Ombak besar di pantai itu membentuk sebuah ceruk yang agak membundar dan sebuah goa karang yang cukup lebar. Ceruk yang bundar itu terletak di depan halaman luar (jaba) Pura Sri Jong.
Menurut legenda, ceruk itu dipercayai sebagai bekas tempat periuk Mahapatih Kebo Iwa, ketika Raja Bhedahulu memerintah pada zaman Bali Kuno.
Sedangkan tanah yang meninggi di sebelah timur, tidak jauh dari pura, diapit oleh dua muara sungai dianggap sebagai bekas periuknya.
Pemangku Pura Luhur Sri Jong, Jro Mangku Gede Made Suata menjelaskan, dari cerita yang dituturkan secara turun temurun, Kebo Iwa mengonsumsi makanan yang banyak sekali, sehingga memerlukan periuk raksasa untuk menanak nasi.
Goa karang itu menjorok di bawah halaman dalam (jeroan) pura. Pura Sri Jong juga sering disebut Silih Jong.
Nama ini dihubungkan dengan nama Bhatari Sri yakni Dewi Kemakmuran, sakti Dewa Wisnu, yang memberikan kesejahteraan kepada para petani.
Ia menjelaskan, bahwa Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh (Danghyang Dwijendra) melanjutkan perjalanan ke timur dari Pura Rambut Siwi Oleh karena ombak begitu besar, beliau berhenti di Pantai Soka.
Nah, Pada kesempatan itu, Danghyang Dijendra memberi bibit padi kepada masyarakat sekitarnya. Padi tersebut banyak memberikan kemakmuran kepada masyarakat,” sebutnya.
Menurut kepercayaan, padi merupakan bahan makanan atau sumber kemakmuran yang berasal darı Dewi Sri. Untuk menghormati, memuji dan memuja Dewi Sri maka di pantai itu, didirikanlah sebuah pura.
Selain untuk memuja Dewi Sri juga didirikan pelinggih untuk memuja Danghyang Dwijendra.
Tatkala Danghyang Dwijendra melanjutkan perjalanan, di tempat itu beliau mengganti perahu (jukung) sehingga kemudian pra itu disebut Sri Jong yang diduga berasal dari Silih Jong. Silih artinya mengganti dan Jong artinya jukung.
Cerita versi lain tentang pura itu sebagai berikut. Suatu ketika para petani dan nelayan dikejutkan oleh suatu peristiwa karena disuatu tempat dipantai Soka terdapat asap mengepul.
Menurut kepercayaan. asap ajaib itu suatu pertanda akan ada sesuatu yang akan membahagiakan rakyat di sekitar tempat itu.
Menurut kepercayaan. munculnya asap yang menyebabkan bakal adanya kebahagiaan adalah pemberian (waranugraha) darı Sanghyang Widhi dalam menifestasınya sebagai Dewi Sri.
Oleh karena itu, masyarakat segera membangun pelinggih di tempat mengepulnya asap tersebut guna memuja Dewi Sri. “Pura itu kemudian disebut Sri Jong, yang berarti payung (pajeng) atau perlindungan,” paparnya.
Untuk mengetahui sejarah pura yang pasti sulit diketahui, karena tidak ada sumber arkeologis untuk menguatkan bukti penelitian.
Arca atau peninggalan bersejarah tidak dijumpai. Berdasarkan kepercayaan, pura itu mungkin erat hubungannya dengan Kebo Iwa pada abad ke-14 atau sekitar abad 16 saat Danghyang Dwijendra melakukan tirtayatra ke pura itu.
Pura Sri Jong terdiri dari dua halaman. Halaman pura, tanahnya melandai ke barat diikuti ceruk yang dikatakan dibuat oleh Kebo Iwa.
Pada halaman pertama (jaba) terdapat bangunan atau pelinggih yakni candi bentar, lumbung, balegong, pelinggih Si Nyoman Sakti Pangenter dan sebuah pahhyasan.
Pelinggih ini terletak di hadapan sebelah kanan kori agung, sebagai stana dari Bhatara yang bertugas sebagai Dewa Penjaga pintu masuk (Dwarapala).
Sedangkan di halaman jeroan agak di pinggir selatan terdapat goa karang yang menurut cerita tembus sampai jauh ke dalam. Di halaman itu terdapat: pahyasan, taksu, Pesimpangan Dewa Ayu Manik Galih.
Ada juga pesimpangan Bhatara Gunung Agung, Pesimpangan Subak Soka dan Bale Peselang. Pahyasan terletak berhadapan di meru tumpang tiga yang menghadap ke barat dan merupakan pelinggih paling besar Pelinggih itu merupakan sthana Danghyang Dwijendra.
Sedangkan pelinggih Dewa Ayu Manik Galih dengan sebuah Taksu letaknya di leretan utara menghadap ke selatan.
Pelinggih ini berbentuk gedong dan merupakan stana Dewa Ayu Manık Galih, nama lain Dewi Sri Bangunan yang terletak di timur laut juga berbentuk gedong dan merupakan pesimpangan Bhatara Gunung Agung.
Di sebelah kanan Meru Tumpang Tiga terdapat pelinggih, yang merupakan pesımpangan Bhatara Rambut Siwi, yakni Dewa yang memberikan kesejahteraan kepada petani, nelayan, dagang dan orang-orang yang melakukan bisnis lainnya. Di sebelah kiri meru terdapat pelinggih yang merupakan penyungsungan subak Soka.
Di subak Soka tidak ada Pura Ulun Carik, oleh karenanya di pelinggih ını dipakai sebagai stana Dewi Sri.
Bangunan lain yang diberi nama Bale Peseleng terletak di bagian selatan, digunakan sebagai tempat banten paseleng dan Nini apabila diadakan upacara Ngusaba Nini.
Pujawali di Pura Luhur Srijong dilangsungkan tiap Buda Umanis Prangbakat. Segala persiapan upacara ditanggung pangempon secara bergiliran. Soka, Desa Antosari, Desa Antagana dan Desa Angkah.
Sedangkan subak yang ikut menyiwi adalah Subak Soka, Subak Antosari, Subak Sumaja, Subak Batu Lumbung dan Subak Bengkel.
Berdasarkan penyiwi itu, maka status pura merupakan pura fungsional sebagai tempat pemujaan Dewi Sri.
Oleh karena pernah disinggahi Danghyang Dwijendra, maka pura itu juga disungsung oleh masyarakat umum di kabupaten Tabanan.
Krama Desa Pujungan yang terletak di Kecamatan Pupuan, juga menggelar upacara di tempat ini saat melakukan melasti. Dengan demikian, maka status pura ini juga merupakan Dang Kahyangan. (dik)
Editor : I Putu Mardika