BALIEXPRESS.ID - Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, kita sering terjebak dalam kecepatan yang melenakan. Bangun pagi terburu-buru, bekerja sepanjang hari, lalu pulang dengan tubuh lelah dan pikiran penuh beban. Kesehatan fisik menjadi prioritas sesaat, sekadar olahraga seminggu sekali atau minum vitamin, sementara kesehatan batin sering terabaikan. Padahal, keseimbangan hidup sejati tidak bisa dipisahkan dari harmoni antara raga dan jiwa.
Dari sebuah desa di Buleleng, Bali, ada pesan bijak yang telah diwariskan selama berabad-abad. Di Pura Maksan Gede Kubutambahan, masyarakat setempat memuja sosok yang dikenal sebagai Ratu Ayu Patirtaan, sebuah manifestasi kekuatan suci yang mengalir melalui air, membersihkan, menyejukkan, dan menyeimbangkan kehidupan.
Akademisi IHAN Mpu Kuturan Singaraja, Ni Made Yunitha Asri Diantary, menjelaskan sumber sakral di bawah pohon delima tersebut terdapat di Pura Maksan Gede Kubutambahan, bahkan salah satu pura tertua di kawasan tersebut. Bagi masyarakat setempat, sebelum melaksanakan ritual suci di pura-pura lain di Desa Kubutambahan, ada satu tahapan yang tak boleh dilewatkan yakni memohon tirta atau air suci di sini.
“Tradisi ini bukan sekadar formalitas, tetapi bagian sakral dari rangkaian upacara. Permohonan tirta dilakukan di bawah pohon delima suci yang telah berusia ratusan tahun,” paparnya.
Diungkapkan juga air suci hanya akan keluar bila Ratu Ayu Patirtaan berkehendak, dan permohonan ini dipimpin oleh seorang Jro Sedan Juragan, tokoh adat yang dipercaya memiliki wewenang memohon langsung kepada Beliau.
Bagi masyarakat Kubutambahan, Ratu Ayu Patirtaan diyakini sebagai dewi pemberi anugerah pembersihan, kesuburan, dan ketentraman diri. Air suci yang dimuliakan ini bukan untuk melukat, melainkan untuk pembersihan alam secara metafisik, membersihkan energi-energi yang mengganggu keseimbangan jagat.
Dalam keyakinan masyarakat setempat, air suci dari patirtaan bukan hanya untuk membersihkan tubuh, tetapi juga untuk menyucikan pikiran dan lingkungan secara metafisik. “Di sini, air tidak sekadar unsur alam, melainkan penghubung antara manusia dan kekuatan transenden,” terang Yunita sapaan akrabnya.
Setiap tetes air yang mengalir dari sumbernya telah melewati perjalanan panjang, melewati tanah, akar, batu, dan waktu, sebelum akhirnya sampai ke tangan pemuja. Proses itu mengajarkan kita kesabaran, ketekunan, dan ketundukan pada siklus alam.
“Dalam dunia modern, kita menganggap air hanya sebagai kebutuhan fisik yakni minum, mandi, memasak. Padahal, air yang dimuliakan ini adalah medium pembersihan jagat secara metafisik,” imbuhnya.
Diungkapkan bahwa masyarakat Kubutambahan telah mempraktikkannya sejak lama, tanpa perlu menyebutnya dengan istilah rumit seperti mindfulness atau spiritual healing.
Upacara pemujaan Ratu Ayu Patirtaan di Pura Maksan Gede bukanlah tontonan. Beliau adalah ruang hening yang memanggil semua indra untuk terlibat. Banten (sesajen) disusun rapi, mantram dilantunkan, dan air suci dipercikkan.
Di tengah prosesi itu, setiap orang diajak untuk “diam” dalam arti yang sesungguhnya, menenangkan pikiran, membuka hati, dan membiarkan tubuh mengikuti irama sakral.
Ritual ini mengajarkan bahwa tubuh dan jiwa harus dibersihkan secara bersamaan. Seberapa pun sering kita merawat tubuh, jika hati dan pikiran tetap kotor oleh amarah, iri, atau cemas, maka keseimbangan hidup tidak akan tercapai.
Keseimbangan spiritual dan fisik bukan konsep baru, tetapi sering kali kita baru mengingatnya setelah tubuh jatuh sakit atau pikiran tak sanggup lagi menahan beban. “Pemujaan Ratu Ayu Patirtaan mengingatkan kita bahwa mencegah jauh lebih penting daripada mengobati. Tradisi ini juga mengajarkan pentingnya menghormati alam,” ujar Yunita.
Air yang digunakan dalam ritual tidak diambil sembarangan. Sumbernya dijaga, lingkungan di sekitarnya dilestarikan. Di sini, spiritualitas dan ekologi berjalan seiring. Mungkin inilah yang kita butuhkan saat menghadapi krisis lingkungan global: kesadaran bahwa menjaga alam bukan hanya tugas ilmiah, tetapi juga kewajiban moral dan spiritual.
Dikatakannya, generasi sekarang mungkin jarang mengunjungi pura atau mengikuti upacara, apalagi jika tinggal di kota besar. Namun pesan dari Ratu Ayu Patirtaan tidak harus berhenti di desa Kubutambahan. Prinsipnya bisa dihidupkan di mana saja: meluangkan waktu untuk hening, menyadari aliran napas, menghargai setiap teguk air, dan menjaga keseimbangan hidup.
“Tradisi pemujaan Ratu Ayu Patirtaan bukan hanya warisan budaya Bali, tetapi juga panduan hidup yang melintasi batas geografis dan zaman. Di tengah dunia yang makin cepat, pesan ini justru semakin lambat untuk kita serap, karena kita jarang berhenti untuk benar-benar mendengarkannya,” pungkasnya. *
Editor : Putu Agus Adegrantika