Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Purnama Kesanga, Sebagai Introspeksi Diri dan Momen Menjaga Lingkungan Alam

Putu Agus Adegrantika • Kamis, 20 Maret 2025 | 00:07 WIB

 

SEMBAHYANG : Pelaksanaan persembahyangan di Padmasana, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gianyar, Jumat (14/3).
SEMBAHYANG : Pelaksanaan persembahyangan di Padmasana, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gianyar, Jumat (14/3).

BALIEXPRESS.ID - Keluarga Suka Duka Padmasari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gianyar melaksanakan persembahyangan bersama Purnama Sasih Kesanga,  Jumat (14/3).  Persembahyangan langsung dihadiri oleh Kepala Kantor Kemenag Gianyar, I Gusti Ngurah Agung Wardhita.

Disebutkan bahwa Purnama, yaitu fase bulan ketika bulan terlihat sepenuhnya terang atau bulat sempurna di langit. Pada fase ini, seluruh permukaan bulan yang terlihat dari bumi dipenuhi cahaya matahari, sehingga bulan tampak sangat terang di malam hari.

“Purnama dianggap sebagai waktu yang istimewa dan sering kali dikaitkan dengan berbagai tradisi, ritual, atau perayaan. Purnama juga sering dihubungkan dengan simbolisme kesempurnaan, pencerahan, dan spiritualitas. Sangat tepat untuk introspeksi diri,” paparnya.

Sementara Penyuluh Agama Hindu Ni Wayan Mayun Padmawati,  menyampaikan dharma wacana dengan materi lingkungan hidup yang erat kaitannya dengan Tri Hita Karana khususnya pada Palemahan, hubungan manusia yang baik dengan lingkungan. Mengingat dalam rentang waktu sasih kesanga ini adanya hari Tumpek Wariga.

Baca Juga: Anak-Anak Diperkenalkan Tata Busana Adat ke Pura

Disebutkan Palemahan, yaitu hubungan harmonis dengan alam lingkungan. Palemahan menekankan hubungan antara manusia dengan alam, mencangkup tumbuh-tumbuhan, binatang, dan lainnya.

Palemahan merupakan hubungan manusia dengan alam lingkungannya. Contoh penerapan palemahan adalah menjaga kebersihan lingkungan dan tidak mengeksploitasi isi alam, serta menjaga kelestariannya.

Diungkapkan Palemahan secara umum dapat dilakukan dengan melaksanakan upacara Tumpek Wariga.  Dalam Hindu Bali yang dirayakan setiap 210 hari sekali atau setiap 6 bulan dalam kalender Pawukon. Hari raya ini juga dikenal dengan sebutan Tumpek Uduh atau Tumpek Bubuh.

Tumpek Wariga merupakan hari yang sangat penting bagi umat Hindu di Bali.  Karena pada hari ini mereka melakukan upacara persembahan untuk menghormati dan memohon keselamatan kepada Sang Hyang Sangkara, yang dipercaya sebagai dewa pelindung tumbuh-tumbuhan.

Adapun makna Filosofi dari Tumpek Wariga adalah untuk mengingatkan manusia akan pentingnya menjaga keharmonisan antara manusia dan alam. Dalam Agama Hindu hal ini termasuk di dalam ajaran Tri Hita Karana yaitu Palemahan.

“Dimana hari raya ini mengajarkan bahwa tanaman dan tumbuhan adalah sumber kehidupan yang harus dihormati dan dijaga keberadaannya,” papar Mayun.

Melalui perayaan Tumpek Wariga, umat Hindu di Bali diajarkan untuk selalu bersyukur dan menjaga keseimbangan ekosistem demi kelestarian lingkungan dan kesejahteraan generasi yang akan datang. Selain itu dengan kita bisa menghormati ataupun menjaga tanaman yang kita tanam akan ada rasa yang berbeda saat kita bisa memanen tanaman tersebut, mulai dari kita menanam hingga kita bisa memetik hasilnya.

Tujuan utama dari Tumpek Wariga adalah untuk memohon kepada Sang Hyang Sangkara agar tanaman yang mereka tanam dapat tumbuh subur, berbuah lebat, dan memberikan hasil yang baik. Melestarikan Alam, hari ini juga menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan dan alam, khususnya tumbuh-tumbuhan.

Upacara Tumpek Wariga biasanya dilakukan di kebun, sawah, atau di tempat di mana terdapat banyak tanaman. Beberapa kegiatan yang dilakukan meliputi, ngejot, memberikan persembahan berupa bubur sumsum, jajan, buah-buahan, dan air suci yang diletakkan di bawah pohon atau tanaman.

“Ungkapan Kaki Kaki, Dadong Dija? Dadong jumah gelem kebus dingin ngetor. Ngetor nged, nged, nged, nged, buin selae lemeng Galungan, mebuah apang nged,” papar Mayun.

Baca Juga: Tertimpa Dahan Pohon Tumbang, Lansia Dilarikan ke RSUD Karangasem: Begini Kejadiannya

Ini adalah bagian dari tradisi lisan dan upacara dalam perayaan Tumpek Wariga, yang dilakukan 25 hari sebelum Hari Raya Galungan. Ungkapan ini memiliki makna simbolis dan filosofis yang mendalam dalam konteks upacara tersebut.

“Kaki berarti kakek atau orang tua laki-laki, dan Dadong berarti nenek atau orang tua perempuan. Ini mengandung makna simbolis menanyakan keberadaan para leluhur atau roh penjaga yang diyakini hadir dan melindungi tanaman,” jelasnya.

Kalimat ini berarti bahwa nenek (Dadong) sedang berada di rumah, dalam keadaan dingin dan tenang. Ini menggambarkan keadaan alam dan tanaman yang sedang dalam fase istirahat atau tidak berbuah.

“Ngetor" berarti menggigil atau merasa dingin, diulangi beberapa kali untuk menekankan keadaan tanaman yang sedang "tidur" atau tidak berproduksi. Sedangkan kalimat ini berarti lagi 25 hari menjelang Galungan, supaya berbuah dan tumbuh dengan baik. “Ini merupakan harapan dan doa agar tanaman bisa subur, dan berbuah tepat pada waktunya untuk perayaan Galungan,” tegas Mayun.

Dengan demikian, ungkapan "Kaki Kaki, Dadong Dija?" dan rangkaian kata-kata lainnya dalam konteks Tumpek Wariga menggambarkan rasa hormat, kesadaran, dan harapan umat Hindu di Bali terhadap alam dan lingkungan, serta pentingnya menjaga hubungan yang harmonis dengan alam sekitar. *

Editor : Putu Agus Adegrantika