Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Aci Kebo Dongol di Pura Dalem Bangun Sakti, Dilaksanakan saat Buda Wage Langkir, Gunakan sarana dari Adonan Ketan  

I Putu Mardika • Sabtu, 15 Februari 2025 | 21:02 WIB

 

Tradisi Aci Kebo Dongol di Pura Dalem Bangun Sakti di Desa Adat Kapal, Badung
Tradisi Aci Kebo Dongol di Pura Dalem Bangun Sakti di Desa Adat Kapal, Badung
BALIEXPRESS.ID-Tradisi Kebo Dongol merupakan ritual sakral yang digelar setiap enam bulan sekali di Pura Kahyangan Jagat Dalem Bangun Sakti, Banjar Basang Tamiang, Desa Adat Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung.

Upacara ini dilaksanakan bersamaan dengan Piodalan yang jatuh pada Hari Buda Wage Langkir dan berlangsung selama tiga hari.

Pura Dalem Bangun Sakti sendiri disungsung oleh ribuan kepala keluarga yang tersebar di seluruh pelosok Pulau Bali.

Pada puncak upacara, ribuan umat Hindu dari berbagai daerah berdatangan untuk menghaturkan sembah bhakti kepada Ida Bhatara.

Bendesa Adat Kapal Ketut Sudarsana menjelaskan keberadaan Pura Bangun Sakti yang menjadi tempat pelaksanaan Tradisi Kebo Dongol diyakini berdiri pada tahun 1108.

Pura ini  disebutkan dalam prasasti disebutkan Aswa Sunya Eka Bhumi yang artinya 1108.

Prasasti ini dikeluarkan oleh Sri Aji Jaya Pangus pada saat berkuasa tahun 1103 Saka. Pura ini konon dulunya adalah tempat pasraman para yogi.

“Sesuai sumber, dulu ada bangunan yang pada jamannya ada perang antar suku, sehingga banyak yang mencari perlindungan di tempat ini, dan tidak bisa dikejar musuh.

Sehingga dibangun tempat pemujaan atas perintah raja Bali dan disebut Pura Dalem Bangun Sakti.

Ia menambahkan, nama Dalem tidak ada kaitannya dengan kahyangan tiga. Dalem yang dimaksud adalah penguasa yang berarti wisesa.

Sehingga disebut dalem Wisesa. “Inilah yang membuat nama pura ini ada kata Dalem,” sebutnya.

Dikatakan Sudarsana, Tradisi Kebo Dongol menjadi salah stau ritual yang dilaksanakan di Pura Dalem Bangun Sakti. Proses dari tradisi ini dilaksanakan dalam berbagai tahapan.

Rangkaian persembahyangan ini berlangsung hingga malam hari sebelum prosesi utama dimulai.

Kebo Dongol dalam tradisi ini bukanlah kerbau sungguhan, melainkan sebuah bentuk simbolis yang dibuat dari adonan ketan. Hanya pemangku pura yang diperkenankan untuk membuatnya.

Kebo Dongol dihias dengan bunga kembang sepatu merah (pucuk bang) serta dilengkapi dengan sanan penyangga dari tebu ratu.

Selain itu, dalam ritual ini juga digunakan bahan nginang seperti sirih, pamor, gambir, tembakau, dan buah pinang.

Prosesi ritual dimulai pukul 23.00 Wita di Bale Pengaruman, tempat para pemangku, serati, dan pengayah berkumpul untuk memuja Ida Bhatara.

Upacara ini berlangsung dengan penuh kekhusyukan, menandakan kesakralan dari tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Sebagai tradisi sakral, perangkat upacara yang terlibat dalam prosesi ini pun dipilih dengan ketat.

Salah satu peran penting adalah pembawa Kebo Dongol, yang hanya boleh dilakukan oleh laki-laki warga Desa Adat Kapal yang telah berkeluarga dan merupakan keturunan dari pembawa sebelumnya.

Jika ada pergantian, harus dilakukan upacara khusus sebagai bentuk pengukuhan.

Prosesi Acı Kebo Dongol diawali dengan pujawali di Pura Dalem Bangun Sakti.

Setelah itu, rangkaian tarian ritual dimulai dengan Tari Pendet, Tari Rejang Dewa, dan puncaknya adalah Tari Rejang Kebo Dongol.

Tarian ini dijadwalkan dipentaskan pada tengah malam atau lebih, sesuai dengan petunjuk spiritual (pawisik) yang diterima.

Dalam prosesi ini, digunakan sarana ritual berupa jajan berbentuk kerbau serta Pedang Sudamala.

Tari Kebo Dongol sendiri melibatkan 33 penari yang masing-masing membawa keris, dua orang pembawa tombak, dan satu orang yang bertugas sebagai Pre Kulit dengan membawa Pedang Sudamala.

Sebelum digunakan dalam tarian, jajan berbentuk kerbau terlebih dahulu dihaturkan di Madya Mandala, tepatnya di pelinggih Ratu Nguug Jagat.

Sementara itu, Pedang Sudamala diupacarai di Pelinggih Sang Hyang Pasupati yang berada di Utama Mandala.

Puncak ritual berlangsung di Ngubeng Mandala, di mana jajan kerbau sebagai simbol Predana dan Pedang Sudamala sebagai simbol Purusa dipertemukan dalam prosesi sakral.

Saat puncak acara, jajan kerbau akan ditusuk menggunakan Pedang Sudamala, yang kemudian memicu para penari mengalami kondisi trans.

Masyarakat yang mengikuti ritual ini sesekali akan berseru mesuryak sebagai bentuk partisipasi spiritual.

Setelah prosesi penusukan, jajan seberat tiga kilogram tersebut akan diperebutkan oleh warga untuk dikonsumsi. Tradisi ini melambangkan perjuangan dalam memperoleh kehidupan yang lebih baik.

“Selain itu, tradisi ini juga dipercaya mampu mengusir penyakit, melindungi pertanian dari hama, serta memberikan berkah bagi masyarakat Desa Adat Kapal,” tutupnya. (dik)

 

 

Editor : I Putu Mardika
#mengwi #Kebo Dongol #desa adat kapal #Dalem Bangun Sakti #pura #tradisi #badung