BALIEXPRESS.ID – Setiap jiwa yang lahir di dunia ini (reinkarnasi) pastinya akan dilaksanakan sebuah upacara, khususnya di umat Hindu. Hal tersebut pun tertuang di dalam Yajur Weda, jiwa adalah aspek non-fisik dalam diri manusia yang sering kali dianggap sebagai pusat kesadaran, perasaan, dan kepribadian.
Penyuluh Agama Hindu, Kementerian Agama Kantor Kabupaten Gianyar, I Made Marjana. Menjelaskan jiwa sering dihubungkan dengan pikiran, emosi, dan ruh, yang menjadi inti dari identitas seseorang.
“Dalam banyak tradisi filosofis dan agama, jiwa dianggap sebagai unsur yang kekal atau abadi, yang dapat terpisah dari tubuh fisik,” papar Marjana.
Pemahaman tentang jiwa bervariasi tergantung pada pandangan budaya, agama, dan filsafat, namun pada umumnya jiwa dianggap sebagai bagian yang mendalam dan fundamental dalam diri manusia yang mempengaruhi tindakan, keyakinan, dan pandangan hidup.
Seperti yang tertuang dalam Yajur Weda, 12. 38 disebutkan, Punar asdya sadanam apaswa prthiwim agne, sese maturyatho pasthe 'ntarasyatham siwataman.
Artinya, Jiwa, mencapai rahim peranakan, berulang-ulang, tuahmu ada di ibumu, sebagai seorang anak tidur di pangkuan ibunya.
Bahwa jiwa yang telah berada di rahim seorang ibu merupakan jiwa yang telah hidup dalam badan wadag yang lain. Oleh karena itu jiwa tersebut harus menyesuaikan karma wasana yang mana yang akan dipilih untuk dapat lahir kembali ke dunia ini.
Semua ini akan terjadi berulang-ulang sesuai dengan waktu jiwa yang belum bisa menyatu dengan Hyang Widhi. Demikianlah jiwa yang akan selalu berulang-ulang untuk lahir kembali melalui seorang ibu yang akan mengantarkan lahir kembali ke dunia ini.
Kelahiran kembali, atau reinkarnasi, dalam ajaran Hindu adalah keyakinan bahwa jiwa (Atman) yang ada dalam diri setiap individu tidak mati setelah kematian, melainkan dilahirkan kembali dalam tubuh baru.
“Konsep ini berkaitan erat dengan hukum karma, yang menyatakan bahwa perbuatan baik atau buruk seseorang dalam kehidupan sebelumnya mempengaruhi kondisi dan takdirnya dalam kehidupan yang akan datang,” beber Marjana.
Proses kelahiran kembali ini disebut samsara, yang merupakan siklus kelahiran, kehidupan, kematian, dan kelahiran kembali yang terus berulang. Tujuan utama dalam ajaran Hindu adalah untuk mencapai moksa, yaitu pembebasan dari samsara.
Ketika seseorang mencapai moksa, jiwa mereka tidak lagi terikat pada siklus kelahiran kembali dan bersatu dengan Brahman, yaitu Tuhan yang Maha Esa atau realitas tertinggi.
“Pemahaman tentang kelahiran kembali ini mengajarkan bahwa hidup tidak hanya terbatas pada satu kali pengalaman, tetapi sebagai bagian dari perjalanan jiwa yang lebih besar menuju pencerahan dan pembebasan,” pungkas Marjana. *
Editor : Putu Agus Adegrantika