Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Menguak 5 Fakta Penting Metata Linggih: Tradisi Bali yang Mengikat Jiwa dan Sejarah Leluhur di Desa Suwug!

I Putu Suyatra • Minggu, 8 Juni 2025 | 14:36 WIB

Tradisi Bali, Metata Linggih
Tradisi Bali, Metata Linggih

BALIEXPRESS.ID - Desa Suwug di Kecamatan Sawan, Buleleng, memiliki sebuah tradisi Bali kuno yang sarat makna: Metata Linggih.

Upacara yang digelar setiap Purnama Sasih Kaulu di Pura Desa ini bukan sekadar ritual biasa, melainkan napak tilas perjuangan 40 leluhur pendiri desa.

Siapa sangka, di balik upacara ini tersimpan filosofi mendalam tentang etika kehidupan, pengabdian, dan kebersamaan yang terus dijaga oleh masyarakat Hindu Bali ini.

Baca Juga: Gubernur Dedi Mulyadi Bikin Geger Pabrik Sepatu Cirebon: Dijerit Ribuan Wanita, dari Minta Selfie Hingga 'Lamaran' di Area Produksi!

Ingin tahu lebih banyak?

1.  Ketika Cuaca Mendung Tak Memadamkan Semangat: Kisah di Balik Layar Metata Linggih

Meski cuaca mendung menyelimuti, semangat krama (warga) Desa Adat Suwug tak sedikit pun luntur.

Pagi itu, areal Pura Desa Suwug dipenuhi hiruk pikuk persiapan. Para krama lanang (pria) sibuk "mebat" (memasak) aneka hidangan, mulai dari lawar, bumbu, hingga menanak nasi, semuanya demi menyukseskan prosesi Metata Linggih.

Di sisi lain, 40 pasang suami istri, yang menjadi bagian dari "sekeha petang dasa" (kelompok empat puluh) tahun ini, khusyuk mengikuti ritual "mejaya-jaya" di Jaba Pura.

Baca Juga: Komitmen Pemerintah Menjaga Kelestarian Raja Ampat: Menyeimbangkan Investasi dan Ekologi

Mengenakan kain putih kuning seragam, mereka siap mengemban tugas suci selama setahun ke depan.

2.  Metata Linggih: Bukan Sekadar Ritual, tapi Pilar Kehidupan Berdesa

Menurut Jro Wayan Mudita, Kelian Desa Pakraman Suwug, upacara Metata Linggih adalah tradisi tahunan yang tak bisa ditawar.

"Metata bisa dimaknai sebagai etika, aturan, norma. Sedangkan linggih itu dapat dimaknai sebagai duduk atau tempat," jelas Jro Mudita.

"Jadi Metata Linggih itu aturan krama dalam menjalankan kehidupan di desa pakraman."

Artinya, 40 warga yang terpilih sebagai krama petang dasa wajib "ngayah" (mengabdi) selama setahun penuh.

Tugas mereka?

Mengawal "bhaga parahyangan" (urusan keagamaan), "bhaga pawongan" (urusan kemasyarakatan), dan "bhaga palemahan" (urusan lingkungan) di Desa Suwug. Sungguh sebuah pengabdian yang mulia!

3.  Sasih Kawulu dan Angka 40: Mengungkap Makna Filosofis yang Tersembunyi

Mengapa Sasih Kawulu (bulan kedelapan dalam kalender Bali) dipilih sebagai waktu pelaksanaan?

Baca Juga: Iduladha Berlumur Misteri di Keritang: Nenek 63 Tahun Ditemukan Tak Bernyawa di Sungai, Tersesat atau Ada Kisah Lain?

Jro Mudita menjelaskan, secara filosofis Sasih Kawulu dimaknai sebagai "ulu" atau hulu, yang berarti awal.

Ini melambangkan pergantian tugas dari krama petang dasa yang lama ke yang baru. Sebuah siklus keberlanjutan yang tak pernah putus.

Lantas, mengapa jumlahnya harus 40 orang? Jro Mudita mengungkapkan bahwa angka ini merupakan simbol penghormatan terhadap 40 leluhur yang pertama kali mendirikan Desa Suwug, berasal dari empat banjar utama: Kajanan, Kelodan, Sabi, dan Lebah.

Seiring waktu, jumlah krama terus bertambah, kini mencapai 1.423 KK. Oleh karena itu, giliran menjadi krama petang dasa dilakukan secara bergilir antar banjar, memastikan setiap keluarga memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam tradisi Bali yang unik ini.

Baca Juga: Aksi Pertama Lolos, Pria Buleleng Ketahuan Saat Incar Kendaraan Kedua, Perilaku Disorot

4.  Lawar Intaran: Simbol Pahit Manis Kehidupan dan Anugerah Ilahi

Salah satu elemen paling menarik dari tradisi Bali ini adalah "lawar Intaran".

Konon, dulunya kerbau disembelih untuk upacara, namun setelah seekor kerbau menghilang, daun Intaran digunakan sebagai pengganti.

Lawar Intaran ini dipercaya sebagai "paica" (anugerah) dari Tuhan dan selalu dinanti dalam setiap pertemuan desa.

Lawar ini bukan hanya sekadar hidangan lezat. Dengan perpaduan rasa manis, pahit, asin, masam, sepat, dan pedas, lawar Intaran dimaknai sebagai simbol dari pahit manisnya kehidupan yang harus dijalani demi kebersamaan. Sebuah filosofi mendalam yang terwujud dalam setiap suapan.

5.  Prosesi Sakral dari Pura Desa hingga Pura Beji: Persembahan untuk Desa Suwug

Tokoh Adat Suwug, Jro Gede Artana, menjelaskan bahwa Metata Linggih melalui beberapa tahapan penting, mulai dari pemilihan krama, "mekalah-kalahan", "nganyudang reged", "mebakti", hingga "mejaya-jaya".

Seluruh banten (sesajen) disediakan oleh Desa Pakraman, termasuk banten suci ageng, banten pengulapan pengambean, dan banten bangun urip dari daging babi.

Prosesi ini disempurnakan oleh pemangku pengempon dan pemangku desa di dua lokasi sakral: Pura Desa dan Pura Beji.

Baca Juga: Balinale 2025 Rampung, 72 Film dari 32 Negara Ramaikan Festival

Tradisi Bali ini bukan hanya sebuah upacara, tetapi adalah jantung kehidupan sosial dan spiritual masyarakat Desa Suwug.

Metata Linggih adalah bukti nyata bagaimana nilai-nilai luhur dan sejarah leluhur terus dihidupkan, diwariskan, dan diperkuat dari generasi ke generasi dalam bingkai kearifan Hindu Bali. ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#tradisi bali #hindu bali #Metata Linggih #leluhur #Suwug #buleleng