Tradisi ini dilakukan sehari setelah Hari Suci Nyepi, yang dikenal sebagai Ngembak Geni.
Dalam tradisi ini, masyarakat memasak di luar rumah, tepatnya di pintu masuk pekarangan, sebagai simbol penyepian dapur setelah Nyepi sekaligus mempererat tali persaudaraan antarwarga.
Ida Putu Wedanajati, warga Desa Banjar menjelaskan bahwa tradisi ini diwariskan secara turun-temurun dari leluhur mereka. Warga sangat antusias dalam mengikuti tradisi Nyakan Diwang ini.
“Pelaksanaan Nyakan Diwang merupakan sebuah tradisi yang kami terima dari turun-temurun sejak leluhur kita. Selain untuk menyepikan dapur setelah Hari Raya Nyepi, hal ini juga bertujuan untuk menjalin tali persaudaraan serta silaturahmi antara masyarakat,” ungkapnya.
Tradisi ini juga menjadi ajang bagi masyarakat untuk saling mengunjungi dan mempererat hubungan sosial.
Dalam pelaksanaannya, warga saling bertegur sapa dan berbagi kebahagiaan setelah sehari penuh melaksanakan Nyepi.
“Nyakan Diwang ini juga merupakan bentuk tali persaudaraan baik dengan keluarga maupun masyarakat lainnya. Saat pelaksanaannya, kita saling mengunjungi dan itu merupakan bentuk kami memupuk tali persatuan antar keluarga dan masyarakat,” tambah Wedanajati.
Sementara itu, Ida Ketut Arcana, warga Desa Banjar lainnya, menekankan bahwa Nyakan Diwang merupakan wujud keharmonisan masyarakat Desa Banjar.
Menurutnya, setelah satu hari menjalani tapa brata penyepian, momen ini menjadi kesempatan bagi warga untuk kembali berinteraksi secara langsung.
“Hal ini merupakan bentuk kami menjaga tali kasih dan keharmonisan sebagai warga Desa Banjar. Kita dapat saling mengunjungi, saling sapa, saling mengucapkan selamat Hari Raya, dan lainnya,” ujarnya.
Pelaksanaan Nyakan Diwang dimulai sejak pukul 02.00 WITA, saat warga mulai memasak bersama di pekarangan rumah masing-masing.
Tradisi ini dinilai sebagai momen yang sangat dinantikan, terutama setelah seharian penuh berdiam diri di rumah selama Nyepi.
“Sehari kita mengurung diri dalam rumah, kemudian besoknya saat Ngembak Geni kita melangsungkan Nyakan Diwang. Kita semua bergembira, saling sapa, berjabat tangan, dan mengucapkan selamat Hari Raya,” tutup Arcana.
Dengan adanya tradisi Nyakan Diwang, warga Kecamatan Banjar tidak hanya melestarikan warisan budaya leluhur, tetapi juga mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.
Tradisi ini menjadi wujud nyata kebersamaan dan keharmonisan di Desa Banjar, Buleleng. Bahkan, sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kemendikbud sejak 2018 silam. (dik)
Editor : I Putu Mardika