Proses memasak persembahan ini diyakini sudah sejak turun temurun.
Sarana sesajen yang dipersembahkan saat Ngusaba Tegen pantang menggunakan jajan atau ikan yang digoreng.
Sebaliknya, jajan atau ikan yang dipergunakan mesti dikuskus, direbus, dibakar atau di timbung atau di panggang.
Tokoh Adat Kedisan, I Ketut Jembawa hal ini sesuai dengan petikan lontar Purana Kedisan, yaitu:
”Yan sira arep anebus ikang Atma, dewa hyang pitara mwang sang palatra ri Bhatara, Yan sira ngupakara ri de Bhatari Dhurga mwang ri de Siva Guru maring Prajapati mwang Dalem Agung wenang ta sira angaturaken bhakti sarwa galahan kumulub, pinanggang, tan wenang ginoreng….
Artinya: “Jika engkau hendak menghaturkan banten penebusan kepada Bhatara untuk Atma, dewa hyang pitara, dan orang yang baru meninggal/belum diaben, jika engkau hendak menghaturkan banten untuk Bhatari dhurga dan kepada Dewa Siwa baik di Dalem prajapati dan dalem Agung, patutlah mempersembahkan bakti/banten serba bungkulan/utuh/tidak ditebih, yang direbus/kukus, dibakar/timbung, dan tidak dibenarkan di goreng…”
Hal ini sesuai dengan petunjuk Lontar Yadnya Prakerti dan Mpu Lutuk yang menjadi induk Upakara Banten di Bali.
Baca Juga: Pemkab Tabanan Targetkan 1.700 Vaksin PMK Tahap Pertama Bisa Tercapai
Aturan untuk Pura Dalem Prajapati memang diusahakan tidak digoreng, tapi di bakar, dipanggang di rebus, atau dikukus.
Ketut Jembawa menambahkan, banten utamanya menggunakan Bantal, Katipat, Jaje Uli yang dibuat agak besar bulat-sering disebut Tatongkok, pisang, buah sarwa galahan, dan lauk kuyuh (pianing deleg) atau ikan gabus (bahasa Indonesia) yang diambil dari Danau Batur.
“Bantal sebagai Simbol Purusa, katipat sebagai simbol Pradhana, sedangkan jaje Uli (tatongkok) sebagai simbol Penyempurnaan/suniya/windhu. Dalam pelaksanaannya banten paa kaum lelaki menggunakan kue Bantal, dan kaum wanita dengan banten Katipat,” katanya.
Menariknya, pada saat rangkaian upacara Ngusaba Tegen itu, dilakukan juga cacah jiwa dengan cara mengumpulkan uang kepeng.
Baca Juga: Pemkab Tabanan Targetkan 1.700 Vaksin PMK Tahap Pertama Bisa Tercapai
Cacah jiwa tersebut sama halnya dengan sensus yang penduduk yang dilakukan pemerintah, namun dalam tata cara berbeda.
Setiap pengayah harus mengumpulkan pis bolong kepada panitia Ngusaba Tatag ini.
Setelah uang tersebut terkumpul, panitia akan menghitung jumlah uang tersebut untuk mengetahui jumlah warga desa Kedisan. Kemudian uang kepeng tersebut akan dikubur di halaman pura Prajapati.
Penguburan uang tersebut memiliki simbol sebagai bentuk penyampaian jumlah penduduk yang berada di Desa Kedisan kepada Ida Bhatara yang berstana di pura dalam Prajapati tersebut.
Setelah upacara selesai adapun keunikan dari tradisi yaitu Upacara Mengadu telor atau (maluang taluh) berrmakna sebagai keharmonisan, kalah menang harus saling kedek pakenyung.
Dan Bantennya menggunakan bunga jempinis, yang memang mekar rata-rata pada sasih Karo-Katiga.
Secara filosofis pohon jempinis diberkati oleh dewa Siwa saat menjadi Rare Angon ke dunia untuk mencari empehan susu.
Baca Juga: Empat Kali Terpilih jadi Anggota DPRD Buleleng, Ini Profil Kadek Turkini Srikandi PDIP Buleleng
Sehingga ketika memuja Siwa Lingga daun, bunga, buah, dan kayunya memang menjadi bahan utama persembahan.
Sedangkan, daun serta bunga jempinis bermanfaat untuk mengusir roh- jahat jika dibakar, dalam lontar taru pramana dijelaskan demikian.
“Setelah perang telor selesai ada juga tradisi nunas paice ini khusus untuk kaum laki-laki (krama lanang), tetapi lauknya dan dagingnya bawa dari rumah, karena di desa hanya disediakan nasi dari pepesuan,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika