Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tari Ratu Sanghyang Dedari Tunjung Biru di Pura Klakah, Dipentaskan di Pura Sang Hyang Klakah, Sebagai Tarian Sakral

I Putu Mardika • Jumat, 9 Mei 2025 | 04:52 WIB

 

Tarian  Ratu Sanghyang Dedari Tunjung Biru di Banjar Pujung Kaja, Desa Adat Talepud, Kecamatan Tegalalang, Gianyar
Tarian Ratu Sanghyang Dedari Tunjung Biru di Banjar Pujung Kaja, Desa Adat Talepud, Kecamatan Tegalalang, Gianyar
BALIEXPRESS.ID-Tari Ratu Sanghyang Dedari Tunjung Biru di Banjar Pujung Kaja, Desa Adat Talepud, Kecamatan Tegalalang, Gianyar merupakan tarian sakral yang sudah diwarisi turun temurun, dan memiliki mitologi singkat terkait adanya Sanghyang Dedari di Pura Sanghyang Klakah.

Tarian sakral ini dipentaskan satu orang penari yang disebut tapakan pada setiap purnama kapat. Penyebutan tapakan erat dengan nama penari ketika telah terpilih menjadi penari tari Ratu Sanghyang Dedari Tunjung Biru Tarian

Ni Komang Debby Julianawati selaku tapakan dari Tari Ratu Sanghyang Dedari Tunjung Biru menjelaskan biasanya ada beberapa tahapan yang akan berakhir pada hitungan ganjil seperti 3 kali, 5 kali, 7 kali, 9 kali, 11 kali.

Setelah itu diakhiri dengan upacara Metebasin dengan harapan wanita dimaksud bisa kelinggihan lagi.

Tari Ratu Sanghyang Dedari Tunjung Biru ini ditarikan oleh satu orang penari utama yang disebut sebagai tapakan.

Baca Juga: Viral! Pencemaran Limbah di Pantai Labuan Sait: Dua Usaha Langsung Diberi SP DLHK Badung

Sedangkan penari lainnya orang yang sudah terpilih (mapinget) yang ditunjuk beliau (tapakan) sebagai pengiring beliau menari, pengiring disini terluhat sekilas seperti gerakan ibing-ibingan saat mengiringi tari Ratu Sanghyang

Pemilihan tapakan tidak dipilih berdasarkan tingkat usia. Mulai dari anak-anak, sampai remaja siapapun bisa jadi tapakan sesuai keinginan beliau asalkan menari tidak dalam keadaan cuntaka. Prosesi pemilihan penari yang disebut ngalinggihin melalui prosesi tersebut.

“Siapapun yang berkeinginan ngayah tidak dibatasi yang penting tulus ikhlas pada saat ngayah dan siap untuk mengikuti proses latihan guna untuk mencari generasi selanjutnya,” jelasnya.

Tapakan Ratu Sanghyang Dedari Tunjung Biru yang sudah siap untuk menari harus melewati proses ritual seperti melukat (penyucian diri). Proses tersebut bertujuan untuk membersihkan diri penari karena akan menarikan sebuah tarian sakral.

Tahapan Nusdus dilakukan untuk mempersiapkan dan membersihkan diri sebelum pertunjukan dimulai.

Baca Juga: 115 Duktang di Kecamatan Kediri Diperiksa Aparat Gabungan, Antisipasi Gangguan Kamtibmas

Dalam rangkaian nusdus dua orang penari laki-laki memandung, sementara dua orang lainnya menarikan tedung mengikuti gerakan Ratu Sanghyang ketika menari.

Sebelum pementasan dimulai, kidung dinyanyikan untuk menciptakan suasana sakral dan menambah kekhidmatan dalam pertunjukan. Selain itu mengingatkan penonton bahwasannya pertunjukan Tari Ratu Sanghyang Dedari akan dimulai.

“Kemudian, semua panjak sembahyang memohon anugrah kepada Ratu Sanghyang Dedari Tunjung Biru sebagai bagian dari ritual permohonan berkah Dedari Tunjung Biru memberikan tirta langsung kepada semua panjak sebagai simbol kesucian dan anugrah.

Selanjutnya dilakukan Masolah. Pada tahap ini, Ratu Sanghyang Dedari Tunjung Biru memulai gerakan mesolah dengan naik ke tragtag yang merupakan tempat penyimpenan gelungan yang digunakan sebagai langkah awal pertunjukan.

Selanjutnya, terdapat pertunjukan 2 pandung menari dengan menggunakan keris mandung di atas tragtag, menambah nuansa magis dalam pertunjukan. Setelah pandung selesai menari, pertunjukan dilanjutkan dengan tedun mesolah sebagai bagian dari persembahan seni tari Ratu Sanghyang Dedari Tunjung Biru.

“Dedari Tunjung Biru memberikan berkah kepada semua panjak dengan kekereb, menciptakan momen sakral dalam pertunjukan,” ungkapnya.

Baca Juga: Ketua DPRD Karangasem Tolak Ormas GRIB: Alasannya Sederhana

Akhir pertunjukan tari Ratu Sanghyang Dedari Tunjung Biru disebut munggah, semua pihak dalam pertunjukan secara harmonis bersatu untuk menciptakan kesan penuh makna.

Gerakan pada Tari Ratu Sanghyang Dedari Tunjung Biru diantaranya; Agem Tengen (Kanan), Agem Kiwa (Kiri), Ngegol, Ngejet Pala, Nyeleog, Ileg-ileg, Nyalud, Ngelayak, Nyerigsig, Mepiteh.

“Ada ciri khas dari gerak Tari Ratu Sanghyang Dedari Tunjung Biru adalah gerakan Ngelidin Wajah Angge Kekereb dengan gerakan menutup wajah menggunakan kain bermotif yang disebut dengan kekereb,” imbuhnya.

Kain tersebut berwarna putih dengan motif yang menyampaikan makna mendalam dan memiliki kesan magis yang menunjang nuansa sakral pertunjukan tarian ini.

Selain diiringi dengan iringan gamelan barungan bebatelan, tari Ratu Sanghyang Dedari Tunjung Buru juga dilengkapi dengan instrument lagu/gending.

Pelaksanaan nuwur Tari Ratu Sanghyang Dedari Tunjung Biru dilaksanakan di Pura Sanghyang Klakah.

Dalam proses nuwur ini sebagai sarananya adalah sebuah Sapu Lidi yang jumlahnya 66 batang sesuai dengan kelipatan Urip Bumi serta di hias dengan bunga di setiap ujungnya.

Baca Juga: Anugerahkan WTAB ke 11 Kantor Pertanahan, Wamen Ossy Tegaskan Arah Birokrasi Kementerian ATR/BPN yang Bersih dan Berintegritas

Bunga-bunga itu antara lain: Sempol, Jempiring, Soka, Sandat, Pudak, Cempaka, Sungsang, Gadung, Tunjung, Deming, Jepun, Soli, Menuh, Gambir, Siulan, Ratna, dan sebagainya. Sapu lidi (sampat) ini disebut dengan Sanghyang Sampat kemudian di pegang oleh para Pemangku Selengan Istri.

“Yang menghaturkan puja pada saat itu adalah pemangku pura tersebut. Para Pemangku Selengan Istri tadi melantunkan kidung, memohon agar putri Ida Bhatara Manik Toya yang di puja di Pura Sanghyang Klakah dan para Widiadari berkenan turun dan nyelang Tapakan (wanita yang dirasuki roh Suci) dan bila beliau sudah berkenan turun maka akan ada seorang wanita yang dirasuki roh suci,” tutupnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Tari Ratu Sanghyang Dedari Tunjung Biru #sakral #gianyar #tegalalang #tari