Ada beragam sarana yang digunakan dalam melaksanakan ritual pasupati. Sarana atau banten yang digunakan umumnya disesuaikan dengan tingkatan dan kemampuan sang yajamana.
Yakni tingkatan alit (kecil), madya (sedang) dan ageng (utama).
Dosen Teologi STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Komang Heriyanti mengatakan, banten pasupati tingkatan ageng bisa menggunakan sarana berupa bebangkit pule gembal, pemelaspas medaging ayam putih, peras sodan daksina tulung urip, suci, ulam ayam putih, pamor, getih, kunyit, adeng, cenana, beras kuning, nyahnyah gringsing, caru manca sata.
Banten pasupati untuk tingkatan madya yakni pulegembal, caru ayam brumbun asiki, pemelaspas medaging ayam putih, peras sodan daksina, tulung urip, suci, ulam ayam putih, pamor, getih, kunyit, adeng, cenana, beras kuning, nyahnyah gringsing.
Banten pasupati alit yakni pengambyan tumpeng pitu siki lan pemelaspas. Pengurip-urip manca warna, banten pasupati, pras daksina, dapetan tumpeng barak tebasan tumpeng barak, pras soda, daksina, ulam ayam biying.
Heri mengatakan di dalam pasupati ada juga proses pengurip-hurip pratima dengan menggunakan lima jenis warna pengurip-urip yakni pamor, getih, kunyit, adeng, cenana, beras kuning nyahnah gringsing (kapur sirih, darah, kunir, arang, cendana,beras kuning dan biji-bijian).
“Secara filosofi panghurip-hurip melambangkan Panca Dewata yakni darah/getih lambang dewa Brahma, Arang/adeng lambang dewa Wisnu dan kapur atau pamor lambang dewa Iswara. kunir/kunyit lambang dewa Mahadewa, dan beras kuning dan nyahnyah gringsing lambang dewa Siwa,” jelasnya.
Kelima Dewa tersebut adalah manifestasinya Tuhan yang disebut Panca Dewata. Beliau adalah jiwatma dari alam semesta.
Sehingga mantram yang diucapkan saat ritual pasupati yaitu:
“Om dewa-dewa tri dewanam, Trimurti tri lingganam, Tripurusa suddha nityam, sarva jagat jiwatmanam”
Yang artinya Om Para dewa utamanya tiga dewa, Trimurti (Brahma Wisnu, Siwa) adalah Trilingga, (beliau) Tri purusa yang suci selalu, adalah roh (atma) alam semesta dengan isinya.”
Di dalam Upacara Pasupati Sanghyang Siwa sebagai tujuan yang tertinggi diyakini sebagai Tuhan yang berpribadi dengan suku kata OM berjumpa dengan Tri Aksara Ang, Ung dan Mang.
Ini menandakan Upacara pasupati sebagai jalan untuk meningkatkan sradha (keyakinan) dan bakti menuju Sanghyang Siwa atau Pasupati.
“Tanda-tanda upacara pasupati berhasil apabila ada muncul kegaiban-kegaiban misalnya ada yang trance, munculnya sinar, adanya getaran gaib dan sebagainya,” sebutnya.
Dalam Lontar Tutur Pasupati disebutkan bahwa upacara pasupati merupakan momentum untuk mendapatkan kekuatan Dasa bayu atau sepuluh kekuatan alam. Dalam aksara terlukiskan I, A, KA, SA, MA, PA, LA WA,YA,U.
Dalam bentuk magisnya ditambah dengan Ng, sehingga menjadi Ing, Ang, Kang, Sang, Mang, Pang, Lang, Wang, Yang, Ung. Dasa bayu artinya sepuluh angin/kekuatan yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan.
Kesepuluh angin itu adalah Prana yaitu angin yang bertahta dua belas inci dari kepala. Udana adalah angin yang bertempat tinggal dalam kepala.
Samana adalah angin yang bertempat tinggal dari langitlangit mulut sampai dengan ke jantung. Apana adalah angin yang bertempat tinggal di dalam perut sampai ke dubur.
Vyana adalah angin yang bertempat tinggal pada semua anggota tubuh. Naga adalah angin yang naik ke atas sampai ke langitlangit mulut. Kurma adalah angin yang tinggal di langit-langit dan di hati.
Krkara adalah angin yang tinggal di buah pelir, di limpa, di hati dan langit-langit.
Devadatta adalah angin yang tinggal dalam daging dan di perut (kisuting weteng). Dhananjaya adalah angin yang meresapi darah daging dan kulit.
Kekuatan Dasabayu inilah yang menyebabkan manusia bertenaga.
Jadi, dasabayu berarti sepuluh tenaga alam semesta. Secara filosofi pemanggilan dasabayu melalui upacara pasupati dimaksudkan agar senjata, pratima, Arca dan benda-benda sakral itu berdaya hidup, kokoh, dan kuat.
“Sehingga sesuai dengan fungsi dan makna banten bayuan yang merupakan ayaban pada pasupati pratima yang sedang pasupati. Dalam Pasupati energi alam sudah dimasukan ke dalam Pratima atau benda-benda sakral,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika