BALIEXPRESS.ID - Kabupaten Karangasem memiliki tradisi Hindu Bali unik yang penuh makna spiritual dan sosial. Tradisi Naruna, sebuah ritual sakral yang melibatkan para pemuda (sorpa), digelar sebagai bagian dari rangkaian Upacara Aci Usaba Goreng.
Ritual ini diyakini sebagai perwujudan Ida Bhatara yang berstana di Pura Puseh, turun melalui para pemuda untuk melihat kondisi desa dan memastikan ketentraman warga.
Tradisi ini hanya digelar setahun sekali, tepat pada Parejangan pertama dalam rangkaian Aci Ngusaba Goreng.
Ritual ini berlangsung selama sembilan hari, bertepatan dengan Sasih Kapat, atau bulan keempat dalam kalender Bali.
Salah satu prosesi awalnya adalah melasti ke Segara Manggis, sebelum akhirnya puncak acara ditutup dengan tradisi siat sampian atau Matigtig.
Ritual Wajib Bagi Pemuda, Momentum Berharga Bagi Remaja
Bagi pemuda Desa Geriana Kangin, mengikuti upacara Naruna adalah kewajiban yang sudah berlangsung turun-temurun.
Selain bernilai sakral, tradisi ini juga menjadi ajang pertemuan para pemuda dan gadis desa.
Ada unsur sosial yang kuat di dalamnya, mempererat hubungan antarwarga, khususnya antar remaja.
Menurut Tokoh Adat Geriana Kangin, I Ketut Yasa, Naruna memiliki simbolisme yang dalam. Ida Bhatara yang berstana di Pura Puseh diyakini turun ke dunia melalui para pemuda untuk melihat situasi desa.
Lebih dari itu, tradisi ini juga menjadi jembatan untuk menjalin keakraban antarwarga.
Para pemuda yang membawa keranjang khusus akan masuk ke rumah-rumah warga, menerima jajanan, dan bertegur sapa dengan penghuni rumah.
Terkadang, mereka juga berkesempatan mengenal lebih dekat para gadis desa.
"Pemuda membawa keranjang untuk wadah jajanan, yang diberikan oleh warga atau remaja putri. Jika beruntung, bisa berkenalan. Jika tidak, kesempatan ini tetap menjadi ajang mempererat silaturahmi antarwarga," ujar Ketut Yasa.
Prosesi Sakral di Pura Puseh, Perjalanan Menyusuri Desa dengan Senjata Simbolis
Prosesi diawali dengan sembahyang bersama di Pura Puseh, dipimpin oleh Jero Mangku Gede Nuragia.
Setelah itu, iring-iringan pemuda mulai menyusuri desa dengan membawa berbagai senjata simbolis yang melambangkan Nawa Sanga, konsep penjaga sembilan arah mata angin dalam ajaran Hindu Bali.
Meski terik matahari menyengat, semangat para sorpa tak luntur. Gamelan baleganjur yang terus bertalu-talu menambah semarak suasana.
Di sepanjang perjalanan, para pemuda yang bertugas membawa keranjang akan masuk ke rumah-rumah warga, mengambil jajanan yang telah disiapkan.
Sambil membawa jajanan, mereka juga berbincang dengan warga dan memastikan keadaan rumah dalam kondisi baik.
Jajanan Sakral Dibagi di Pura Puseh, Sebelum Pulang Membawa Berkah
Jero Yasa menambahkan bahwa setelah jajanan terkumpul, semuanya dibawa ke Pura Puseh untuk dibagi menjadi tiga bagian.
Satu bagian diberikan kepada warga desa adat, sementara dua bagian lainnya dibagikan kepada para pemuda.
Pembagian ini dilakukan di Balai Teruna atau Bale Agung Dauhan, sebelum akhirnya masing-masing pemuda membawa pulang bagian mereka.
Tradisi Naruna bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga sarana membangun solidaritas antarwarga, mempererat hubungan antar generasi, dan menjaga kelestarian budaya.
Lebih dari itu, ritual ini menjadi wujud nyata bagaimana masyarakat Bali menjaga keseimbangan antara dunia sekala (nyata) dan niskala (spiritual). ***
Editor : I Putu Suyatra