleh Ketua ST Mekar Bhuana, Kedisan Kaja, Tegallalang, I Pande Made Oka Krisna.
Dia menjelaskan bahwa sekaa teruna desa setempat sangat konsen dengan ajaran Agama Hindu. Sehingga belajar membuat banten pejati dimasukkan dalam kegiatannya.
“Kenapa banten pejati?, karena salah satu benten yang sering digunakan umat Hindu dalam berbagai kegiatan adalah banten pejati ini,” paparnya pekan lalu.
Alumni UHN Bagus Sugriwa ini mengatakan secara etimologi pejati yang merupakan bahasa Bali berasal dari kata “jati” dan mendapat awalan “pa-“. Jati berarti sungguh-sungguh, benar-benar.
“Awalan pa- membentuk kata sifat, jati menjadi kata benda pajati, yang menegaskan makna melaksanakan sebuah pekerjaan yang sungguh-sungguh,” beber Pande.
Dalam kesempatan tersebut dia juga menerangkan bahwa banten pejati adalah sekelompok banten yang dipakai sarana untuk menyatakan rasa kesungguhan hati kehadapan Hyang Widhi dan manifestasiNya. *
Editor : Putu Agus Adegrantika