Dosen Pendidikan Agama Hindu, IAHN Mpu Kuturan, Nyoman Ariyoga, M.Pd menjelaskan penempatannya dalam kalender bukan sekadar urutan waktu, melainkan simbol masuknya umat ke tahap perenungan untuk menstabilkan kembali keadaan batin dan lingkungan keluarga sesuai dengan Sasana Hindu yang menekankan keharmonisan antara ritual dan pembinaan moral.
Pada hahikatnya hari suci Pemacekan Agung fungsi utamanya adalah memulihkan kejernihan rohani dan memastikan bahwa suasana suci pasca perayaan Galungan benar-benar berlanjut dalam perilaku sehari-hari.
Selain memperhalus vibrasi rumah, hari suci Pemacekan Agung memberikan ruang evaluatif agar umat mampu meninjau kembali arah hidupnya.
Secara kontekstual, hari suci Pemacekan Agung menghubungkan tatanan ritual dengan pembinaan karakter, sehingga dipandang sebagai momen rekonsolidasi energi positif di tingkat pribadi maupun keluarga.
Hal ini sejalan dengan Sasana Hindu, khususnya ajaran tentang peneguhan susila dan penguatan dharma dalam lingkup rumah tangga.
Secara umum di Bali, umat Hindu sembahyang dengan menghaturkan banten di merajan masing-masing. Upacara Pemacekan Agung dilangsungkan melalui susunan banten yang terfokus pada proses penyucian.
Banten yang umum dipakai antara lain panyeneng, prayascita, pejati alit, canang sari, daksina, dan tirtha penglukatan sebagai unsur membersihkan segala mala/noda niskala yang melekat pada diri.
Ariyoga menyebut, umat Hindu menghaturkan banten yang lainya, sesuai dengan Desa Mawacara di wilayah masing-masing. Semua prosesi upacara ini dilaksanakan dengan ketulusan kemudian ditutup dengan sembah bakti dan nunas tirtha wangsuhpada.
“Keseluruhan rangkaian bersifat sederhana, namun memberi ruang kontemplatif bagi keluarga untuk melangkah menuju Kuningan,” ungkapnya.
Selain menghaturkan banten dan sembahyang, pada hari suci Pemacekan Agung umat dianjurkan menempuh Brata/pengendalian diri berupa pengendalian aktivitas, ketertiban ucapan, ketenangan pikiran, serta memperbanyak japa. Sejalan dengan Brata tersebut secara normatif terdapat dalam Lontar Dharma Kahuripan sebagai berikut:
“Mepasah ri wacana, ri manah, ri sarira; teka ring Rahayu.”
Terjemahanya:
“Kendalikan ucapan, pikiran, dan tubuh; niscaya datang keselamatan.”
Brata tersebut bertujuan menata ulang kondisi batin sehingga umat tidak hanya menjalankan aspek ritual, tetapi juga meningkatkan kualitas etis dalam dirinya.
Makna mendalam Pemacekan Agung dijelaskan dalam Lontar Tutur Gong Besi sebagai berikut:
“Soma keliwon kuningan, ring dina ika katon ikang jnana tattwaning jnana.”
Baca Juga: Mangupura Platycerium Exhibition, Tampilkan Simbar Import
Terjemahanya:
“Pada Soma Keliwon Kuningan tampaklah kehalusan hakikat pengetahuan.”
Ajaran ini memperlihatkan bahwa hari tersebut dipahami sebagai fase peka secara spiritual, saat manusia lebih siap menangkap pengetahuan halus yang biasanya terabaikan dalam rutinitas.
Pandangan serupa muncul dalam Lontar Sundarigama yang menyatakan:
“Wenten ring macekan agung, hana kala nirmala lumrā ring hati jñananing wwang.”
Teerjemahan:
“Dalam Pemacekan Agung hadir cahaya suci yang menerangi hati dan pengetahuan manusia.”
Ariyoga menambahkan, kedua lontar ini menunjukkan konsensus tekstual bahwa Pemacekan Agung berfungsi sebagai sarana penyempurnaan batin, bukan sekadar bagian kecil dari rangkaian Galungan.
Nilai-nilai yang terdapat pada hari suci Pemacekan Agung mencakup kemampuan umat mengatur diri, ketulusan, pola hidup bersih, dan keteguhan moral.
Prinsip tapa (kedisiplinan), dama (pengendalian diri), dan sauca (kesucian) menjadi inti pengembangan karakter yang menuntun umat menuju perilaku yang lebih disiplin dan jujur.
Menurutnya, Pemacekan Agung dapat dipahami sebagai media pendidikan Sasana Hindu yang mengikat aspek ritual dengan pembiasaan hidup yang lebih matang.
Adapun ajaran secara implinsif untuk generasi muda Hindu, Pemacekan Agung memberikan pesan bahwa spiritualitas hanya bermakna jika diterjemahkan dalam tindakan.
“Kesucian bukan hanya tampak dari upacara saja, tetapi dari konsistensi menjaga pikiran, perkataan, dan tindakan sesuai dengan dharma,” paparnya.
Dengan memahami tattwa hari suci Pemacekan Agung yang terdapat dalam sastra Hindu serta konteksnya. “Generasi muda Hindu dapat memaknai hari suci ini sebagai sumber kekuatan moral yang relevan untuk menghadapi dinamika modern dan tetap berpijak pada Sasana atau nilai-nilai dharma, yakni perilaku benar, sikap bijaksana, kasih sayang dan komitmen pada keselarasan hidup,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika