Tradisi ini digelar setiap lima tahun sekali pada Purnama Kalima, tepatnya Buda Paing Landep, di Pura Puseh Asti Gebog Satak Tiga Buungan.
Tokoh Adat Gebog Satak Tiga Buungan I Wayan Rauh menjelaskan, desa ini terdiri dari sembilan desa adat, yaitu Banjar Buungan, Tiga, Temaga, Linjong, Kayuambua, Malet Tengah, Malet Kuta Mesir, Pukuh, dan Penglumbaran Kangin.
Dengan jumlah ratusan kepala keluarga sebagai pengarep, masyarakat desa ini memiliki satu kesatuan dalam adat istiadat.
Tradisi Ngusaba Nyepeg Penjor ini dilaksanakan dengan sarana utama bambu. Pembuatan Penjor diawali oleh sekelompok laki-laki yang belum menikah (Truna).
Proses ini dilakukan dengan penuh kesakralan, sehingga wanita (Krama istri) dilarang melihat atau melintas di sekitar lokasi pembuatan Penjor.
Setelah Penjor selesai dihias, isinya disucikan dengan Tirtha yang bersumber dari Pasiraman Toya Slaka di Desa Adat Buungan.
Proses pengambilan Tirtha pun dilakukan dengan penuh aturan, termasuk larangan bagi wanita untuk melihat atau berpapasan dengan peserta ritual.
“Bahkan melintas di sekitar lokasi pembuatan juga tidak diperkenankan agar menjaga kesucian Penjor tersebut. Ruas atau lawas bambu Penjor sesuai dengan bakti, jika memakai kebo ruas 11 lawas jika tidak menggunakan kebo 9 lawas diitung dari buluh. Penjor Pegamaan di sisi kanan 6 lawas dan dari sisi kiri 5 lawas,” sebutnya.
Pada puncak upacara, Penjor yang sudah berisi Tirtha dipotong dan air suci tersebut digunakan untuk menyucikan linggih Ida Sesuhunan.
Tiga hari setelah puncak karya, Tirtha yang tersisa akan dibagikan ke lahan pertanian dan peternakan.
Pelaksanaan upacara ini dilakukan secara bertahap, mulai dari dasar pelaksanaan, urutan ritual, perlengkapan, hingga pemimpin upacara (Manggala Upacara).
Prosesi awal upacara dimulai dengan Matur Piuning, yang dilakukan 22 hari sebelum puncak acara.
Matur Piuning dipimpin oleh Jro Kubayan, Bandesa Adat, dan panitia upacara dengan menghaturkan Canang Piuning di berbagai pelinggih. Ritual ini bertujuan untuk memohon restu agar upacara berjalan lancar.
Matur Piuning di Pura Puseh Asti Gebog Satak Tiga Buungan juga disebut sebagai Nangining, yakni bentuk pemberitahuan kepada Ida Bhatara bahwa upacara akan dilaksanakan.
Prosesi selanjutnya mencakup beberapa tahap penting, seperti Nanceb Tetaring, Nunas Sela, Mecaru, Nunas Tirtha Kekuluh, Ngemedalang Ida Bhatara, dan Melasti. Setiap tahapan memiliki makna tersendiri dalam menyucikan ritual ini.
Puncak upacara diawali dengan pengambilan bambu untuk Penjor oleh Truna Adat Buungan. Sebelum ditebang, bambu diberi persembahan Banten Piuning, Canang Ajuman, dan Segeh yang dipimpin oleh Jro Guru Sinar.
Bambu tidak boleh menyentuh tanah sebelum dihias oleh Jro Truna Buungan.
Dalam proses menghias Penjor, area tersebut ditutupi kain dan dikelilingi lima lidi Ron yang diikat dengan benang Tridatu.
Setelah dihias, Penjor diisi dengan Tirtha yang ditunas oleh Jro Truna dan Jro Bau di taman Pertirthaan pada dini hari sekitar pukul 03.00 Wita agar tidak terlihat oleh siapapun.
Penjor Pegamaan harus sudah ditempatkan sebelum pukul 12.00 oleh Jro Truna Adat Buungan.
“Setelah itu, Penjor dilengkapi dengan Pala Gantung serta alat-alat pertanian, lalu dikelilingi lidi Ron. Jro Kubayan kemudian melaksanakan Pemlaspas sebagai bagian dari penyucian Penjor,” paparnya.
Prosesi dilanjutkan dengan Rejang dan perang-perangan oleh seluruh Pengempon Pura Puseh Asti Gebog Satak Tiga Buungan.
Sebelum pelaksanaan Pegamaan, sesaji Banten Piuning dihaturkan dan area ritual dipagari dengan cabang pohon Dapdap.
Berbagai jenis banten digunakan dalam upacara ini, termasuk Soroan Alit, Bayuh Kebo, Bayuh Babi, dan Segeh Polos yang dipersembahkan di berbagai pelinggih.
Ritual ini merupakan warisan turun-temurun yang mencerminkan keyakinan dan bakti masyarakat kepada Ida Bhatara di Pura Puseh Asti Gebog Satak Tiga Buungan.
Bhakti Dewa Hyang, yang dilaksanakan sehari sebelum Ida Bhatara Nyineb, menjadi penutup rangkaian upacara. Persembahan yang digunakan antara lain Soroan Alit Manuk Pagayungan dan Tebasan.
Setelah Ida Bhatara Mesineb, dilakukan Bakti Prani yang mencakup persembahan Segeh Agung dan Pesambleh.
“Acara diakhiri dengan Upacara Mlayagang tiga hari setelah Nyineb, diikuti dengan Mencar Tirtha Penjor Pegamaan yang dibagikan kepada masyarakat untuk disiramkan ke lahan pertanian mereka,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika