Balian atau pengusada dalam tradisi Bali merupakan seorang pengobat tradisional yang tidak hanya memiliki sasana berfungsi menyembuhkan penyakit jasmani, tetapi juga rohani. Istilah usada berasal dari kata ausadhi dalam bahasa Sanskerta yang berarti obat atau pengobatan.
Akademisi Institut Mpu Kuturan, Nyoman Ariyoga M.Pd mengatakan, dalam praktiknya, terdapat beberapa jenis balian, antara lain balian usada yang menggunakan pengetahuan herbal berdasarkan Lontar Usada Taru Pramana.
Seperti balian tenungan yang mengandalkan intuisi dan wangsit sebagaimana dicatat dalam Lontar Usada Tenung, balian ketakson yang bekerja melalui perantara roh leluhur, serta balian manak yang berperan sebagai penyembuh bayi sebagaimana disebut dalam Lontar Usada Rare.
Dengan demikian, balian memiliki peran penting sebagai jembatan antara ilmu pengobatan tradisional, spiritualitas, dan tata kehidupan masyarakat Bali.
“Hubungan balian dengan agama, budaya, dan adat Bali sangat erat, sebab pengobatan tradisional tidak berdiri sendiri, melainkan berpadu dengan praktik religius,” katanya.
Dalam Lontar Usada Bali dijelaskan bahwa sasana pengusadha atau pengobatan sejati harus selalu disertai dengan upacara dan mantra suci agar tercapai keseimbangan antara sekala (nampak) dan niskala (tak nampak).
Baca Juga: Tetap Happy dan Selamat di Jalan, Astra Motor Bali Bagikan Jurus Cari Aman Berkendara
Selain itu, Lontar Aji Sangkya Tattwa menegaskan bahwa kesembuhan bukan hanya urusan tubuh, melainkan juga roh dan karma. Hal ini menunjukkan bahwa pengusada berfungsi sebagai penjaga harmoni kosmos(alam), sekaligus pelaku ritual yang melestarikan budaya dan adat Bali.
Maka, seorang balian bukan hanya penyembuh, tetapi juga memiliki sasana pelayan dharma yang menyatukan pengetahuan dengan keyakinan, serta melanjutkan tradisi leluhur dalam kehidupan sehari-hari.
Namun demikian, lontar juga memberikan peringatan keras terhadap balian yang menyalahgunakan pengetahuan sucinya. Lontar Sapatha Balian menyebutkan akibat negatif dari sasana (perbuatan) Adharma seorang balian:
“Yan hana balian anuh-unuh,
tan maweh ring satya dharma,
ngasuh guna ring ambek durjana,
sāpa ring jagat matilaran"
Baca Juga: Eksekusi Putusan Pengadilan, 9 Bidang Tanah di Kecamatan Dawan Resmi Dieksekusi
"Ayu tan dadi, uripnya murub kaya geni,
sarwa kasakit tan kapanggih tamba,
kramanya sirna tan hana ayu,
pati kaselang ring kala papa"
"Yan hana balian makarya ring lobha,
ngalantur ring suka pati jagat,
tan wenten guna, tan wenten śānti,
dadi ulih kutukan hyang wisesa"
"Sira tan laksana ring satyam,
tan jaga ring pawarah śastra,
sapa tan wruh ring rasa suci,
kasurupan ala, kawrat ring andhakara"
Terjemahan:
"Jika ada balian yang bertindak sewenang-wenang, tidak berpegang pada dharma, dan menggunakan ilmunya untuk niat jahat, maka kutukan akan menimpa dirinya di dunia"
"Kebaikan tidak akan diperoleh, hidupnya terbakar oleh api batin, berbagai penyakit datang tanpa penawar, keluarganya hancur tanpa kebahagiaan, dan ajalnya datang dalam sengsara"
"Bila balian bekerja karena tamak, mempermainkan kehidupan dunia, maka hilanglah gunanya, tiada kedamaian, dan ia akan tertimpa kutukan dari Hyang Wisesa"
"Barang siapa tidak setia pada kebenaran, tidak menjaga ajaran śāstra, serta buta terhadap kesucian, maka ia akan dikuasai kekuatan jahat dan terjerat dalam kegelapan"
Baca Juga: Kasus Tajen Berdarah di Kintamani, Mangku Luwes Jalani Sidang Perdana di PN Bangli
Kutukan di atas sejalan dengan prinsip yang ditegaskan dalam Lontar Tutur Bhuwana Kosa, bahwa orang yang mempermainkan kekuatan sakral demi keserakahan akan kehilangan keseimbangan hidupnya.
“Sapata ini menjadi pagar moral yang memastikan seorang balian tetap setia pada jalan dharma, tidak terjerumus pada adharma yang membahayakan dirinya dan masyarakat,” imbuh Ariyoga.
Ia menambahkan, seorang Balian sesuai sasana sebagaimana ditekankan dalam berbagai lontar, adalah memberikan pelayanan penyembuhan yang tulus dan suci.
Lontar Usada Carik menegaskan bahwa seorang pengusada harus menjunjung satya (kebenaran), sauca (kesucian), dan metri (welas asih).
Demikian pula Lontar Dharma Usada menyatakan bahwa ilmu pengobatan adalah titipan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sehingga wajib digunakan sebagai wujud bakti, bukan untuk kepentingan pribadi.
Dengan berpegang pada prinsip sastra agama Hindu, balian yang beretika akan menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan, sekaligus melanjutkan amanat leluhur.
“Peran balian sejati adalah menjaga keseimbangan kosmis melalui dharma, sehingga keberadaannya tetap suci, luhur, dan bermanfaat bagi masyarakat,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika