Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Gebug Ende di Patas, Ritual Memohoh Hujan, Dilaksanakan saat Musim Tanam Jagung  

I Putu Mardika • Sabtu, 21 Juni 2025 | 03:48 WIB

Tradisi Gebug Ende di Desa Patas, Kecamatan Gerokgak
Tradisi Gebug Ende di Desa Patas, Kecamatan Gerokgak
BALIEXPRESS.ID-Desa Adat Patas, Kecamatan Gerokgak memiliki Tradisi Gebug Ende yang dikaitkan dengan ritual memohon hujan. Tradisi yang berasal dari desa Seraya Barat, Kabupaten Karangasem melibatkan laki-laki baik anak-anak remaja maupun dewasa saat digelar.

Bendesa Adat Patas, Jro Bendesa Wayan Suweca menjelaskan masyarakat Patas memang banyak yang berprofesi sebagai petani. Mereka kerap menanam tanaman palawija seperti jagung. Namun, yang sering menjadi kendala adalah kesulitan air. Kondisi ini membuat masyarakat melakukan ritual untuk memohon hujan melalui Gebug Ende.

“Kalau bulan Desember, Januari, hujan tidak turun, maka dilaksanakan ritual Gebug Ende ini,” ungkapnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Diceritakan Bendesa Suweca, tradisi Gebug Ende ini awalnya dilaksanakan oleh masyarakat di tanah kelahirannya dan setelah mereka pindah dan menetap menjadi penduduk desa Patas.

Namun, mereka tetap melaksanakan tradisi Gebug Ende ini sehingga masyarakat desa Patas yang lain atau penduduk asli desa Patas menyebut tradisi Gebug Ende ini dengan sebutan Gebug Seraya.

“Tradisi Gebug Ende pada dasarnya sebuah permainan atau pertandingan antar peserta, di mana antar peserta saling menyerang atau memukul dengan menggunakan rotan dan yang diserang bertahan atau menangkis dengan menggunakan ende,” tutur Bendesa Suweca.

Kebiasaan masyarakat semasih di tempat asalnya (Seraya, Red) setiap memhon hujan selalu disertai dengan permainan Gebug Ende ini.

Tak pelak kebiasaan ini mereka tetap bawa dan laksanakan walaupun mereka telah tinggal di wilayah Gerogak Kabupaten Buleleng.

Konon, pada zaman dahulu masyarakat Seraya sebagian besar kuat-kuat dan kebal-kebal terhadap senjata tajam. Maka masyarakat ini yang dipilih menjadi prajurit andalan kerajaan Karangasem berjumlah 40 orang yang dikenal dengan sebutan Bala Petangdasa.

Di samping itu, yang juga dipilih menjadi prajurit kerajaan Karangasem adalah masyarakat Bubug yang ahli pengobatan dan masyarakat Angantelu yang sangat pemberani.

Prajurit yang berasal dari tiga desa inilah yang ditugaskan raja menyerang kerajaan Seleparang, Lombok Barat. Orang-orang yang masuk menjadi kelompok prajurit dipilih dan dites dalam sebuah sangkepan/rapat dalam bentuk tes kekebalan.

Sang calon prajurit menjepit duri pandan di ketiaknya, lalu ditarik. Apabila sang calon tidak luka, maka yang bersangkutan lolos tahap pertama.

Tes kedua dilaksanakan dengan membelah buah pinang di atas paha. Apabila pinang terbelah menjadi dua dan paha sang calon tidak luka berarti yang bersangkutan lolos menjadi pasukan prajurit. Dan senjata yang akan digunakan perang pun dipilih dan diseleksi.

Baca Juga: Manajer Bumdes Nawakerti Ditetapkan Jadi Tersangka, Diduga Lakukan Korupsi hingga Ratusan Juta Rupiah

Senjata dites dengan menebangkan bambu dan kayu-kayu yang keras. Apabila senjata itu tetap kuat dan tajam, maka senjata itu layak digunakan sebagai senjata perang. Pada saat perang berlangsung dengan hebat dan sengitnya antara prajurit kerajaan Karangasem dengan prajurit kerajaan Seleparang, hujan turun dengan lebat.

Para prajurit Karangasem merasa dengan turunya hujan lebat merasa mendapat bantuan dan waranugraha dari Hyang Widhi. Karena dengan turunya hujan lebat lebih memudahkan mengalahkan musuh. “Dan itu terbukti, mereka dapat mengalahkan prajurit lawan,” ujarnya.

Setelah perang beraakhir, para prajurit dari ketiga desa ini, kembali ke desa masing-masing. Sesampainya Para prajurit Seraya di desanya, ternyata terjadi bencana kekeringan. Para penduduk kesulitan mendapatkan air, baik untuk kehidupan sehari-hari maupun untuk keperluan pertanian dan perkebunan.

