Seniman Topeng Sidakarya, Nyoman Suardika mengatakan tiga hal tersebut ada dalam yadnya, dan Dalem Sidakaryalah yang berfungsi untuk melebur segala prosesi yadnya sehingga semua berakhir dengan iklas dan tiada keterikatan akan apa yang dipersembahkan.
“Kerudung merajah yang mengandung makna untuk menutupi kekurangan sosok wajah brahmana yang wajahnya terlihat seram dan dijadikan simbol untuk menetralisir aura negative,” ujar pria yang juga Ketua PHDI Kecamatan Buleleng ini.
Penari Topeng Sidakarya biasanya membawa bokoran berisi canang sari, dupa, beras kuning, sekar ura, sebagai simbol kedermawanan dan penuh dengan berkah serta karunia.
Apa yang dibawakan akan membawa pada kemakmuran dan kesejahteraan bersama.
Sedangkan baju Bluduru difungsikan untuk menutup badan/tubuh penari simbol dari kesopanan dan pengendalian indria.
Kamen Putih Lelancingan difungsikan untuk menutup bagian bawah tubuh, warna putih simbol kesucian, dan lelancingan adalah simbol kepurusan (maskulin).
Celana Panjang Putih difungsikan untuk menutup bagian kaki, simbol kesopatan dan kemana kaki sang Brahmana melangkah diikuti oleh kesucian itu sendiri.
Badong difungsikan untuk menutup leher sampai dada penari, simbol dari penguasaan ilmu pengetahuan.
“Angkep Pala digunakan untuk menutupi pala/bahu, simbol dari kegagahan dan kemuliaan,” katanya lagi.
Busana yang tidak boleh ditinggalkan Saput Petopengan digunakan untuk menutup badan penari topeng, simbol dari pengendalian diri, kesederhanaan dan selalu melihat ke dalam diri.
Angkep Tundu difungsikan untuk menutupi punggung penari, simbol dari sudah tunduknya rasa ego dan tidak lagi membicarakan keburukan orang dari belakang.
Gelang Kana difungsikan dan ditempatkan pada kedua tangan penari, simbol kedermawanan.
Gelang Batis difungsikan dan diletakan pada pergelangan kaki, simbol dari kehati-hatian dalam melangkah, dan kemana sang Brahmana melangkah selalu mendatangkan kemuliaan.
Sabuk difungsikan untuk mengikat pinggang, simbol kerendahan hati, dan pengendalian indria. Keris ditempatkan dipunggung penari, dan keris memiliki beragam makna sebagai simbol Sanghyang Rwa Bhineda, dan ketajaman intelek/budhi.
Gelungan Sesobratana, diletakan di kepala, simbol kemuliaan dan kesederhanaan.
Daun Girang, Bulu Merak difungsikan sebagai hiasan telinga penari, simbol keriangan dan bulu merak simbol kemuliaan demikian juga Dalem Sidakarya sudah mampu menundukan kecongkakaknnya.
“Benang Tridatu, simbol Sanghgyang Tripurusa, dan menyucikan ketiga alam, alam bawah, tengah dan atas,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika