Kegiatan ini melibatkan sebanyak 70 orang pemangku di Buleleng yang tergabung dalam Organisasi Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN).
Acara yang dihadiri langsung Dirjen Bimas Hindu, Prof. Dr. I Nengah Duija, M.Si ini menghadirkan sejumlah narasumber, baik dari kalangan praktisi maupun akademisi.
Diantaranya Filolog Sugi Lanus, Akademisi Institut Mpu Kuturan Made Susila Putra, M.Pd dan Ketua Umum PSN, Jro Gde Gede Pastika, S.Pd.
Ketua Yayasan Aksara Sastra Adhyatmika, Putu Pertama Yasa menjelaskan, penguatan literasi keagamaan dan bedah sastra Nusantara ini merupakan kegiatan perdana dilaksanakan dengan melibatkan para pemangku di Buleleng.
Ia berharap, kedepan akan menyasar lebih banyak lapisan masyarakat terutama generasi muda, para yowana, pegiat sastra.
Saat ini, ia melihat penguatan Sastra dilaksanakan masih terbatas di kalangan cendikiawan maupun pegiat sastra.
Namun, untuk menguatkan dengan menyasar para pinandita merupakan terobosan baru yang harus kontinyu dilaksanakan.
“Ada rencananya kedepan bisa menjalui Kerjasama dengan pinandita secara nasional dan keseluruhan. Tentu tidak terbatas hanya di Buleleng saja. Tetapi juga bisa semakin luas, sehingga literasi keagamaan ini bisa menjangkau berbagai lapisan masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, Dirjen Bimas Hindu, Prof. Duija menilai jika literasi keagamaan ini sangat penting dilaksanakan mengingat keberagaman masih rendah dalam aspek literasi. Terutama para pemangku, para pinandita.
“Tentu gerenasi muda agar belajar bahwa satasra bukan karya seni biasa, tetapi sastra dalam konteks agama kita adalah seluruh tuntunan hidup yang terkait dengan kehidupan manusia Hindu adalah sastra,” kata Prof. Duija.
Ia menjelaskan, Hindu memandang sastra dianalogikan seperti Tubuh. Hal inilah menjadi vibrasi, sehingga Bali disebut menjadi orang yang ramah, santun dan bijaksana.
“Jadi sastra inilah yang menuntun agar apa yang dilaksanakan bermanfaat bagi orang lain
Prof Duija menilai, kegiatan ini kedepan agar dilaksanakan di seluruh Bali hingga nasional. Mengingat, cakupan sastra begitu sangat luas.
“Apa yang ada di dunia ini, sudah pasti ada di sastra. Jangan sampai melupakan kebijakan yang positif. Maka dari itu, tentu umat Hindu dasar pegangannya adalah Sastra. Maka dari itu, literasi keagamaan ini harus senantiasa digaungkan secara lebih meluas kepada seluruh lapisan masyarakat,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika