Diawali pada 4 November 2025, umat Hindu merayakan hari Anggar Kasih Julungwangi, yang juga dikenal sebagai Anggar Kasih Penguduhan. Hari ini menjadi momen awal pembersihan parhyangan tempat suci keluarga sebagai persiapan menyambut Galungan.
Baca Juga: Tragis! Korban Kecelakaan di Jembatan Batu Dendeng Gianyar Ditemukan Tewas di Sungai
Keesokan harinya, 5 November, bertepatan dengan Purnama, yang diyakini sebagai waktu terbaik untuk melakukan pemujaan dan introspeksi spiritual.
Memasuki 13 November, umat melaksanakan Sugihan Jawa, dikenal pula sebagai Parerebon. Pada hari ini diyakini para Bhatara turun ke dunia, sehingga umat mengaturkan pengeresikan dan canang raka di merajan atau paibon.
Keesokan harinya, 14 November, dirayakan Sugihan Bali, simbol penyucian lahir dan batin kepada para Dewa.
Hari yang sama juga bertepatan dengan Kajeng Keliwon Uwudan, menambah kekuatan spiritual bulan ini.
Baca Juga: Shyne Clinic Genap 1 Tahun: Perkuat Misi Kecantikan Holistik Lewat “Wellness & Beauty Day”
Rangkaian menuju Galungan semakin intens pada 16 November dengan Hari Penyekeban, di mana umat diingatkan untuk mengendalikan diri dari pengaruh Bhuta Galungan.
Selanjutnya, 17 November adalah Penyajaan Galungan, saat umat memperteguh keimanan melawan godaan Bhuta Dunggulan.
Pada 18 November, Penampahan Galungan menjadi hari persiapan utama. Setelah matahari terbenam, dilakukan upacara biakala untuk menolak pengaruh negatif, diiringi pemasangan penjor sebagai lambang kemakmuran dan persembahan kepada Bhatara Mahadewa.
Puncak perayaan tiba pada 19 November 2025, Hari Raya Galungan, hari kemenangan dharma. Umat Hindu melakukan persembahan kehadapan Sang Hyang Widi sebagai ungkapan syukur atas terciptanya alam semesta dan anugerah kehidupan.
Keesokan harinya, 20 November, dirayakan Manis Galungan dan Tilem, yang diisi dengan sembahyang penyucian kepada leluhur. Setelah itu, 22 November menandai Pemaridan Guru, simbol kembalinya para Dewa ke Sunyaloka.
Rangkaian berlanjut dengan Ulihan pada 23 November, dan Pemacekan Agung pada 24 November, yang menegaskan doa keselamatan bagi umat dan alam.
Baca Juga: Dukung FLOII Expo 2025, BRI Dorong Ekosistem Hortikultura Indonesia ke Pasar Global
Menjelang akhir bulan, Buda Paing Kuningan pada 26 November menjadi hari pujawali Bhatara Wisnu, disusul Penampahan Kuningan pada 28 November, dan Kajeng Keliwon Enyitan pada 29 November.
Hari yang sama juga menjadi puncak Hari Raya Kuningan, saat umat menghaturkan sesaji untuk menyambut turunnya kembali Sang Hyang Widi beserta para Dewata dan Pitara.
Upacara hanya berlangsung hingga tajeg surya (pukul 12.00 siang), menandai berakhirnya masa suci dua mingguan yang penuh makna spiritual dan harmoni kosmis bagi umat Hindu di Bali. (dik)
Editor : I Putu Mardika