BALIEXPRESS.ID - Keagamaan berupa upacara Dug-Dug Mong yang dilaksanakan di desa Desa Adat Batuyang, merupakan aktivitas keagamaan yang memiliki nilai budaya yang tinggi dan rutin dilakukan setiap tahun dan memiliki nilai historis.
Menurut warga setempat, Ni Wayan Eka Sumartini pada zaman dahulu dilakukan upacara Dug-Dug Mong kondisi masyarakat di desa Adat Batuyang pada saat itu bermacam-macam penyakit (merana) banyak bermunculan bahkan banyak yang meninggal dunia.
Hal itu disebabkan karena menurut kepercayaan masyarakat Desa Adat Batuyang secara topografi berada di pesisir selatan pulau Bali yang sangat dekat dengan pulau Nusa Penida.
Baca Juga: Mitos Budha Wage Kelawu, Pantang Belanjakan Uang, Ini Maknanya
Pulau Nusa Penida tempat bersemayamnya Ratu Gede Mecaling dalam masa-masa tertentu dan peralihan musim dari musim panas ke musim hujan tepatnya jatuh pada sasih keenem.
"Pada saat itu diyakini oleh krama Desa , Ide Ratu Gede Mecaling sebagai sesuhunan yang berstana di Nusa Penida tedun ke jagat Bali termasuk juga beliu tedun ke Desa Adat Batuyang," terangnya.
Kehadiran beliau diyakini dapat menyebarkan bermacam-macam penyakit terutama bagi krama Desa yang beraktivitas pada waktu-waktu peralihan, pada siang hari dan sandikala.
Kondisi seperti itu menyebabkan masyarakat Desa Adat Batuyang hubungannya tidak harmonis. Adanya mitos seperti itu dari tahun ke tahun menyebabkan tokoh-tokoh masyarakat, rohaniawan-rohaniawan dan Raja di Puri Desa Adat Batuyang mengadakan paruman dalam rangka mencari solusi mengatasi bermacam-macam penyakit tersebut.
Berdasarkan paruman itu, diputuskan untuk nedunan Ida Ratu Sakti, Ratu Mayun dan semua Tapakan Barong yang ada di Desa Adat Batuyang Tedun secara bersamaan mengelilingi Desa Adat Batuyang dimana setiap perempatan jalan yang ada di Desa Adat Batuyang menghaturkan sesajen.
Dimana upacara ini untuk menetralisir kekuatan negatif yang dianggap mengganggu kehidupan masyarakat desa adat. Upacara ini dilakukan setiap satu tahun sekali tepatnya pada Saniscara Kliwon Sasih kepitu.
Pada saat seluruh tapakan mengelilingi Desa Adat Batuyang diiringi dengan segala perlengkapan nyasa-nyasa (simbol-simbol Ketuhanan).
"Dalam upacara Dug-Dug Mong ini serta diiringi pula dengan tetabuhan dalam bentuk tambur (kendang) dan kemong sebagai ciri Ida Bhatara tedun. Tetabuhan ini memiliki suara yang khas (Dug...Dug.....Mong) sehingga upacara ini sampai sekarang disebut dengan upacara Dug-Dug Mong," pungkas Eka. *
Editor : Putu Agus Adegrantika