BALIEXPRESS.ID - Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, terdapat sebuah pura atau tempat suci Hindu megah yang menyimpan sejarah panjang dan nilai spiritual tinggi.
Pura Penataran Luhur Medang Kamulan, yang terletak di Dusun Buku, Desa Mondoluku, Kecamatan Waringinanom, Kabupaten Gresik, berdiri di atas lahan seluas 2 hektar.
Namun, siapa sangka, pura yang sarat dengan nilai sejarah ini kini hanya diempon oleh 7 kepala keluarga (KK) saja!
Dari 75 KK Menjadi 7 KK, Apa yang Terjadi?
Menurut Romo Sepuh Satya Bhuana Medang Kemulan, pada era 1980-an, pura ini masih diempon oleh 75 KK umat Hindu.
Namun, berbagai faktor seperti ekonomi, administrasi, dan lingkungan menyebabkan jumlah penganut yang menetap di sekitar pura semakin menyusut.
Sejak 2010, hanya tersisa 7 KK yang masih setia menjaga warisan leluhur ini.
"Dulu ada berbagai kendala, tapi sekarang toleransi sudah sangat baik. Hubungan antar umat luar biasa harmonis. Bahkan, pengurus pertama pura ini justru dari kalangan Muslim," ungkap Romo Sepuh yang memiliki nama welaka I Kadek Sumanila.
Baca Juga: Dua Bandit Motor Matic Ditangkap, Jual Hasil Curian ke Madura
Keunikan Pura Medang Kamulan: Warisan Leluhur yang Tetap Lestari
Pura Medang Kamulan memiliki konsep yang berbeda dibandingkan pura pada umumnya.
"Pura ini murni berbasis leluhur. Ada Padma dan Candi yang dominan dengan kultur leluhur sesuai dengan nama Medang Kamulan," jelas Romo Sepuh yang juga seorang Perwira Marinir TNI AL di Surabaya.
Luas keseluruhan pura mencapai 2 hektar, termasuk Pesanggrahan Romo Sepuh yang dihuni oleh 3 KK bersama Jro Mangku dan Seksi Konsumsi.
Selain sebagai tempat peribadatan, pura ini juga menjadi simbol penghormatan kepada leluhur.
"Pura ini mengajarkan kita untuk selalu ingat kepada leluhur. Selama masih punya orang tua dan mertua, rawatlah mereka dengan baik. Sebab, apa yang kita tanam saat ini, itulah yang akan kita petik nanti," pesannya.
Harmoni Toleransi: Ratusan Muslim Ikut Prosesi Melasti
Meski jumlah umat Hindu yang ngempon pura ini semakin sedikit, toleransi di kawasan pura tetap terjaga erat.
Hal ini terbukti setiap kali prosesi Melasti jelang Nyepi berlangsung. Ratusan umat Muslim, bahkan para wanita berhijab, turut serta dalam prosesi menuju Jolotundo.
"Saat tiba di Jolotundo, kita turun dari kendaraan dan berjalan kaki. Banyak saudara Muslim yang ikut serta dengan penuh antusias," ungkap Romo Sepuh dengan kagum.
Pujawali Purnama Kaulu dan Natajagat: Perayaan Akbar yang Menarik Perhatian Nusantara
Setiap tahunnya, Pura Medang Kamulan menggelar dua upacara besar yang menarik umat dari berbagai daerah.
Pujawali, yang jatuh pada rahina Purnama Kaulu, serta Natajagat yang digelar setiap 30 Juni.
Pura Medang Kamulan bukan sekadar tempat suci, tetapi juga saksi bisu perjalanan spiritual dan sejarah umat Hindu di tanah Jawa.
Akankah pura ini mampu bertahan dengan hanya 7 KK yang ngempon? Atau akankah ada kebangkitan baru bagi umat Hindu di kawasan ini? Kita tunggu kelanjutannya! ***
Editor : I Putu Suyatra