Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mitologi Watugunung Runtuh: Saraswati Menguatkan Guna dan Gina, Agar Nawang, Bisa, Dadi

I Putu Mardika • Jumat, 5 September 2025 | 23:17 WIB
Proses Banyupinaruh usai merayakan Hari Raya Saraswati
Proses Banyupinaruh usai merayakan Hari Raya Saraswati

BALIEXPRESS.ID-Hari Raya Saraswati yang jatuh pada Sabtu (6/9) ini sebagai simbolik turunnya dewa pengetahuan pada hari Saniscara Umanis Watugunug memiliki makna menguatkan guna (pengetahuan) dan gina (ketrampilan) sebagai bekal hidup.

Ketua PHDI Kecamatan Buleleng, Nyoman Suardika kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Jumat (5/9) mengatakan, sebelum memaknai Hari Raya Saraswati, terlebih dahulu mendalami makna dari Watungunung runtuh.

Menurutnya, perayaan hari Raya Saraswati memang berkaitan erat dengan serangkaian hari raya Hindu yang jatuh pada wuku Sinta, yaitu Banyupinaruh (Redite Paing Sinta), Somaribek (Soma Pon Sinta), Sabuhmas (Anggara, Wage Sinta), Pagerwesi (Buda Kliwon Sinta). “Hal itu tersirat dalam cerita, mitologi Sang Watugunung,” jelasnya.

Suardika menceritkan kisah Sang Watugunung yang sangat sakti mandraguna mendapat anugrah dari dewa Brahma.

Ia dapat mengalahkan dan menguasi 29 kerajaan (Sinta hingga Dukut). Perang tanding tidak terelakkan juga terjadi dengan dewa Wisnu yang saktinya ingin dipersunting oleh Sang Watugunung atas desakan dewi Sinta sebagai istri pampasan perangnya.

Akhirnya Sang Watugunung dapat dikalahkan oleh Dewa Wisnu dalam awataraNya berwujud Kurma (sejenis penyu) atas bantuan pesan rahasia Bhagawan Lumanglang.

“Kekalahan Sang Watugunung yang badannya jatuh ke bumi bertepatan pada hari Redite Kliwon Watugunung, yang pas saat itu hari pasaran Kajeng sehingga dikenal dengan sebutan Kajeng Kliwon Pamelas Tali, Watugunung runtuh,” ungkapnya.

Sebelum Sang Watugunung jatuh dan terbunuh, ia sempat mohon ampun dengan sebuah permintaan.

Dimana, jika jatuhnya di laut agar diberikan sinar matahari yang terik sehingga tidak sampai kedinginan, sebaliknya apabila jatuhnya di darat supaya diberikan hujan sehingga tidak sampai kepanasan.

“Oleh karena itulah maka ciri hujan ataukah panas terik yang terjadi pada saat hari Redite Kliwon Watugunung adalah sebagai tanda permohonannya terpenuhi seperti itu,” ungkap pria yang juga seniman tabuh dari Banyuning ini.

Benar saja, keesoksn harinya yakni pada Soma Umanis Watugunung ia meninggal, yang disebut sebagai Candung Watang. Selanjutnya, pada keesokan harinya, Anggara Paing Watugunung, mayatnya diseret-seret lalu hal tersebut dikenal sebagai hari Paid-paidan.

Keesokan harinya, Rabu Pon Watugunung, Sang Watugunung siuman, sadar diri, hidup kembali. Hal itu dilihat oleh dewa Wisnu lalu sertamerta ia dibunuh kembali sehingga hari itu disebut urip akejep, Buda urip.

Pada waktu-waktu selanjutnya, Sang Watugunung berulang kali dapat hidup kembali berkat belas kasihan dan bantuan dari Sapta Rsi. Akan tetapi selalu saja secara berulang kali pula ia dibunuh oleh dewa Wisnu.

Waktu terakhir kalinya, Bhagawan Sukra memohon dengan penuh rasa hormat dan memelas kepada dewa Wisnu supaya tidak ahimsa karma dan menghidupkan kembali serta mengampuni dosa-dosa Sang Watugunung.

Tibalah saatnya, Dewa Wisnu berkenan atas permohonan yang memelas dari Bhagawan Sukra dan sekaligus memberinya anugerah untuk menghidupkan kembali Sang Watugunung.

Terjadilah seperti yang diinginkan bahwa Sang Watugunung hidup kembali dengan penuh kesadaran bertobat untuk selama-lamanya, yang hari itu bertepatan pada Wrespati Wage Watugunung yang dikenal dengan sebutan Urip Makalantas.

Pada keesokan harinya, Jumat Kliwon Watugunung, Sang Watugunung menyucikan diri yang dilanjutkan dengan melakukan tapa, brata, yoga, dan semadi untuk memohon pengampunan dosa dan anugerah ilmu pengetahuan ke hadapan Ida Hyang Widhi, yang hari ini lalu disebut Pangredanan.

Oleh karena ketaatan, keteguhan, dan ketekunannya dengan penuh disiplin ia menjalankan sadana tapa, brata, yoga, dan semadi maka pada keesokan harinya, yakni Saniscara Umanis Watugunung.

“Sang Hyang Widhi menurunkan dan menganugerahkan ilmu pengetahuan suci (Weda) ke dunia melalui manifestasiNya, dewi Saraswati. Oleh karenanya maka hari itu disebut hari suci piodalan atau pujawali Hyang Aji Saraswati, dewanya iptek,” paparnya. 

Makna yang dapat dipetik terkait mitologi Watugunung runtuh agar senantiasa menghilangkan keras kepala, ego melalui belajar. Menurut Nyoman Suardika, semua bentuk ego dan keras kepala sebagai simbol dari awidya atau kebodohan.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam Wuku Watugunung. Pada hari Minggu (Redite) disebut Pemelas Tali (labuhnya watugunung).

Kemudian hari Senin (soma) disebut Candung Watang, Hari Selasa (anggara) disebut hari Paid-Paidan, Rabu (Buda) disebut Hari Urip, Kamis (Wraspati) hari Panegtegan dan Hari Jumat (Sukra) disebut Pangeradanaan dan Sabtu (Saniscara) sebagai hari turunnya Ilmu Pengetahuan.

Dikatakan Suardika, saat Redite, jika sudah runtuh atau labuhnya Watugunung, maka besoknya Hari Senin adalah candung watang pas. Secara filosofis, setelah ego habis, maka tubuh kita seperti mayat berjalan.

“Kenapa” karena kita baru menyadari jika kita ini adalah awidya. Kita baru sadar kalau egois,” ungkapnya.

Saat menginjak hari Selasa yang disebut hari Paid-paidan, maka itu artinya tarik menarik. Sheingga harus mampu menarik diri  untuk belajar segala hal dalam memperkaya pengetahuan.

Kemudian saat hari Rabu atau Buda itu simbol dari Budi atau idep. Artinya sikap humanisme itu harus bangkit. Semangat kemanusiaan itu bangkit.

“Kalau ini sudah bangkit, dan sadar akan manusa, maka manusa boya jadma, manah menjadi idep. Inilah buda urip. Ketika ini muncul, besoknya yakni Kamis adalah penegtegan, atau mempelajari sesuai dengan professional,” sebutnya.

Pada Hari Jumat atau sehari sebelum Saraswati disebut pangradanaan. Artinya sesuatu yang jauh untuk ditarik. Sehingga setiap manusia memiliki cita-cita. Ketika kita punya cita-cita luhur itu bisa dimaknai sebagai ngeredana.

Saat Hari Sabtu, maka itulah Hari Raya saraswati. Saat saraswati berlangsung, Suardika menyebut umat manusia sejatinya membutuhkan dua hal, yakni Guna dan Gina. Guna adalah Pengetahuan, dan gina itu ketrampilan.

“Inilah tetua kita menyebut nawang (tahu), bisa (mampu) dan dadi (professional). Inilah bekal karena berdasarkan sastra,” katanya.

Setelah manusia selesai menuntut ilmu, keesokan harinya, atau Redite wuku Sinta sama dengan banyu pinaroh.

Menurutnya, hal tersebut jika dianalogikan sama dengan wisuda. Dimana, Air pengetahuan itu yang menyucikan sehingga disebut wisuda.

“Atau legalisasi, pengesahan. Setelah selesai kuliah, disebut wisuda. Itu namanya banyu pina weruh,” pungkasnya. (dik)

 

 

 

Editor : I Putu Mardika
#watunggunung #Saraswati #sinta #hindu #Nyoman Suardika