BALIEXPRESS.ID - Di balik keindahan Pura Taman Sari di Desa Baha, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, tersembunyi kisah-kisah yang mengundang rasa penasaran. Pura ini bukan sekadar tempat suci Hindu Bali, tetapi juga saksi bisu pendudukan Jepang di Pulau Dewata.
Konon, tentara Jepang pernah memanfaatkan tempat suci Hindu Bali, ini untuk kepentingan militer, menjadikannya lebih dari sekadar situs spiritual.
Markas Rahasia Jepang di Balik Pura
Pura Taman Sari terletak sekitar 200 meter dari Pura Dalem Desa Adat Baha.
Patung Ida Pedanda yang berdiri megah di pintu masuk menyambut setiap pengunjung, sementara dua patung anjing di sisi kanan dan kiri menambah aura mistis pura ini.
Pada masa pendudukan Jepang, kawasan sekitar pura berubah drastis. Jepang membangun barak militer di Desa Baha, tak jauh dari Pura Taman Sari.
Tidak hanya itu, mereka juga membuat gudang penyimpanan senjata di hutan yang dikenal sebagai Alas Baha.
Gudang ini menjadi pusat logistik penting bagi pasukan Jepang di Bali.
Sumber Air yang Tak Pernah Kering, Bahkan Saat Disedot Jepang
Yang lebih menarik, tentara Jepang menjadikan mata air Pura Taman Sari sebagai sumber kehidupan mereka.
Dengan teknologi yang belum dikenal warga setempat saat itu, mereka mampu menyedot air dari pura dan menyalurkannya ke barak militer di Alas Baha.
“Jepang sudah maju kala itu, mereka bisa menaikkan air ke tempat yang lebih tinggi tanpa kesulitan,” ujar Jro Mangku I Ketut Sapereg, pemangku Pura Taman Sari.
Meski digunakan dalam skala besar oleh tentara Jepang, keajaiban terjadi: mata air di pura ini tidak pernah kering.
Bahkan, hingga kini, empat pipa di sebelah timur pura terus mengalirkan air untuk sawah warga.
Fenomena Aneh: Air yang Tak Bisa Dijual
Pemerintah sempat berencana menjadikan air dari Pura Taman Sari sebagai sumber air minum.
Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi. Saat sampel air diuji di laboratorium, air yang semula jernih tiba-tiba berubah menjadi keruh.
“Padahal di pura airnya jernih, tapi saat diuji, entah kenapa berubah. Saya pikir ini memang kehendak Ida yang berstana di sini,” tutur Jro Mangku I Ketut Sapereg sambil mencakupkan tangan di dahinya.
Sakral dan Penuh Larangan
Mata air Pura Taman Sari juga memiliki pantangan tersendiri. Tak ada seorang pun, termasuk warga desa, yang berani mandi langsung di bawah pancurannya.
Buruh dari luar daerah yang meminta izin untuk mandi pun tidak diperbolehkan. Alasannya? Tidak ada yang tahu pasti, tapi kepercayaan ini sudah berlangsung turun-temurun.
Bahkan, saat ada proyek di dekat pura yang tidak mengajukan mapikeling (permohonan izin secara ritual), debit air pura tiba-tiba berkurang.
Namun, setelah upacara permohonan dilakukan, air kembali melimpah seperti sediakala.
Tempat Malukat dan Sosok Gaib yang Menjaga
Pura Taman Sari juga sering dikunjungi oleh orang-orang yang mencari penyembuhan dan pembersihan diri (malukat).
Mereka yang datang biasanya sudah mendapat petunjuk dari orang pintar bahwa tamba (obat) mereka ada di sini.
Yang tak kalah menarik, pura ini diyakini memiliki penjaga gaib berupa ikan Julid dan seekor Sampi Selem (sapi hitam).
Keberadaan Sampi Selem diyakini sebagai anugerah spiritual bagi leluhur pemangku pura, yang dibuktikan dengan sebuah genta (lonceng suci) berujung kepala sapi.
“Walau ada seribu genta yang dibunyikan bersamaan, suara genta ini tetap bisa terdengar berbeda,” kata Jro Mangku I Ketut Sapereg dengan nada penuh keyakinan.
Pura yang Terus Menyimpan Misteri
Kini, meskipun Jepang telah lama pergi dan pura kembali pada fungsinya sebagai tempat ibadah, kisah-kisah misterius tetap hidup di kalangan warga setempat.
Dari sumber air yang tak pernah kering, air yang tak bisa dijual, hingga keberadaan sosok gaib yang menjaga kesucian pura, Pura Taman Sari terus menjadi tempat penuh misteri dan keajaiban.
Bagi siapa pun yang datang, pura ini bukan hanya destinasi spiritual, tetapi juga menyimpan sejarah dan misteri yang belum sepenuhnya terungkap. ***
Editor : I Putu Suyatra