Akademisi STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Nyoman Suardika, S.Ag, M.Fil.H mengatakan, Lontar Tutur Lebur Gangsa seolah menjadi mercusuar pemahaman tentang karmaphala bagi umat Hindu khususnya di Bali.
“Kita beruntung. Karena mendapat pengetahuan yang mendalam dari lontar Tutut Lebur Gangsa menceritakan tentang Sancita Karmaphala, Prarabdha Karmaphala dan Kriyamana Karmapha. Ini menjadi obor agar kita bisa senantiasa berkarma baik,” jelasnya.
Suardika menambahkan, dalam teks Tutur Lebur Gangsa, pertama dimulai dengan Sancita Karmaphala. Seperti uraian teks di bawah ini. Bisukali manca, kilanden, tuli, pepengan, saroja, samangkana gendhaning wong sane salah kaluhurane nguni, karana mabekel lara tumitisnya, kringin bulakrik, ebuh, busung, doyog, kalimanca, lakeng banu, tuli, kepes, udug basur, latek, cekeli, kejer, matiwala, nujali, kepekih, kahangan, tan paputra, bleh bangran, salah pati, hedan, ika samijadma gring tumuwuh, amakta mala, amakta dhandha dumadi.
Baca Juga: Buruh Proyek Nekat Curi HP, Diringkus Polisi Saat Bekerja di Gianyar
Jika diterjemahkan Bisu, tuli, uring-uringan, saroja, demikianlah hukuman yang diterima karena tidak susila dahulunya, itu pula yang menjadi sebab kelahirannya, berbekal derita bulakrik (bulai), krengen (korengan), berpenyakit busung, jalan tidak normal, beri-beri, tuli, krempeng, buah pikirnya besar, cebol, kejang-kejang, mati muda, jamuran, tidak mempunyai keturunan atau tidak bisa mempunyai anak, mati tidak benar, gila, itu semua adalah penyakit karena lahir membawa :
“Secara eksplisit, uraian di atas menunjukkan tentang apa yang disebut sebagai Sancita Karmaphla yang mana menjelaskan tentang Phala (hasil) dari perbuatan (Karma) yang dilaksanakan dalam kehidupan sebelumnya,” imbuhnya.
Prarabdha Karmaphala, sesuai dengan uraian: Angku-aku dewa, angku-aku pitara, angrepata tani pedas saking agamaning usaddha, cendet tuwuh, satekan sahenahnya, anemu sasar mwang mangkana, Bhatara Dewa manendha ya, mwang kala manendha ya apan kasaluk dening bhuta kakrettan, dudu wong mangkana, nora manganggo sepat usaddha, mangaran dudukun, mangundang gendha, kalebu pati. Yaningwong mangleyak, handesti, aneluhi, anerangjana, anyetik, angracun, amateni wong tan padosa, nilib patining wong samanya.
Terjemahan: Apabila ada orang yang mengaku-ngaku Dewa, mengaku-ngaku leluhur, berkata-kata tidak jelas, tidak berdasarkan ajaran usada, orang yang demikian pendek umurnya. Datang dan perginya mendapat celaka.
Bhatara dan dewa mengukumnya. Kala pun menyiksanya, ia dirasuki oleh bhuta kakretan. Bukan manusia namanya orang demikian. Balian (dukun) yang tidak berpedoman kepada usada disebut dudukun. Menanggung dosa, terjerumus dijurang kematian.
Apabila ada orang menjadi leak, mendesti, meneluh, melaksanakan ilmu hitam terangjana, mencetik, meracun, membunuh orang tanpa dosa, membunuh orang tanpa alasan yang jelas, menjadi pengacau, mencari-cari kesalahan orang, membunuh orang secara misterius, suka mengada-ada, mendapat hukuman karubabaning langit.
“Intinya Prarabda Karmaphala menandakan semua atas hasil perbuatan buruk yang dilakukan hasilnya didapatkan pada kehidupan sekarang ini, tanpa menunggu kehidupan yang akan datang,” jelasnya.
Kemudian Kriyamana Karmaphala dijelaskan dalam uraian teks berikut. Yanyawong wadon lobha maringwong lanang, yanya nglesin lakinya amegat tresna, yanya manadi manusa, tumitisnya manadi asu wadon, kapastu dening Bhatara Guru, katemahdening guru, mwang babu pitara, mwang mangkana aninggalin somahnya, dudu ya wong, kudu ya maurip, tan wruh maring dhandha kajatiyan, nora wruh maring kapatiyani, wruh ya mangan juga, karana samangkana, apan ya kena upadrawa, katemah dening Sang Hyang Guru, mwah babu pitara, keni sapaning dewa, yan katekaning pati mwang mangkana, atmanya kalebok ring tanah, buat sasarnya, tan saya, rigetaning mala, papa klesa, dursila, tekaning patinya, sasar buat ya saka ring mati bingung, dadya salah ton, salah ujar, dadi salah paksa, salah palakunya kasalub dening bhuta dengen.
Terjemahan: Apabila perempuan doyan lelaki, gampang putus cinta, menceraikan lelakinya, penjelmaannya nanti menjadi anjing betina, karena dikutuk oleh Bhatara Guru, dikutuk oleh guru dan leluhurnya. Ia bukanmanusia namanya yang dengan tingkah laku demikian meninggalkan suaminya. Percuma ia hidup, tidak tahu hukum kebenaran. Tidak tahu hakekat kematian, tahunya hanya makan saja.
Oleh karena itu ia dikutuk oleh Bhatara Guru,leluhurnya dan dikutuk oleh Dewa. Bila ajalnya tiba, rohnya dijerumuskan ke dalam tanah. Sangat berat deritanya. Tidak putus-putusnya dirundungmalang, dosa papa. Tanpa susila sampai ajalnya tiba. Kelewat tersesat, kebingungan sampai di alam kematian. Karena dirasuki oleh Bhuta Dengen, ia menjadi salah lihat, salah ucap,salah keyakinan,salah laku.
Dalam teks Tutur Lebur Gangsa juga bisa dikaitkan dengan pangruwatan’pembersihan’, yaitu apabila terjadi hal-hal yang menyengsarakan. Selain berkaitan dengan hukum karmaphla, juga dapat dinetralisir dengan upacara pangruwatan, pembersihan.
Dikatakan Suardika, secara keseluruhan teks Tutur Lebur Gangsa, menguraikan tentang durmanggala. Yang artinya tanda atau isyarat yang buruk danjuga disertai tatacara pembersihan perihal tentang kadurmanggalaan.
Tanda-tanda atau isyarat tersebut membawa bahaya dalam bentuk peristiwa aneh. Tata cara pembersihannya diwujudkan dengan menggunakan sarana caru, dan disertai dengan mantra-mantra untuk mengiringinya.
“Jika ada leluhur yang dahulunya berbuat buruk, akan berdampak buruk pada kehidupannya sekarang, dan semua keturunannya akan bertanggung jawab atas perbuatannya tersebut,” paparnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika