Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dianggap Inti dari Purnama, Purnama Sasih Kedasa Momentum Penyucian Diri, Penghormatan untuk Sang Hyang Sunya Amerta

I Putu Mardika • Rabu, 9 April 2025 | 04:08 WIB

 

Melasti saat Purnama Kedasa rutin dilaksanakan oleh Krama Desa Adat Buleleng sebagai momentum penyucian
Melasti saat Purnama Kedasa rutin dilaksanakan oleh Krama Desa Adat Buleleng sebagai momentum penyucian
BALIEXPRESS.ID-Umat Hindu akan merayakan Purnama Kedasa pada Sabtu (12/4) mendatang. Purnama yang jatuh pada Sasih Kedasa ini menjadi momentum suci untuk melaksanakan upawasa demi menyucikan diri secara spiritual.

Bahkan, perayaan Ida Bhatara Turun Kabeh di Pura Besakih dilaksanakan bertepatan dengan Purnama Kedasa. 

Umat Hindu meyakini, Purnama Kedasa sebagai batas antara musim penghujan ke musim kemarau.

Ketua PHDI Kecamatan Buleleng, Nyoman Suardika mengatakan Purnama Kedasa yang jatuh pada Sasih Waisaka atau sasih kesepuluh diawali terlebih dahulu dengan perayaan Hari Raya Nyepi sebagai hari perenungan suci dalam hal pengendalian diri dan hawa nafsu.

Purnama Kedasa diyakini sebagai hari penghormatan kepada Sang Hyang Sunya Amerta sebagai pemberi air suci kehidupan.

Dalam lontar Sundarigama dikatakan bahwa pada Purnama Sasih Waisaka atau Sasih Kadasa merupakan penghormatan pada Sang Hyang Sunya Amerta atau manifestasi Tuhan dalam sifat menghidupkan yang bersemayam di kahyangan. 

“Purnama kedasa ini juga disebut inti dari purnama-purnama yang lain, Purnama Kedasa juga dianggap sebagai hari peleburan segala kekotoran batin (mala) karena Purnama Kedasa berasal dari kata “Kedas” yang dalam bahasa Bali berarti bersih,” ungkapnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Selasa (8/4).

Dalam Lontar Sundarigama juga disebutkan “Mwah hana pareresiknira sang hyang rwa bhineda, makadi sang hyang surya candra, yatika nengken purnama mwang tilem, ring purnama sang hyang ulan mayoga, yan ring tilem sang hyang surya mayoga.”

Terjemahannya, “Ada lagi hari penyucian diri bagi Dewa Matahari dan Dewa Bulan yang juga disebut Sang Hyang Rwa Bhineda, yaitu saat tilem dan purnama,”

Riitual Melasti saat Purnama Sasih Kedasa yang diselenggarakan Desa Adat Buleleng sebagai bentuk penyucian terhadap pralingga dan arca
Riitual Melasti saat Purnama Sasih Kedasa yang diselenggarakan Desa Adat Buleleng sebagai bentuk penyucian terhadap pralingga dan arca

Pada momen suci inilah disarankan untuk hendaknya mensucikan diri secara jasmani dan rohani melalui doa. Tujuannya agar terhindar dari hal-hal negatif dan memberikan pikiran, perkataan, dan perbuatan yang positif.

Dalam Lontar Adi Brata, saat Purnama Sasih Kedasa dianggap sangat tepat untuk melakukan brata atau upawasa.

Dimana, jika ada seseorang yang melakukan brata dengan tidak makan apapun saat Purnama Kedasa, maka pahalanya bisa menemukan surga dan sempurna sebagai manusia. Ibarat Raja atau pemimpin sempurna dan dijunjung pada kehidupan di dunia.

“Untuk mendapat anugrah, itu, tentu wajb melakukan yoga, tapa brata saat Purnama Sasih Kedasa,” sebutnya.

