Tokoh pemuda Desa Bugbug, Dr. Wayan Sudiarta, M.Pd mengatakan tidak ada lontar atau catatan tertulis sejak kapan tradisi Usaba Kaja dilaksanakan.
Namun, krama meyakini jika tradisi ini prosesinya dilaksanakan hampir satu bulan penuh. Prosesi dimulai dari pinanggal ping 10 nuju beteng pada Sasih Kasa.
Dari penuturan para pendahulunya, ritual ini dilaksanakan sebagai wujud syukur atas hasil bumi yang melimpah dan tanah yang subur.
Selain itu, dijadikan momentum untuk mempererat Paiketan atau hubungan sosial antara masyarakat desa adat Bugbug dengan masyarakat desa adat Datah. Paiketan ini mencakup pertalian persaudaraan, budaya, adat-istiadat yang sudah terjalin sejak lama.
Dikatakan Sudiarta, ritual ini terakhir dilaksanakan pada tahun 2008 silam. Adapun prosesinya ataupun Eed Karya upacara yang dilaksanakan di Desa Adat Bugbug dalam rangka menyambut Upacara Usaba Kaja dimulai dari Tabuh Gentuh.
Kemudian dilanjutkan dengan Piodalan Tambra Prasasti Pura Piit/Manda, Nyepi Desa, Wewayon Nyepi, Upacara Miyut, Ngenteg Linggih Ring Pura Dalem, Usaba Kelod/Aci Dalem, Wewayon Aci Dalem, Ngalemekin ring Pura Dalem, Nyepi Jagat, Usaba Beten (Ngaturang Piuning Usaba Kaja, Usaba Panggung/Pebantenan, Rame I, Upacara Mantuk Bhatara, Usaba Candidasa, Desa Ngawit Naldal Sesanganan Sarana Upakara Usaba Kaja.
Baca Juga: Surya Paloh Nonaktifkan Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach dari Anggota DPR, Dinilai Lukai Hati Rakyat
Kemudian dilanjutkan dengan Nangun Panggungan ring Segara, Upacara Melelasti, Desa Ngoreng Sesangganan Sara Upakara Usaba Kaja, Ngendek Nuhur ke Desa Datah dan Catur Desa, Munggah Sekar/Patenungan, Nangun Panggungan, Pecanigayan, Pebantenan/Puncak Karya Upacara Usaba Kaja/
Sudiarta menjelaskan saat prosesi inti dilakukan biasanya diawali dengan Prosesi Upacara Usaba Kaja dengan rangkaian pelaksanaan mulai dari Matur Piuning, Nuwasen, Nunas Tirtha, Mapepada, Melasti, Tawur dan Panyineban tetap berpedoman pada pola pelaksanaan upacara tawur.
“Matur piuning dan yasa kerti, dilakukan sebagai momentum untuk kesiapan mental, kesucian hati, serta senantiasa menampilkan pikiran, perkataan dan perbuatan yang suci, sehingga menodai kesucian dan pelaksanaan upacara Usaba Kaja,” ungkapnya.
Uniknya, para panitia atau pengromba karya juga diwajibkan mawinten. Mawinten bertujuan untuk membersihkan diri dari kekotoran yang melekat pada dirinya dengan menggunakan sarana air kumkuman yakni air yang berisi beraneka bunga harum.
Ia menambahkan Pawintenan terhadap fungsionaris pengurus-pengurus Desa Adat (Bendesa Adat), dengan segenap jajarannya, agar dalam melaksanakan Usaba Kaja ini semua dalam keadaan suci sehingga bisa mensukseskan acara.
Naldal merupakan pembuatan jajan untuk pelaksanaan upacara Usaba Kaja, yang bahannya dari beras ketan sebagai rangkaian prosesi ketiga dari Upacara Usaba Kaja Naldal.
Prosesi Naldal secara simbolis adalah membuat unsur-unsur lambang yang ada dijagat raya ini. Segala bentuk Sanganan secara bertahap mulai dikerjakan dan berbagai perlengkapan sesajen lainnya.
Dua hari jelang puncak Usaba Kaja, dilanjutkan dengan pembuatan panggungan disebelah utara Pura bale agung. Panggungan dipergunakan untuk tempat sesajen dan ditempatkan persis di tengah-tengah areal pura.
Selain membangun panggungan di Bale Patokan juga dibangun di depan Pura Puseh, untuk tempat pelinggih Ida Batara Puseh Bugbug dan Ida Batara sanking Datah serta tempat Banten Upakara Usaba Kaja.
Sehari sebelum puncak Upacara Usaba Kaja, diselenggarakan upacara Mapepada. Pelaksanaan upacara Mapepada ini di antar oleh Sulinggih, purwa daksina wewalungan dan malepas prani (nuwek) wewalungan.
