Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna Pelinggih Sedahan Panglurah, Terungkap dalam Lontar Sarining Kanda Empat, Menjaga Roh Leluhur Pitara

I Putu Mardika • Jumat, 7 Februari 2025 | 05:24 WIB

 

Pelinggih Sedahan Panglurah atau Sedahan Ngurah Agung
Pelinggih Sedahan Panglurah atau Sedahan Ngurah Agung
BALIEXPRESS.ID-Umat Hindu di Bali umumnya memiliki Pelinggih Sedahan Panglurah atau Sedahan Ngurah Agung di areal utama mandala (merajan).

Pelinggih ini diyakini sebagai penjaga manusia baik saat masih hidup maupun sudah meninggal dunia.

Bahkan, diyakini, jika pelinggih Panglurah merupakan penjaga roh leluhur maupun pitara yang sudah disucikan, sehingga berada di sebelah kiri pelinggih rong tiga.

Penekun Lontar, Ida Bagus Made Baskara dari Geriya Gunung Kawi Mauaba, Tampak Siring, Gianyar menyebutkan Pelinggih Sedahan Ngurah Agung, merupakan pelinggih penting yang ada di areal perumahan.

Pelinggih Sedahan Ngurah Agung di sanggah pemerajan, posisinya berada di sebelah kiri pelinggih kemulan (rong tiga).

Biasanya berbentuk pelinggih beraptap atau gegedongan.

“Dari segi bentuk bangunan mirip dengan penunggun karang. Hanya saja, Pelinggih Sedahan Ngurah Agung tidak beratap dengan ijuk,” jelasnya.

Ia menyebut, Pelinggih Sedahahan Panglurah disebutkan dalam berbagai sastra suci yang menjelaskan detail baik fungsi dan makna dari Pelinggih Ngurah Agung.

Baca Juga: Sosok Dekna Purnamasari: MC, Model, dan Ratu Kontes Modifikasi yang Multitalenta!

Termasuk, pertimbangan kenapa dibangun juga di areal utama mandala dan berada di sebelah kiri pelingih rong tiga.

Dalam Lontar Sarining Kanda Empat, disebutkan bahwa manusia sejak berada di dalam kandungan sudah dijaga oleh Sang Catur Sanak.

Beliau menjaga sejak menjadi embrio agar tumbuh menjadi bayi yang sehat dan selamat.  Sang Catur Sanak diposisikan pada tubuh ibu khususnya pada pusar

“Saat bayi lahir, sang catur sanak menjaga bayi. Maka dari itu ada prosesi nanem ari ari, di letakkan di pintu masuk rumah, baik di sebelah kanan atau kiri tergantung dengan jenis kelamin. Ari-ari juga diyakini sebagai simbol bahwa Sang Catur Sanak tidak boleh jauh dari bayi

Menariknya, dalam lontar tersebut dijelaksan bahwa ketika manusia hidup dan mati, Sang Catur Sanak tetap menjaganya.

Ketika manusia mati, lalu dikubur, namun belum melalui upacara pengabenan, maka Sang Catur Sanak akan berada di areal sedahan atma di setra. Disanalah Sang roh dijaga oleh Sang Catur Sanak.

Baca Juga: Cerita Ayah Korban Penculikan Anak di Bali terhadap Kinerja Pelaku selama Dua Bulan Bekerja Bersamanya

Ketika orang yang telah meninggal diupacarai dengan pengabenan, maka Sang Catur Sanak akan tetap menjaga, di pelinggih areal Gedong Dalem.

Sehingga di Dalem ada pelinggih Anglurah. Nah disanalah Sang Catur Sanak menjaga roh tersebut.

“Ketika roh yang telah meninggal sudah diupacarai ngeroras, barulah roh tersebut akan dilinggihkan di rong tiga. Maka Sang Catur Sanak juga akan disucikan dan distanakan di Pelinggih Sedahan Anglurah,” ungkapnya.

Dikatakan Ida Bagus Bhaskara, dalam lontar diuraikan bahwa Sang Catur Sanak itu menjaga manusia baik saat semasih hidup maupun ketika sudah meninggal.

“Jadi sedahan Anglurah bertugas menjaga roh leluhur kita. Yang berada di alam pitara. Sehngga tetap berada di sebelah kiri rong tiga,” paparnya.

Selanjutnya, dalam Lontar Indik Brata yang khusus membahas tapa brata juga diuraikan tentang Sedahan Anglurah. Dalam lontar dijelaskan bahwa Sedahan Anglurah juga bergelar Sedahan Brata. Menurutnya, pelinggih inilah yang patut dipuja ketika ada orang yang melakukan tapa brata tertentu

Semisal, jika ada yang meberata (melakukan brata atau pantangan) untuk memohon kesehatan. Maka sebelum melakukan brata, sebaiknya terlebih dahulu menghaturkan nasi kepel yang dialasi daun base (sirih). Sarana tersebut lalu dihaturkan di pelinggh Anglurah Sedahan Ngurah Agung.

Begitu juga apabila umat Hindu merayakan Catur Brata Penyepian, maka dirasa tepat sebelum memulai tapa brata terlebih dahulu menghaturkan banten di Pelinggih Sedahan Brata. Tujuannya tentu untuk memohon agar catur brata penyepaia bisa berjalan lancar.

Baca Juga: Geger di Sanur! Dikiranya Boneka, Ternyata Bule Perancis Tewas Gantung Diri di Pohon Kamboja: Ada Surat dan Uang 

“Ketika ada umat mengalami masalah, sakit, maka bisa memohon pada pelinggih sedahan brata, dengan cara menghaturkan nasi kepel yang dialasi daun dadap kemudian dilinggihkan di sedahan anglurah sambil memhon agar diberikan kesembuhan, persoalan ada jalan keluar. Sebaiknya gunakan saa (ucapan) saja lebih sederhana,” paparnya. 

Sedahan anglurah agung juga dalam lontar disebutkan sebagai pelinggih Bhuta Raja. Pelinggih ini merupakan pelinggih khusus yang berada di areal utamaning mandala.

Bhuta Raja ini dimaknai sebagai kekuatan energi besar. Sedangkan  raja dimaknai sebagai penguasa.

Ida Bagus Made Baskara  menjelaskan, dalam teks suci, disebutkan bahwa pelinggih yang ada di pemerajan, selain ngelihinggang Ida Bhatara seperti di rong tiga ada juga kekuatan Sang Hyang Tiga wisesa, dan Sang Hyang Rambut Sedana.

Ista dewata ini diyakini memiliki rerencang berupa bhuta kala. Terutama kekuatan Bhuta Bucari. Jadi fungsi pelinggih tugu Panglurah adalah sebagai penguasa dan menjaga supaya kekuatan dari bhuta raja tidak menggangu pemiliki rumah.

Termasuk menjaga rerencangan pelinggih yang ada di areal pemerajan.

Baca Juga: Kian Memprihatinkan, Lapas Bali Over Kapasitas 186 Persen, Tertinggi Narapidana Narkoba, Tercatat 3 Lab Narkoba Digrebek

Lalu apa bedanya tugu karang dengan Pelinggih Panglurah? Dikatakan Ida Baskara bahwa ada perbedaan tugas dan fungsinya dalam berbagai sastra lontar. Ketika di areal sanggah pemerajan, maka fungsi tugu Anglurah adalah kekuatan Bhuta Bucari.

Sedangkan tugu Karang yang ada di areal madya mandala di areal pawongan, sebagai penguasa kala bhucari. Sehingga di arah banunan padu raksa berada di arah kala raksa atau kaja kauh

“Ada juga kekuatan yang harus di netralisir di Lebuh dan disana ada kekuata Durga Bucari. Maka dari itu wajib melakukan persembahan di areal lebuh. Kemudian di tugu karang sebagai kekuatnan Kala Bucari dan di Anglurah sebagai kekuatan dari Bhuta Bucari,” tutupnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#lontar #pelinggih #Lontar Sarining Kanda Empat #hindu #catur #Panglurah