Selain melakukan pemujaan terhadap para leluhur yang dianggap telah suci yang bertempat di sanggah kemulan, Purnama Kedasa juga dilaksanakannya Upacara Batara Turun Kabeh di Pura Agung Besakih, yang artinya ketika upacara tersebut berlangsung seluruh Dewa turun untuk memberikan anugrahnya kepada seluruh umatnya.

“Banyak juga pura kahyangan, Dang Kahyangan, Sad Kahyangan di Bali yang memilih tegak odalan bertepatan dengannPurnama Kedasa. Sehingga, tidak mengherankan pada momen ini, umat Hindu melakukan persembahyangan ke pura-pura dengan membawa sarana dan prasarana persembahyangan yang sesuai.

Umumnya, sarana upakara bebantenan yang digunakan tepatnya saat penanggal ping 15 purnama Kadasa ini baik untuk di Sanggah kemulan, Sad Kahyangan, Tri Kahyangan, dan Dang kahyangan dalam tingkat sederhana.

Dijelaskan Suardika, tak hanya digunakan untuk melakukan persembahyangan ke pura-pura, banyak pula desa adat di Bali yang melaksanakan prosesi melasti saat Purnama Sasih Kedasa.

Pertimbangannya, karena hari ini sangat tepat untuk menyucikan pralingga, arca, Pratima ke sumber mata air yang disucikan, seperti danau, sungai, maupun laut.

Ia menambahkan, Sasih Kesanga dianggap sebagai sasihnya para Bhuta, sehingga diyakini sebagai puncak dari kumpulan segala mala (kekotoran), gering, sasab (wabah), merana (penyakit). Kesanga atau sembilan diyakini sebagai angka tertinggi.

“Sehingga setelah Sasih Kesanga dibersihkan dengan Tawur Agung maka saat sasih Kedasa sebagai Sasih Dewa, dianggap suci, sehingga tepat juga untuk melaksanakan penyucian beraneka macam Pralingga sthana Ida Betara dengan cara melis ke sumber-sumber  air yang dianggap suci,” sebutnya.

Penyucian diri saat Purnama Sasih Kedasa juga terungkap dalam Lontar Tingkahing Brata. Secara etimologi Tingkahing berasal dari kata Tingkah yang artinya perilaku dan kata ing sebagai kata penunjuk yang beratrti pegangan, dan Brata sendiri merupakan pengendalian.

Dalam hal ini kata Tingkahing Brata sendiri bermakna Pegangan dalam berprilaku mengendalikan diri.

Dikatakan Nyoman Suardika, dalam lontar ini dijelaskan tentang upaya yang harus dilakukan sebelum melakukan brata.

Pertama-tama adalah menenangkan pikiran terlebih dahulu. Selain itu pembaca juga diajak berpikir tegas dan memahami ajarang Hyang Dharma.

Baca Juga: Bundir Lagi! Bhabinkamtibmas Polsek Sukasada Ditemukan Tewas Gantung Diri di Kandang Sapi: Diduga Ini Penyebabnya

Lontar Tingkahing Brata juga menjelaskan hari-hari baik berikut: Sasih kasa (ke 1) pananggal ke 20, Sasih karo (ke 2) pananggal ke 7, Sasih ketiga (ke 3) penanggal ke-9, Sasih kapat (ke 4) penanggal ke 15, Sasih ke lima (ke 5) hari tilem.

Sasih kenem penanggal ke 8, Sasih kepitu (ke 7) penanggal ke 13, Sasih kaulu (ke 8) penenggal ke 2, Sasih kesanga (ke 9) penanggal ke 6, Sasih kedasa (ke 10) Penanggal ke 4,  Sasih desta (ke 11) penanggal ke 5. dan Sasih sada (ke 12) penanggal ke 1.

“Jadi sangat jelas, saat Sasih Kedasa utamanya pada penanggal keempat juga sangat tepat untuk melaksankan brata dan penyucian diri. Namun momentum Pucaknya yakni Purnama agar jangan dilewatkan untuk proses penyucian dan meningkatkan kualitas spitritual,” pungkasnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#hindu #melasti #penyucian #Purnama Kedasa #sasih kedasa