Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

kenali Jenis Balian dalam Dunia Usada, Dari Balian Ketakson hingga Campuran

I Putu Mardika • Jumat, 29 Agustus 2025 | 02:55 WIB

Akademisi Ayur Weda UNHI, Ida Bagus Suatama.
Akademisi Ayur Weda UNHI, Ida Bagus Suatama.

BALIEXPRESS.ID-Pengobatan tradisional dengan menggunakan jasa seorang Balian memang menjadi salah satu alternative pengobatan di Bali selain jalur medis. Rupanya, jika ditelisik lebih dalam, Balian juga dapat digolongkan berdasarkan cara praktek pengobatannya.

Akademisi Ayurweda UNHI Denpasar, Dr. Ida Bagus Suatama, M.Si ada empat jenis. Kemampuan Balian untuk mengobati ini diperoleh dengan berbagai cara. Mulai dari keturunan, taksu, pica, belajar atau nyastra, dan berbagai cara lain.

Dikatakan Suatama, balian dibagi menjadi tiga golongan, yaitu  balian usada, balian tatakson, dan tukang (pembantu) penyembuh, di dalamnya termasuk balian manak, balian wut. Sedangkan Balian berdasarkan tujuannya dikenal dua macam, yaitu balian panengen dan balian pangiwa.

Namun, bila diklasifikasikan berdasarkan cara memperoleh keahliannya atau kemampuannya dalam menjalankan praktik pengobatan, maka balian terdiri atas empat kelompok. Yakni Balian Katakson, Balian Kapican, Balian Usada, dan Balian Campuran.

Ia menjelaskan Balian Ketakson, adalah Balian yang dalam praktek pengobatannya memanggil Ista Dewatanya untuk memasuki tubuhnya. Sehingga balian tersebut Ketakson atau Kerasukan. “Makanya balian tersebut dinamakan Balian Ketakson,” kata Suatama.

Baca Juga: Puluhan Hektare Sawah Gagal Panen, Produksi Beras di Badung Masih Surplus

Sedangkan Balian Kapican, diartikan sebagai Balian yang dalam praktek pengobatannya menggunakan sarana berupa keris, permata, bagian-bagian dari tumbuhan atau binatang.

Sarana ini didapat saat melakukan persembahyangan atau meditasi dengan kusuk, sarana ini disebut Pica atau pemberian dari alam gaib.

Kemudian untuk Balian Usada, yaitu Balian yang dalam praktek pengobatannya menggunakan acuan dari kepustakaan Usada, keterampilan ini didapatkan dari mempelajari Lontar-Lontar Usada ditambah dengan adanya faktor keturunan, sehingga Balian Usada menjadi mantap.

Terakhir adalah Balian Campuhan, yang merupakan Balian dalam praktek pengobatannya menggunakan teknik campuran dari keterampilan ketakson, kapica dan usada.

Tidak menutup kemungkinan seorang praktisi kesehatan modern merangkap sebagai Balian Usada Bali.

Dalam menjalankan praktik pengobatannya, Balian kerap menggunakan Taru Pramana sebagai bahan obat.

Baca Juga: 200 Wifi Gratis Terpasang di Tabanan, Target 406 Tuntas November 2025

“Taru Pramana ini mulai dari bunga, daun, buah, batang, kulit, akar, dan umbi dapat dipergunakan sebagai bahan obat. Agar tidak membingungkan karena banyaknya jenis tanaman yang dapat dijadikan obat,” jelasnya.

Ia menambahkan, Taru Pramana di Bali dapat diklasifikasikan dalam berbagai kelompok. Pertama Wanaspati, yaitu pohon besar berbuah tanpa bunga Pohon Beringin, Bunut, Ara.  Wriksa, yaitu pohon besar berbuah dan berbunga seperti Pohon Asem, Kemiri, Jeruk Bali, Cempaka.