Pemakaian jenis wewalungan pada Mapepada Usaba Kaja pagi tadi menggunakan wewalungan (binatang) yang tingkatannya lebih tinggi yaitu 2 ekor kerbau.
Upacara Mapepada Upacara Usaba Kaja. Prosesi ini dipimpin oleh para pemangku Pura Puseh Bugbug.
Baca Juga: Program Sidi Kumbara AdiCipta, Visi Bank BPD Bali Dalam Melayani UMKM
Usai upacara Mapepada, di natar jeroan Pura Puseh Bugbug dilakukan ritual membuat Bagia Pulakerti diawali oleh pemangku Pura Puseh Desa Adat Bugbug (nasarin bagia) kemudian dilanjutkan oleh pangayah-pengayah tukang banten.
Selain itu ada pula sarana berupa Bagia Pulakerthi. Sarana ini berbentuk gunungan ditampung dalam satu wadah (bakul) besar berisi berbagai jenis hasil bumi dan unsur alam, antara lain pala gembal, pala gantung, pala rambat, dan pala bungkah, 9 jenis buah kelapa yang melambangkan pangider bhuwana (8 arah penjuru angin dan 1 di tengah) serta unsur-unsur flora lainnya yang mewakili unsur-unsur alam.
Bagia Pulakerthi dibuat dua buah melambangkan purusa-pradhana atau laki-perempuan sebagai representasi unsur kelahiran dan kesuburan.
Pada saat Panyineban nanti upakara Bagia Pulakerthi ini akan di pendem atau ditanam di natar pura sebagai simbol pelestarian dan pengembalian unsur-unsur alam sebagai sumber kehidupan bumi.
Menariknya, Dalam upacara Usaba Kaja masyarakat pendukungnya mempergunakan gelungan yang terbuat dari daun lontar yang di Desa Adat Bugbug di sebut dengan tatopongan ental sesuai purana yang ada di desa bugbug, tatopongan ini dipergunakan khusus dalam upacara Usaba Kaja yang dilaksanakan 40 (empat puluth) tahun sekali sebagai upacara terbesar yang ada di desa adat bugbug.
Baca Juga: Uya Kuya Pasrah dan Iklas Rumah Dijarah Massa, Sedih Kucing Juga Diambil
“Mahkota di kepala melambangkan kebesaran, upacara terbesar dan sebagai simbul untuk mengekang segala pikiran yang tidak baik dalam pelaksanaan upacara Usaba Kaja yang datang dari segala arah,” sebutnya.
Sebagai kelengkapan dalam penyelenggaraan Usaba Kaja, dipersembahkan pula Tari wali yang menyempurnakan jalannya upacara.
Tari Wali tersebut berupa Topeng, Gong Gede, Gong Selonding, Rejang, Tari Mabwang, Wayang Lemah dan Kidung.
Wayan Sudiarta menjelaskan, sebelum penari rejang mulai menari didahului oleh Daa Teruna pasting yang terdiri dari anak-anak yang belum dewasa (mentruasi) yang merupakan anak-anak pilihan dari tokoh-tokoh masyarakat Desa Adat Bugbug.
Tari Abwang Kala ditarikan sebagai bentuk pembebasan roh jahat.
Tari Abwang dipentaskan didepan Pura Bale Agung lalu mengelilingi Pura Puseh dan diakhiri dengan melantunkan kidung suci bersama-sama untuk membersihkan dunia ini dari roh jahat.
Disamping pelaksaan Upacara Usaba Kaja pada malam harinya juga dilaksanakan rangkaian upacara mapinton bagi warga masyarakat baik yang ada di wilayah Desa Adat Bugbug atau yang ada di luar wilayah Desa Adat Bugbug.
“Kemudian ada Prosesi Ngayu-hayu (panyineban) diawali dengan pemujaan oleh Pemangku, dilanjutkan dengan pamuspaan (persembahyangan bersama), Nuwek Bagia (pralina upakara), Ngeseng Orti (membakar unsur pokok upakara) Mendem Bagia Pulakerti dan Nyineb Pralingga Ida Bhatara di Pura Puseh Bugbug,” jelasnya.
Baca Juga: Malam Mencekam di Pondok Bambu, Rumah Uya Kuya Dijarah dan Dibakar Massa
Bersamaan dengan selesainya pemujaan panyineban dilakukan oleh Pemangku.
Kemudian dilaksanakan pula upacara Bhojana yang bermakna sebagai ungkapan terima kasih kepada para pemangku yang berperan selama upacara Usaba Kaja.
“Upacara Bhojana diwujudkan dalam bentuk menghaturkan persembahan punia dan rayunan (hidangan) oleh penyanggra karya kepada para pemangku dilanjutkan dengan puja doa dan ditutup secara simbolis makan bersama oleh para pemangku yang hadir saat itu,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika