Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Topeng Sidakarya Gunakan Kereb Merajah, Simbol Penetralisir Energi Negatif

I Putu Mardika • Rabu, 5 Februari 2025 | 03:38 WIB

Topeng Sidakarya yang menggunakan kain merajah simbol penetralisir energi negatif
Topeng Sidakarya yang menggunakan kain merajah simbol penetralisir energi negatif
BALIEXPRESS.ID-Ciri khas dari Topeng Sidakarya adalah memakai kain  krudung  merajah sebagai  simbol  dari  Tri Kona, lahir, hidup dan kematian sebagai lingkaran yang tidak pernah putus.

Seniman Topeng Sidakarya, Nyoman Suardika mengatakan tiga hal tersebut ada dalam yadnya, dan   Dalem   Sidakaryalah   yang   berfungsi   untuk melebur segala prosesi yadnya sehingga semua berakhir dengan iklas dan tiada keterikatan akan apa yang dipersembahkan.

“Kerudung merajah yang mengandung makna untuk menutupi kekurangan sosok wajah brahmana yang wajahnya terlihat seram dan dijadikan simbol untuk menetralisir aura negative,” ujar pria yang juga Ketua PHDI Kecamatan Buleleng ini.

Penari  Topeng Sidakarya biasanya  membawa  bokoran  berisi  canang sari,  dupa,  beras  kuning,  sekar  ura,  sebagai  simbol  kedermawanan   dan   penuh   dengan   berkah   serta   karunia.  

Apa   yang   dibawakan   akan   membawa   pada    kemakmuran    dan    kesejahteraan    bersama.

Sedangkan baju Bluduru difungsikan  untuk  menutup  badan/tubuh penari simbol dari kesopanan dan pengendalian indria.

Kamen Putih Lelancingan difungsikan untuk menutup bagian bawah  tubuh,  warna  putih  simbol  kesucian,  dan lelancingan adalah simbol kepurusan (maskulin).

Celana  Panjang  Putih  difungsikan  untuk  menutup  bagian   kaki,   simbol   kesopatan   dan   kemana   kaki   sang Brahmana melangkah  diikuti  oleh  kesucian  itu  sendiri.

Badong difungsikan untuk menutup leher sampai dada penari, simbol dari penguasaan ilmu pengetahuan.

“Angkep Pala digunakan untuk  menutupi  pala/bahu, simbol dari kegagahan dan kemuliaan,” katanya lagi.

Busana yang tidak boleh ditinggalkan Saput Petopengan digunakan untuk menutup badan  penari  topeng,  simbol  dari  pengendalian  diri,  kesederhanaan dan selalu melihat ke dalam diri.

Angkep Tundu difungsikan untuk menutupi punggung penari, simbol dari sudah tunduknya rasa ego dan tidak lagi membicarakan keburukan orang dari belakang.

Gelang Kana difungsikan dan ditempatkan pada kedua tangan penari, simbol kedermawanan.

Gelang    Batis    difungsikan dan  diletakan pada pergelangan  kaki,  simbol  dari  kehati-hatian  dalam  melangkah, dan  kemana  sang  Brahmana melangkah selalu mendatangkan kemuliaan.

Sabuk difungsikan untuk mengikat pinggang, simbol kerendahan hati, dan pengendalian indria. Keris ditempatkan   dipunggung   penari,   dan   keris   memiliki beragam makna sebagai simbol Sanghyang Rwa Bhineda, dan ketajaman intelek/budhi.

Gelungan  Sesobratana,  diletakan  di  kepala,  simbol  kemuliaan dan kesederhanaan.

Daun Girang, Bulu Merak difungsikan sebagai hiasan telinga  penari,  simbol  keriangan dan  bulu  merak  simbol  kemuliaan  demikian  juga  Dalem  Sidakarya  sudah mampu menundukan kecongkakaknnya.

“Benang  Tridatu, simbol Sanghgyang  Tripurusa,  dan menyucikan  ketiga  alam,  alam  bawah,  tengah  dan  atas,” tutupnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#busana #tri kona #Topeng Sidakarya #Kereb