BALIEXPRESS. ID- Dalam suasana penuh keteduhan Hari Suci Purnama Kalima, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gianyar menggelar persembahyangan bersama di Padmasari Kantor Kemenag Gianyar, Rabu (5/11).
Kegiatan yang berlangsung khidmat ini dihadiri langsung oleh Kepala Kantor Kemenag Gianyar, I Gusti Ngurah Agung Wardhita, didampingi Kasi Pendidikan Hindu serta seluruh pegawai beragama Hindu. Rangkaian acara diawali dengan Puja Tri Sandhya, dilanjutkan dengan persembahyangan bersama yang dipimpin oleh Penyuluh Agama Hindu.
Dalam kesempatan tersebut, Penyuluh Agama Hindu juga menyampaikan dharma wacana bertema “Pentingnya Ajaran Navavidha Bhakti” yang mengajak ASN untuk menumbuhkan sembilan bentuk bhakti sebagai dasar pengabdian kepada Tuhan dan masyarakat.
Kepala Kemenag Gianyar, I Gusti Ngurah Agung Wardhita, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan hanya sebagai bentuk pelaksanaan dharma agama, tetapi juga sebagai sarana memperkuat nilai spiritual dan kebersamaan di lingkungan kerja.
“Melalui persembahyangan bersama ini, kami berharap seluruh ASN semakin meningkatkan bhakti, memperkokoh spiritualitas, serta menumbuhkan semangat pengabdian dalam melayani umat,” ujarnya.
Kegiatan persembahyangan bersama ini menjadi wujud nyata sinergi antara nilai-nilai keagamaan dan tugas kedinasan, sejalan dengan semangat moderasi beragama yang terus digaungkan oleh Kemenag Gianyar.
Purnama Kalima merupakan salah satu hari suci yang memiliki makna mendalam bagi umat Hindu di Bali. Purnama ini jatuh pada bulan kelima (sasih kalima) dalam kalender Bali, dan diyakini sebagai waktu ketika energi alam semesta berada pada puncaknya.
Secara spiritual, Purnama Kalima menjadi momentum bagi umat Hindu untuk memohon berkah, membersihkan diri secara lahir dan batin, serta memperkuat hubungan dengan Sang Hyang Widhi Wasa. Pada hari ini, umat biasanya melaksanakan persembahyangan di pura, melakukan introspeksi diri, dan memohon pencerahan spiritual agar dapat menjalani kehidupan dengan hati yang lebih suci dan damai.
Dalam tradisi masyarakat Bali, purnama tidak hanya sekadar fenomena alam, tetapi juga simbol keseimbangan dan kesempurnaan, di mana cahaya bulan purnama melambangkan penerangan batin. Oleh karena itu, Purnama Kalima sering dimaknai sebagai waktu yang tepat untuk merenungi perjalanan hidup, melepaskan energi negatif, dan menumbuhkan rasa syukur atas segala anugerah Tuhan.
Dengan demikian, perayaan Purnama Kalima bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga proses spiritual menuju kesadaran yang lebih tinggi, menuntun umat untuk hidup selaras dengan alam dan penuh welas asih terhadap sesama.
Sementara Penyuluh Agama Hindu Kemenag Gianyar, Ni ketut Santiani, menyampaikan dharma wacana, bahwa dalam ajaran Hindu terdapat bhakti atau pengabdian kepada Tuhan merupakan jalan spiritual yang penting untuk mencapai kebahagiaan sejati. Salah satu ajaran utama dalam bhakti yoga adalah Navavidha Bhakti, yang berarti sembilan cara pengabdian.
Istilah ini berasal dari bahasa Sanskerta: nava berarti sembilan, dan vidha berarti cara atau bentuk. Kesembilan bentuk bhakti ini menjadi pedoman bagi umat Hindu dalam menumbuhkan cinta kasih dan kedekatan spiritual dengan Sang Hyang Widhi Wasa.
Adapun sembilan cara tersebut meliputi, Shravanam, mendengarkan kisah, ajaran, dan keagungan Tuhan dari kitab suci atau guru spiritual.
Kirtanam, mengagungkan nama Tuhan melalui nyanyian suci atau kidung bhakti. Smaranam, mengingat Tuhan secara terus-menerus, seperti melalui japa atau pengulangan nama suci.
Padasevanam, menghormati dan melayani kaki Tuhan, yang dimaknai juga sebagai pelayanan tulus kepada guru atau sesama. Arcanam, melaksanakan pemujaan formal melalui persembahan dan upacara suci di pura.
Vandanam, memberi penghormatan tulus melalui doa, sikap, dan tindakan. Dasya, melayani Tuhan dengan sepenuh hati layaknya seorang abdi yang setia. Sakhyam, menjalin hubungan persahabatan dengan Tuhan, melihat-Nya sebagai sahabat sejati.
Aatmanivedanam, menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, mempersembahkan seluruh pikiran, ucapan, dan perbuatan.
“Menurut ajaran suci, menjalankan Navavidha Bhakti dengan tulus dapat membawa seseorang menuju kesadaran ilahi, menumbuhkan ketenangan batin, dan menyatukan diri dengan kehendak Tuhan,” papar Santi.
Lebih dari sekadar ritual, Navavidha Bhakti merupakan jalan hidup spiritual yang mengajarkan umat untuk memadukan keyakinan (sradha), ketulusan, dan pelayanan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui sembilan bentuk bhakti ini, umat Hindu diajak untuk selalu mengingat kehadiran Tuhan dalam setiap langkah kehidupan, baik melalui doa, karya, maupun pengabdian kepada sesama. *
Editor : Putu Agus Adegrantika