BALIEXPRESS.ID - Dalam kehidupan umat Hindu Bali, istilah "Tirthayatra" tentu sudah tidak asing lagi. Lebih dari sekadar ziarah, Tirthayatra merupakan perjalanan spiritual yang mendalam, sebuah upaya untuk mendekatkan diri pada Tuhan dan leluhur.
Terutama di momen-momen suci seperti Hari Raya Galungan, purnama, atau tilem, Tirthayatra menjadi bagian penting dari praktik keagamaan.
Makna Mendalam di Balik Perjalanan Suci
Secara etimologis, "Tirthayatra" berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu "Tirtha" yang berarti air atau sungai suci, dan "Yatra" yang berarti perjalanan.
Dengan demikian, Tirthayatra adalah perjalanan suci untuk memperoleh air suci, yang diyakini sebagai media anugerah dari Tuhan dan leluhur.
Dalam konteks Agama Hindu di Bali, Tirtha memiliki peran sentral dalam ritual, sehingga Agama Hindu juga sering disebut sebagai Agama Tirtha.
Kitab Sarasamuccaya, khususnya sloka 277-279, menjelaskan Tirthayatra sebagai kewajiban umat Hindu.
Perjalanan ini, yang dilakukan dengan niat suci mengunjungi tempat-tempat suci, dianggap lebih utama daripada penyucian dengan yajña, dan dapat dilakukan oleh siapa saja, bahkan oleh orang miskin sekalipun.
Tujuan dan Persiapan Tirthayatra
Menurut DR. Drs. I Made Sugata, M.Ag, seorang dosen UHN IGB Sugriwa Denpasar, Tirthayatra memiliki dua tujuan utama: penyucian diri dan mengenal tempat-tempat suci.
Perjalanan ini merupakan bagian dari pendakian spiritual untuk mencari ketenangan dan kedamaian jasmani dan rohani.
Baca Juga: Viral Surat Kepala Desa Klapanuggal Minta THR 165 Juta, Kini Berujung Minta Maaf
Dalam melaksanakan Tirthayatra, umat Hindu perlu memperhatikan beberapa hal penting, yaitu:
- Brata (pengendalian diri): Menjaga pikiran, perkataan, dan perbuatan agar tetap suci.
- Upawasa (puasa): Menahan diri dari makan dan minum untuk meningkatkan kesucian.
- Menjaga kebersihan jasmani dan rohani.
Selama Tirthayatra, umat Hindu dapat melakukan berbagai kegiatan spiritual, seperti melantunkan kidung suci, melafalkan japa mantra, menghormati orang suci, memberikan dana punia, dan melakukan kerja bakti di pura.
Tirthayatra di Era Modern
Di era modern, Tirthayatra tidak lagi terbatas pada wilayah lokal. Umat Hindu kini melakukan perjalanan spiritual hingga ke luar daerah atau antar pulau.
Yang terpenting, di mana pun tempat suci yang dikunjungi, umat Hindu harus tetap menjaga etika dan kesucian tempat tersebut.
Baca Juga: Lawar Bali: Bukan Sekadar Hidangan, Simbol Filosofis dan Kekayaan Rasa
Manfaat Tirthayatra
Tirthayatra bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual yang membawa banyak manfaat, di antaranya:
- Meningkatkan keimanan dan ketakwaan.
- Membersihkan diri dari dosa dan karma buruk.
- Mendekatkan diri pada Tuhan dan leluhur.
- Mendapatkan ketenangan dan kedamaian batin.
- Memperluas wawasan spiritual.
Mari kita jadikan setiap Tirthayatra sebagai momen untuk meningkatkan kualitas diri dan mendekatkan diri pada Tuhan. ***
Editor : I Putu Suyatra