BALIEXPRESS.ID - Desa Adat Sayan, Desa Sayan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar saat ini tengah melakukan Ngodak Sasuhunan Pura Dalem Gede Sayan. Uniknya, sasuhunan Barong menggunakan bahan bulu burung.
Ketua Panitia Ngodakan Sasuhunan, I Dewa Gede Agung Wirayuda, menjelaskan tradisi sakral Ngodak Sesuhunan Barong, Rangda maupun Pratima di pura setempat sebagai wujud bakti, pembersihan, dan pelestarian spiritual terhadap barong simbol pelindung desa.
Terlebih terdahulu rambut Sasuhunan Barong yang ada tradisi setempat dibuat kembali dengan menggunakan bulu burung kokokan.
“Sasuhunan Barong ini bukan sembarang yang dihiasi dengan bulu asli burung kokokan, burung suci yang hanya terdapat di wilayah tertentu di Bali seperti Petulu. Bulu kokokan melambangkan kesucian, ketenangan, dan keanggunan, serta dipercaya memiliki kekuatan magis yang menjaga keseimbangan antara dunia nyata dan dunia niskala,” paparnya.
Meski sempat menggunakan bulu Kuda, rambut Sasuhunan Barong kini dikembalikan menggunakan bulu Burung Kokokan.
Hal ini menandakan ngodak bukan hanya untuk memperbaiki, membersihkan debu atau kotoran fisik. Ini adalah pembersihan niskala.
“Apalagi bulu barong ini terbuat dari burung kokokan, yang sangat disucikan. Saat ini bulu Burung Kokokan terdiri dari 43 ribu bulu burung. Bahkan masing-masing banjar turut ngayah untuk memasang benangnya, dan saat ini disatukan dijahit oleh 11 juru jahit dari Banjar Sindu, Sayan," ujar Degung sapaan akrabnya.
Diungkapkan tidak semua barong di Bali menggunakan bulu burung kokokan.
Karena kelangkaannya dan nilai spiritualnya yang tinggi, hanya desa tertentu dengan garis keturunan spiritual yang kuat yang memiliki barong dengan bulu kokokan.
Tradisi ngodak juga menjadi momen penting untuk memperkenalkan nilai-nilai spiritual dan budaya kepada generasi muda.
Anak-anak dan remaja desa dilibatkan dalam mempersiapkan prosesnya dan sarana upacara hingga memahami makna setiap simbol yang digunakan.
“Ini bukan hanya pelestarian budaya, tapi juga pelestarian spiritual. Jika generasi muda tidak tahu, bisa-bisa hilang nantinya,” beber Degung, dengan harapan prosesi Ngodak ini sebagai memperekat generasi muda di Desa Sayan.
Dalam mempertahankan tradisi ini didukung juga oleh Desa Adat, Desa Dinas bahkan dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar sebagai bagian dari program pelestarian warisan budaya. Sekaligus sebagai penguat identitas spiritual masyarakat desa. *
Editor : Putu Agus Adegrantika