BALIEXPRESS.ID - Malelad adalah salah satu tradisi yang terdapat di Bali, yang terkait dengan upacara adat dan keagamaan di masyarakat Bali. Biasanya, malelad merujuk pada upacara atau ritual tertentu yang melibatkan masyarakat atau warga banjar.
Di Bali, banyak sekali tradisi adat yang bervariasi dari desa ke desa. Beberapa upacara penting yang sering ditemukan di Bali termasuk odalan, dan berbagai perayaan lainnya yang berhubungan dengan siklus kehidupan, alam, dan spiritualitas.
Seperti di Banjar Mas, Desa Sayan, Ubud, Gianyar, tetap mempertahankan tradisi malelad tersebut. Hal itu diungkapkan oleh Kelihan Adat Banjar Mas, I Made Sadawan. Dimana malelad sebagai bentuk rasa kebersamaan di masyarakat khususnya warga adat menuju ke pura sambil mengenakan pakaian adat ke pura.
“Pakaian adat Bali adalah simbol dari budaya dan tradisi yang sangat kaya, yang terkait erat dengan kepercayaan Hindu Bali. Pakaian adat Bali berbeda antara pria dan wanita, dan sering dipakai dalam berbagai upacara keagamaan, acara adat, serta perayaan seperti odalan, khususnya yang digunakan dalam malelad ini menggunakan warna putih kuning,” papar Sadawan.
Pakaian adat pria Bali biasanya terdiri dari beberapa elemen utama, yang mencerminkan keanggunan dan kesopanan dalam budaya Bali. Udeng adalah penutup kepala pria yang terbuat dari kain batik atau udeng putih.
Udeng ini dikenakan dengan cara dililitkan di kepala, dan sangat penting dalam upacara agama atau acara formal. Warna udeng dapat bervariasi tergantung pada status sosial atau upacara yang sedang berlangsung.
Selanjutnya ada saput adalah kain yang dililitkan di pinggang, seringkali terbuat dari kain batik atau songket dengan motif khas Bali. Saput biasanya dikenakan dengan cara melilitkan kain tersebut dari pinggang ke bawah hingga menutupi bagian kaki, dan dipadukan dengan kamen (ikat pinggang).
Sementara pakaian adat wanita Bali lebih beragam dan penuh warna. Mencerminkan keanggunan, kehalusan, dan kekayaan budaya Bali. Beberapa elemen utama pakaian adat wanita Bali adalah kebaya adalah baju atasan yang sering dikenakan oleh wanita Bali.
Kebaya ini biasanya berbahan tipis dan transparan, dan sering dihiasi dengan bordir atau ukiran halus. Kebaya bisa berbentuk panjang atau pendek, tergantung pada acara yang dihadiri.
Dalam upacara adat, baik pria maupun wanita mengenakan pakaian adat dengan cara yang lebih formal dan lengkap. Untuk upacara keagamaan, mereka sering memakai pakaian dengan warna-warna tertentu yang memiliki makna khusus dalam agama Hindu Bali, misalnya putih untuk kesucian, yang sering dipakai dalam upacara keagamaan.
Kuning atau emas untuk melambangkan kemuliaan dan keluhuran. Merah untuk keberanian atau untuk dewa tertentu. Pakaian adat Bali bukan hanya sekadar busana, tetapi juga sarat dengan simbolisme yang mengandung nilai-nilai agama, sosial, dan budaya. *
Editor : Putu Agus Adegrantika