Budha cemeng klawu sebagai hari suci pemujaan dewi kesejahteraan menyematkan harapan masyarakat Hindu agar mendapatkan harta kekayaan mempertahankan hak miliknya.
Praktik menghabiskan uang dianggap tabu apalagi menghabiskan uang tanpa mendapatkan timbal balik baik berupa barang maupun jasa.
Kepercayaan tersebut memunculkan mitos bahwa pada hari ini masyarakat Hindu dilarang untuk membayar hutang dan meminjamkan uang.
Dikatakan Dosen Upakara, STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Dr. Wayan Murniti, M.Pd ada mitos bahwa orang yang melanggar dipercaya akan menjadi sosok yang boros dan susah mendapatkan rejeki.
Pada tingkat yang lebih ekstrim bahkan muncul mitos bahwa pada hari budha Cemeng Klawu dilarang untuk berbelanja.
Baca Juga: Makna Perayaan Budha Cemeng Klawu, Uang Dimaknai Berwarna Abu-Abu, Simbol Kekayaan adalah Alat
“Mitos tersebut cukup populer di tengah masyarakat Hindu, namun pada praktiknya tidak banyak yang meyakini dan melaksanakannya karena sangat sulit melalui hari normal tanpa transaksi keuangan,” paparnya.
Semua mitos tersebut berawal dari keyakinan bahwa pada hari ini dewi kekayaan sedang beryoga sehingga uang yang dimiliki hendaknya disimpan baik-baik dengan cara berhemat.
Dengan meminimalisir pengeluaran, diharapkan uang akan terkumpul semakin banyak dan kesejahteraan dapat terwujud.
Berkaitan dengan perayaan hari Budha Cemeng Klawu oleh masyarakat Hindu Bali, Dewi Kejehteraan dipuja dengan gelar Beliau Bhatari Rambut Sedhana.
Rambut Sedhana adalah dewata yang berambut uang, atau ada juga yang menyebut Rabut Sedhana yang berarti tempat uang tertingi.
Baca Juga: Pj Gubernur Bali Apresiasi Pelayanan Prima MPP Badung
Masyarakat Hindu Bali mewujudkan Bhatari Rambut Sedhana dalam wujud 2 arca dewi (Sri dan Sedhana) yang terbuat dari uang kepeng.
Uang Kepeng (pis bolong, jinah bolong) merupakan uang logam yang ditengahnya berlubang dan merupakan alat transaksi yang sah di Bali.
Uang kepeng memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali yaitu pada bidang perekonomian yaitu alat transaksi; bidang industri sebagai komoditas perdagangan; sarana ritual keagamaan berupa sesari dan arca; serta benda budaya seperti jimat dan alat permainan.
Selain itu, uang kepeng asli Bali dibuat menggunakan panca dhatu (besi, tembaga, perak, dan emas) sehingga sangat baik digunakan sebagai media pemujaan dan simbolisasi para dewa.
“Perujudan Sri Rambut Sedhana berupa arca yang indah dan gemerlap merupakan simbol bahwa kekayaan adalah media untuk menjaga keindahan dunia dengan menciptakan kehidupan yang sejahtera untuk umat manusia.” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika