Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sarat Makna: Dangsil Simbol Sapta Bhuana, Meniru Bangunan Meru

I Putu Mardika • Kamis, 16 Oktober 2025 | 03:58 WIB

Dangsil saat upacara Ngusaba Bukakak di Desa Giri Emas, Kecamatan Sawan sarat akan makna simbolis
Dangsil saat upacara Ngusaba Bukakak di Desa Giri Emas, Kecamatan Sawan sarat akan makna simbolis
BALIEXPRESS.ID-Dangsil menjadi salah satu sarana yang digunakan oleh Umat Hindu di Bali pada saat upacara besar di pura yang ada di Bali. Bahkan, ada khusus upacara yang menggunakan dangsil sebagai sarana utama seperti Ngusaba Dangsil.

Jika dilihat, dangsil berbentuk meru dan bertumpang. Kerangkanya terbuat dari kayu, atau bambu sesuai dengan bahan yang ada lingkungan sekitar. Dangsil dibuat bertumpang dan di bawhanya ada dasarnya, bebaturan dan bagian atasnya.

Akademisi Dr. I Ketut Rupawan mengatakan, Kalau dilihat selintas, dangsil seperti bangunan. Tetapi, ini merupakan banten yang dibuat menyerupai bangunan meru. Dikatakan banten, meski kerangkanya terbuat dari bambu dan kayu, namun unsur pokoknya terbuat dari beras. Dan diisi jajan cacalan. Seperti jajan suci, jajan catur. Bangunan meru ini ditempeli dengan jajan yang terbuat dari beras.

“Ada dangsil tumpeng satu, tumpeng tiga, tumpeng lima, tujuh, sebilan dan sebelas. Ini biasanya dibuat dalam upacara besar seperti ngusaba. Kalau odalan biasa maka tidak menggunakan dangsil sebagai sarana utama,” kata Rupawan.

Banten berbahan jaja cacalan terbuat dari tepung beras ketan dibentuk menjadi jaja-jaja bekayu yang ditempel-tempelkan pada sebuah kerangka berbentuk meru. Pada tumpang atap terbawah terdapat rong/ruang paling besar diisi banten ayaban dan banten suci. Di puncaknya diisi orti bagia sedangkan dasarnya berupa kurmagni.

Baca Juga: Kursi Kosong di 8 OPD Karangasem Segera Terisi, Nama Calon Sudah di Meja Bupati

Bukan tanpa alasan penggunaan dangsil dalam ritual. Sumber Sastra menyebutkan pemakaian dangsil berasal dari sejumlah naskah suci. Seperti Lontar Pelutuk Dewa Yadnya, Widhisastra, dan Dewa Tattwa.

“Lontar-lontar itu dengan rinci menjelaskan jenis-jenis dangsil menurut tumpangnya, waktu pemakaiannya, banyaknya tumpang dangsil, peruntukannya, dan kelompok upakara pendampingnya,” ungkapnya.

Makna secara teologis dari penggunaan Dangsil juga dilihat dari Lontar Bhuana Kosa, Tattwa Jnana, Aji Sangkya, Jnana Siddhanta, maupun Bhuana Sangksepa. Mitologi (cerita suci) yang mendasarinya diuraikan sangat rinci dalam kitab Adi Parwa sehingga dapat dinyatakan dangsil adalah simbol dalam budaya Bali dijiwai teologi Hindu.

Pada kelompok lontar pertama disebutkan beberapa jenis dangsil menurut tumpang atapnya yaitu dangsil bertumpang 3,5,7,9, dan 11. Guna mengetahui hakikat dangsil maka dianalisis strukturnya dangsil bertumpang 7.

Struktur dangsil yang otonom dapat dibagi tiga bagian (Tri Angga) yaitu bagian atas, bagian tengah, dan bagian bawah. Bagian atas terdiri dari orti bagia di puncak atap teratas sebagai murda dan enam atap di bawahnya tersusun bertumpuk.

Pada atap terbawah dilengkapi sebuah bilik dilengkapi pintu/rong sehingga bentuknya mirip meru. Setiap atap ditutup dengan jaja bekayu. Di sudut-sudut atap dihiasi leenteer-leenter (rumbai).

Baca Juga: Membahayakan, Senderan Jalan di Gang Pudak Ubung Amblas Tergerus Banjir

Bagian tengah terdiri dari tujuh bagian beratap berupa pepalihan secara bertingkat, berlapis-lapis bertumpuk menyangga bagian atas dangsil.

“Bagian bawah dangsil adalah dasarnya berupa bedawangnala (kurmaraja/kurmagni dililit naga) dan di atas punggung kurmagni terdapat pepalihan tiga susun ditempeli pésan-pésan yang disusun berdiri Sebutnya.

Dangsil juga memiliki bagian yang disebut Orti bagia (bahasa Bali) berarti berita Bahagia. Bahkan, Dangsil ini merupakan ikon kebahagiaan yang didambakan dan menjadi tujuan hidup umat Hindu.

Dijelaskan Rupawan, Pada bilik ke tujuh dari atas yaitu bilik terbesar dengan rong dihaturkan banten pangambeyan. Berdasarkan gambaran tersebut maka dapat dikatakan bagian atas dangsil merupakan simbol Saptaloka, yaitu tujuh lapisan alam atas dari aņdabhuana (alam semesta).

Kekhususan dari Saptaloka adalah loka terbawah (bhuurloka) merupakan tempat tertimbunnya segala tattwa yang digambarkan dengan bilik terbesar. Bagian tengah dangsil berupa bebataran yang terdiri dari tujuh tingkat/lapis yang disusun bertumpuk menyangga bagian atas dangsil.

Gambaran itu menyatakan bagian tengah dangsil adalah simbol Saptapataala yaitu tujuh lapisan bawah aņdabhuana yang menyangga Saptaloka. Bagian bawahnya berisi kurmagni dililit naga, di atas punggungnya dihias tiga pepalihan yang dindingnya ditempel dengan pésan-pésan (pepes) yang berbeda bentuk dan isinya.

Semua pesan pada ketiga palihan ini dipasang berdiri menempel di sekeliling dinding pepalihan. Jika dilihat dari jauh ketiga jenis pesan ini laksana lidah api menggapai angkasa. Memperhatikan bagian ini yaitu kurmagni, naga, dan lidah api maka terbayang gambaran mengenai alam Balagardhaba Mahãnaraka.

Baca Juga: Bahas Dampak Pengurangan TKD, Bupati Satria Audiensi ke Kemendagri

Dangsil merupakan simbol bhuana agung (aņdabhuana). Sebagaimana dijelaskan pada lontar Tattwa Jnana maupun Bhuana Kosa bahwa struktur aņdabhuana terdiri dari tujuh lapisan yang berada di atas disebut Saptaloka (Sapta Bhuana; di bawahnya terdapat Saptapaatala (disebut Bhuana Sariira).

“Di bawahnya lagi terdapat alam disebut Balagardhaba Mahãnaraka tempatnya Sanghyang Kãlãgnirudra, api yang senantiasa berkobar-kobar (Sanghyang Kãlãgnirudra apuy dumilah sãdãkãla).

Mengenai tujuh lapisan Saptaloka pada bhuana agung, berturut-turut dari atas ke bawah adalah Satyaloka, Mahãloka, Janaloka, Tapaloka, Swarloka, Bhuwahloka, dan Bhûrloka. Bhûrloka adalah tempat tertimbunnya semua tattwa (Ndan ikang patimbunan ing tattwa kabeh).

Tujuh lapis dari Saptapatala adalah (dari atas ke bawah) yakniPataala, Wétala, Nitala, Mahatala, Sutala, Talatala, dan Rasatala.

“Tungguh berisi tujuh anak tangga, selalu sama dengan jumlah tumpang dangsil. Tungguh di samping dangsil secara imajiner merupakan anak tangga untuk membantu umat dalam proses mencapai puncak dangsil ketika meraih orti bagia,” paparnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #umat hindu #Sapta Patala #dangsil