Lebih dari Sekadar Upakara: Menguak Rahasia Sirih dalam Pengobatan Hindu Bali Menurut Ayurweda!
I Putu Suyatra• Kamis, 29 Mei 2025 | 23:38 WIB
Daun sirih
BALIEXPRESS.ID – Bagi masyarakat Bali, daun sirih adalah bagian tak terpisahkan dari ritual keagamaan dan kehidupan sehari-hari. Komoditas ini laris manis di pasar tradisional, khususnya bagi pembuat upakara.
Namun, siapa sangka, di balik perannya dalam tradisi Hindu Bali, sirih menyimpan segudang manfaat kesehatan yang belum banyak dipahami.
Menurut Ayurweda, sistem pengobatan tradisional kuno yang berasal dari Weda, tanaman merambat ini adalah harta karun obat, baik untuk pemakaian luar maupun dalam.
Lantas, apa saja rahasia yang tersembunyi di balik daun hijau ini?
Ayurweda dan Konsep Kesehatan Tri Upastamba: Kunci Hidup Sehat & Panjang Umur
Dekan Fakultas Kesehatan Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Ir. I Nyoman Prastika, M. Si, menjelaskan bahwa Ayurweda adalah "cara untuk sehat dan berumur panjang." Konsep kesehatannya berlandaskan Tri Upastamba:
Ahara (makan sehat)
Wihara (berperilaku sehat)
Nidra (tidur sehat)
Tri Upastamba ini dipengaruhi oleh Tri Dosha: Wata (eter dan udara), Pitta (air dan api), dan Kapha (air dan bumi).
Prastika menghubungkan ini dengan konsep Usadha di Bali yang mengenal Tri Sakti: Brahma (api/panas), Wisnu (air/dingin), dan Iswara (udara).
"Kalau itu tidak seimbang, maka disebut sakit," ungkapnya.
Untuk menyeimbangkan Tri Dosha, Ayurweda menawarkan empat pendekatan:
Mistik: Melalui penolak bala, sasikepan, mantra.
Psikologi: Melalui brata (pengendalian diri), upawasa (puasa), atau diet dengan yoga.
Tatap muka: Interaksi pengobat dan pasien untuk membangun keyakinan sembuh.
Ausadha: Penggunaan obat atau tumbuhan sebagai obat.
Usadha di Bali sendiri memiliki pengertian yang lebih kompleks, mencakup diagnosis, pencegahan, dan pengobatan, baik fisik maupun non-fisik.
Sirih: Tanaman "Wirut" dengan Kekuatan Tersembunyi
Dalam Ayurweda, tumbuhan dibagi menjadi empat jenis, dan sirih termasuk dalam kelompok Wirut, yaitu tumbuhan menjalar.
Untuk mengetahui manfaat tanaman, Prastika menjelaskan bahwa Lontar Taru Pramana menyebutkan khasiat tanaman dapat dinilai dari bunga dan rasa:
Warna Bunga:
Kuning, hijau, putih: Bersifat hangat.
Merah, biru: Bersifat sejuk (tis).
Berwarna-warni: Bersifat netral (dumalada).
Rasa Tanaman:
Manis, asam: Khasiatnya hangat.
Pahit, sepat: Khasiatnya sejuk.
Hambar: Khasiatnya netral.
Menariknya, tidak semua bagian tanaman berkhasiat sama; bisa saja akarnya hangat, kulitnya sejuk, dan daunnya netral.
Ini menekankan pentingnya pengetahuan mendalam tentang kandungan zat dalam setiap bagian tanaman.
Ragam Jenis Sirih di Indonesia: Dari Sirih Gading hingga Sirih Darah
Meskipun sirih akrab dengan masyarakat, hanya sedikit yang tahu bahwa ada banyak jenisnya.
Penelitian mahasiswa UNHI, Dariyo Utomo, pada tahun 2012 mengidentifikasi 11 jenis sirih di Denpasar, antara lain sirih Silver/perak, Philipine, Kuning/gading, Jalu, Irian, Hati, Bulu, Hitam, Merah, Lumut, dan sirih Darah.
Meskipun fungsinya hampir sama, kandungan zatnya bisa berbeda.
Ini menjelaskan mengapa belakangan banyak yang memilih sirih merah untuk pengobatan, karena kandungan zatnya dianggap lebih tinggi.
Jadi, di balik kesederhanaan daun sirih yang sering kita lihat dalam upakara, tersimpan kekayaan manfaat kesehatan yang luar biasa, sesuai dengan kearifan lokal dan prinsip Ayurweda. ***