Oleh karena keberhasilan mereka memenang peperangan dengan prajurit Seleparang atas bantuan hujan lebat, maka para prajurit Seraya, berinisiatif melaksanakan upacara memohon hujan kepada Hyang Widhi disertai dengan permainan peperangan, yang disebut dengan Gebug Ende.

Maka sejak saat itu setiap upacara memohon hujan selalu disertai dengan permainan perang-perangan. Oleh karena, setiap musim kemarau ritual ini selalu diadakan maka Gebug Ende menjadi mentradisi di kalangan masayarakat Seraya.

“Nah, tradisi ini tetap pula dilaksankan oleh masyarakat Seraya yang merantau dan menetap di desa Patas, Kecamatan Gerogak, Kabupaten Buleleng. Biasanya setelah dilaksanakan, hujan senantiasa turun,” paparnya.

Pementasan Tradisi Gebug Ende berbeda dengan tari sakral yang lain. Permainan dapat dipentaskan di mana saja di kawasan wilayah desa adat Patas. Selama ini tempat pementasan Gebug Ende di Desa Patas berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain.

Jro Bendesa Wayan Suweca mengatakan, pertimbangan tempat hanya didasarkan pada kondisi areal. Apabila arealnya datar dan luas, maka dapat digunakan sebagai tempat, pementasan tradisi Gebug Ende ini.

Areal yang digunakan sebagai tempat pementasan dibagi menjadi dua dengan pembatas tali rapia dan bambu. Sebagian areal untuk permainan Gebug Ende dan sebagian areal untuk tempat para penonton.

Demikian pula dengan ketentuan waktu, tidak selalu dikaitkan dengan pedewasan (wariga) atau hari baik.

Pada umumnya pementasan ini dilaksanakan setelah para petani menanam jagung dan musimnya kemarau. Maka, para petani sepakat pada hari tertentu untuk memohon hujan kepada Hyang Widhi, lewat Gebug Ende.

Menariknya, pakaian yang digunakan para pemain Gebug Ende sangat sederhana. Mereka hanya menggunakan Destar/ikat kepala berwarna merah sebagai lambang keberanian.

Kain/kamen, dipakai dengan mebulet ginting dan Saput poleng, (hitam putih) sebagai lambang rwa bhineda (baik buruk).

“Permainan ini melambangkan prajurit yang sedang berperang, maka alat-alat yang dibawa para pemain tentu peralatan berupa senjata untuk menyerang lawan dan penangkis serangan lawan. Dimana, hanya membawa rotan (penyalin) untuk memukul lawan dan tameng/Ende untuk menangkis serangan lawan.

Agar semarak, permainan ini diiringi dengan tabuh yang sederhana, yakni sepasang kendang cedugan, cengceng rincik, empat buah reong, seruling, dan kempul. Gebug Ende dipimpin oleh oleh wasit yang disebut Saya.

Saya inilah yang mengatur permainan, seperti memulai permainan, memisahkan pemain apabila dipandang tidak sportif dan mengakhiri pertandingan.

Sebelum pertandingan dimulai diawali dengan upacara keagamaan yang dipimpin oleh seorang pemangku kahyangan tiga.

Banten yang digunakan sangat sederhana terdiri dari beberapa jenis banten saja, yaitu canang raka, daksina, dan segehan nasi hitam putih.

Umumnya, pemimpin upacara saat Gebug Ende dilaksanakan adalah para pemangku khayangan tiga yang dituur saat pementasan tersebut. “Bisa pemangku desa, pemangku puseh atau pemangku Dalem,” imbuhnya.

Usai melaksanakan persembahyangan, pemimpin pertandingan, yakni saya mengumumkan aturan dan tata tertib permaian kepada para peserta.

Sebelum permainan dimulai ditentukan pasangan-pasangan yang akan pentas dan sekaligus ditabuhnya gambelan yang akan mengiringi permainan Gebug Ende.

Sebelum para peserta pertandingan dimulai, saye yang terlebih dahulu menunjukkan dan meragakan tarian Gebug Ende.

Setelah itu baru para peserta yang berlaga sesuai dengan nomor urut yang didapat.

“Peserta tidak boleh memukul dari pinggang ke bawah. Artinnya, para peserta dilarang memukul pinggang, perut, paha dan kaki. Bagian tubuh yang boleh diserang di atas pinggang ke atas seperti punggung, tangan, lengan dan kepala,” pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#desa patas #gerokgak #seraya #tradisi #Gebug Ende #buleleng