Taru Lata, yaitu tumbuhan yang merambat seperti Sirih, Brotowali / Kantawali, Gadung, Tabya Bun. Gulma, yaitu tumbuhan perdu dan semak seperti silaguri, awar-awar, kem, gunggum. Trena, yaitu rumput-rumputan seperti alang-alang, adas, pegagagsn, kasegseg / krokot.

Sedangkan Bahan obat yang memakai air sebagai bahan utama dan sebagai penyerta obat, yaitu air laut, air hujan, air sungai, air danau, air bendungan, air kolam, air dari buah, air perasan daun, air pancoran, embun, salju, air kencing, air cucuran atap, air susu ibu, air kumkum.

“Toya Pramana ini terinspirasi dari lontar Usada Banyu / Usada We,” ungkapnya. 

Para Balian dianggap memiliki kekuatan lebih oleh masyarakat, termasuk memiliki taksu atau karisma. Sehingga Balian dalam prakteknya menggunakan daya magis ini untuk kesembuhan pasiennya.

Dikatakan Ida Bagus Suatama, kekuatan magis ini didapatkan dari ketekunan dalam melakukan Dyana atau meditasi, sembahyang, dan konsultasi dengan Balian Senior. Hal ini terinspirasi dari Usada Tiwas Punggung dan Dharma Sunia.

“Memperluas wawasan balian usada dengan mendalami tiga konsep utama keusadaan, yakni Sanghyang Budha Kecapi menekankan pentingnya memperluas daya budhi atau kecerdasan intelektual,” sebutnya.

Baca Juga: Cuma Gegara Hal Ini, Dua Remaja di Karangasem Berseteru hingga Alami Luka-luka

Ada pula Genta Pinarapitu menekankan pentingnya latihan yoga kundalini agar balian usada memiliki daya religius magis; dan Sastra Sanga menekankan pentingnya rasa bakti kepada Tuhan beserta manifestasiNya: Dewata Nawa Sanga (Panca Brahma dan Panca Tirta), Tri Murti (Brahma, Wisnu, dan Iswara), rwa bhineda (purusa pradana), Ongkara Pranawa (Siwa), dan kanda pat.

“Seorang Balian usada dalam menjalankan profesinya juga harus menaati sesana sebagai moral dan etika. Dalam konteks itu dikenal dengan istilah yama dan niyama. Sehingga Balian selalu memiliki kemampuan mendiagnosa, meramu obat, menerapi, dan menyugesti pasien berdasarkan pengamatan, penalaran, logis, danliteratur usada yang dipelajarinya,” katanya.

Suatama menyebut, Balian juga perlu mempraktikkan Yoga Sastra. Hal itu dilihat dari Alat Ritual, yaitu mempersiapkan tempat dan alat-alat ritual yang relevan, yaitu mandala tempat suci, matras sebagai alas duduk, kala atau waktu yang terpilih, rajah atau gambar suci maupun patung ista dewata, dan sarana pemujaan berupa banten.

Baca Juga: Makin Mudah dan Cepat, Nasabah Kini Bisa Aktifkan Rekening Dormant Lewat Super Apps BRImo!

Kemudian memperhatikan atau Asana, yaitu sikap duduk yang kuat dan menyenangkan. Pranayama, yaitu pengaturan napas dengan sistem pasuk wetu bijaksara rwa bhineda atau tri aksara.

Meditasi Panglukun Aksara, dilakukan dengan sistem pangelukun aksara, artinya memformulasi aksara suci dari dasa aksara menjadi panca brahma, kemudian menjadi tri aksara, lalu menjadi dwi aksara, dan akhirnya menjadi Ongkara Pranawa.

“Yoga Mantra, setelah pikiran balian usada terkonsentrasi pada bijaksara Ongkara Pranawa mereka mengucapkan mantra-mantra pemujaan dan mantra-mantra penyembuhan untuk memberikan daya magis religius dalam menghasilkan obat,” pungkasnya. (dik)

 

 

Editor : I Putu Mardika
#balian #keturunan #Pica #pengobatan tradisional #alternatif #taksu