BALIEXPRESS.ID – Pura Luhur Beten Bingin di Banjar Jumpayah, Desa Mengwitani, Kabupaten Badung, memiliki keunikan tersendiri. Tidak seperti tempat suci Hindu Bali lainnya, pura ini harus menggelar piodalan sebanyak dua kali dalam enam bulan.
Mengapa piodalan ini tidak bisa disatukan? Ternyata ada kisah mistis di baliknya!
Pohon Beringin Terbakar Misterius
Beberapa bulan lalu, kawasan pura ini mengalami kejadian aneh. Pohon beringin yang berdiri kokoh di depan pura tiba-tiba terbakar.
Hingga kini, bekas hitam akibat kebakaran masih terlihat jelas. Uniknya, pohon tersebut kini tampak seperti pohon pule karena seluruh daunnya sudah habis.
“Sebenarnya dahulu beringin dililit sama pule. Lambat laun malah pulenya lebih mendominasi,” ungkap Jro Mangku Nyoman Sura Atmaja, pemangku Pura Luhur Beten Bingin, saat ditemui Bali Express.
Di bagian belakang pura, terdapat pohon beringin lainnya yang menjulang tinggi dan sudah dipagari sebagai area suci.
“Pagar ini dibuat untuk mencegah orang cuntaka masuk ke area pohon,” jelasnya.
Piodalan Ganda dan Kejadian Aneh
Pura ini memiliki dua palinggih utama yang menjadi alasan adanya dua piodalan.
Gedong Ratu Gede yang menghadap ke barat memiliki piodalan setiap Umanis Galungan, sedangkan Gedong Rambut Sedana yang menghadap ke selatan memiliki piodalan pada Buda Wage Ukir.
Selain itu, ada Palinggih Padma Tiga yang menjadi stana Ratu Mas sebagai tempat pemujaan kawitan.
Awalnya, piodalan di Pura Luhur Beten Bingin pernah disatukan pada Buda Cemeng Ukir.
Namun, setelah dilakukan selama lima tahun, terjadi peristiwa buruk yang menimpa pangempon pura.
“Ada pangempon yang meninggal karena dijatuhi kelapa di sekitar pura. Selain itu, banyak pangempon yang sering sakit dan selalu ada saja cobaan,” ungkap Jro Mangku.
Karena kejadian aneh yang terus terjadi, pangempon pura akhirnya memutuskan untuk nunas baos (memohon petunjuk). Hasilnya, piodalan memang tidak boleh disatukan.
Dikatakan bahwa piodalan ibarat otonan manusia, tidak bisa dilakukan bersamaan jika berbeda hari.
“Apalagi Ratu Gede di Pura Luhur Beten Bingin adalah ayah dari Batara Rambut Sedana. Masa piodalan ayah ikut anaknya?” tegas Jro Mangku.
Ritual Sakral: Pratima Harus Dipindahkan
Selain harus menggelar dua piodalan, ada satu lagi keunikan dalam ritual pura ini. Setiap piodalan, pratima pura harus lunga (dipindah) dari Pura Desa Mengwitani.
Tradisi ini sudah berlangsung lama karena dahulu kawasan pura ini masih sepi.
“Jika piodalan untuk Ratu Gede, maka hanya pratima Ratu Gede yang dihias, sedangkan pratima Rambut Sedana tetap di gedongnya,” jelas Jro Mangku Nyoman Sura Atmaja.
Keunikan dan kisah mistis di balik Pura Luhur Beten Bingin menjadikannya salah satu pura yang penuh misteri dan menarik untuk dikunjungi. ***
Editor : I Putu Suyatra