Selain bertuga mengasah dengan kikir kedua gigi taring dan empat buah gigi seri dirahang atas, sangging juga memberikan pengurip gigi yang dibuat dari kunyit, kapur sirih dan gosokan kayu cendana.
Ketua PHDI Kecamatan Buleleng, Nyoman Suardika mengatakan upacara metatah atau sering juga disebut dengan mepandes bersumber dari berbagai lontar. Seperti Lontar Puja Kalapati, Lontar Kala Tattwa, Lontar Smarandhana.
Dalam Lontar kalapati disebutkan bahwa potong gigi sebagai tanda perubahan status seseorang menjadi manusia sejati yaitu manusia yang berbudi dan suci sehingga kelak di kemudian hari bila meniggal dunia sang roh dapat bertemu dengan para leluhur di sorga Loka.
Lontar Kala tattwa menyebutkan bahwa Bathara Kala sebagai putra Dewa Siwa dengan Dewi Uma tidak bisa bertemu dengan ayahnya di sorga sebelum taringnya dipotong. Oleh karena itu, manusia hendaknya menuruti jejak Bathara kala agar rohnya dapat bertemu dengan roh leluhur di sorga.
Sedangkan dalam lontar Semaradhana disebutkan bahwa Bethara Gana sebagai putra Dewa Siwa yang lain dapat mengalahkan raksasa Nilarudraka yang menyerang sorgaloka dengan menggunakan potongan taringnya.
Dikatakan Suardika, prosesi potong gigi hanya merupakan simbolisasi saja. Metatah memiliki tujuan untuk melenyapkan kotoran dan cemar pada diri pribadi seorang anak yang menuju tingkat kedewasaan.
“Kotoran dan cemar tersebut berupa sifat negatif yang digambarkan sebagai sifat Bhuta, Kala, Pisaca, Raksasa dan Sadripu(enam musuh dalam diri manusia). Sad ripu meliputi Kama (hawa nafsu), Loba (rakus), Krodha (marah), Mada (mabuk), Moha (bingung), dan Matsarya (iri hati),” kata Suardika.
Gigi yang ada bukan dipotong tetapi diratakan dengan menggunakan kikir. Ada 6 gigi atas yang diratakan, termasuk gigi taring, ke 6 gigi inilah yang melambangkan Sad Ripu. Prosesinya hanya memakan waktu sekitar 10 sampai 15 menit. Dengan catatan, yang melakukan haruslah seorang yang ahli yang disebut sangging.
Para sangging biasanya orang yang telah di inisiasi menjadi Pinandita yang memang memiliki ketrampilan untuk itu. Mereka yang menjadi sangging sebelumnya sudah pernah menjalani prosesi mawinten. Baik dengan banten ayaban bebangkit maupun penyucian diri dengan memuja Dewi Saraswati dan Bathara Gana yang berfungsi sebagai pelindung manusia.
Mantra-mantra harus diucapkan oleh sangging sebelum melakukan tugasnya supaya upacara berjalan dengan lancar dan semuanya dilakukan di bale keluarga.
Baca Juga: Janger Galuci, Hiburan Sekaligus Perkenalan Tradisi kepada Kalangan Muda
“Sangging yang juga memiliki kekuatan supranatural ini lalu mengeluarkan sebuah cincin merah delima dan menuliskan rajahan Ongkara pada gigi dan dada,” imbuhnya.
Cincin ini berfungsi sebagai proteksi dari serangan ilmu hitam dari orang yang tak suka pada mereka. Menariknya, tempat metatah biasanya juga dijaga ketat oleh beberapa orang anggota keluarga dan juga yang memiliki kekuatan supranatural.
“Oleh karena itu upacara metatah tak pernah dilakukan hingga sang surya berada di puncak langit. Termasuk juga menggunakan rerajahan Semara Ratih dengan tujuan untuk menangkal serangan magic seperti desti, teluh yang berniat menggagalkan acara,” ungkapnya.
Sebelum upacara dimulai, orang yang giginya akan dipotong terlebih dahulu mulutnya diganjal dengan potongan dari kayu dadap atau tebu. Kemudian kumur-kumur dengan air perasan kunir lalu diakhiri dengan mengigit daun sirih pertanda berakhirnya proses metatah. Air liur yang keluar yang keluar ditampung dalam sebuah kelapa gading dan biasanya dipegang oleh ibu kandung.
Setelah itu merekapun diperciki dengan air suci atau Tirtha Pembersihan/Penyucian oleh Sangging. Lalu mereka pun bersembahyang di merajan keluarga, dipimpin oleh seorang pedanda untuk memohon perlindungan dari Sang Hyang Widi Wasa untuk memasuki tahapan baru dalam hidup mereka.
“Kepada leluhur mereka minta didoakan dan direstui jalan hidupnya yang dilambangkan dengan penggunaan sarana berupa Kewangen,” imbuhnya.
Ada sejumlah perlengkapan yang dibawa Sangging saat melakukan tugasnya memotong gigi. Perlengkapan tersebut seperti Kelapa Gading yang dikasturi, cabang dadap, tebu, bokor hingga cincin mirah.
Nyoman Suardika yang juga dosen IAHN Mpu Kuturan menambahkan, Kelapa gading yang digunakan wajib dikasturi.
Airnya dibuang dan ditulis gambaran Ardhanaresvari (gambar Smara Ratih). Kelapa gading ini akan dipakai sebagai tempat “ludah” dan “Singgang gigi (pedangal)” yang sudah dipakai. Setelah upacara, kelapa gading ini dipendam di belakang Sanggah Kamulan.
Sedangkan untuk singgang gigi atau pedangal, biasanya menggunakan tiga potong cabang dapdap dan tiga potong tebu malem atau tebu ratu. Rata-rata, oanjang pedangal ini kira-kira mencapai 1,5 cm.
Selanjutnya sarana yang digunakan adalah Pengilap. Sarana ini juga disebut sebagai cincin bermata mirah. Uniknya, cincin inilah yang dipakai untuk menulis atau ngerajah gigi saat proses metatah.
Ada pula sarana Pengurip-urip yang dibuat dari empu kunir (inan kunyit), yang dikupas sampai bersih dan kapur atau pamor. Sarana ini dipakai setelah selesai metatah untuk pertama kali yang ditatah menggigit kunir dan kapur pengurip ini.
Sebuah bokor yang berisi kikir, cermin, pahat, palu. Biasanya pengilap atau mirah dan pengurip-urip tersebut di atas diletakkan menjadi satu di bokor ini.
Sebuah tempat yang berisi sirih lekesan, tembakau, pinang, gambir. (Di dalam sirih sudah berisi kapur).
“Beberapa potong kain umumnya kondisinya yang baru yang difungsikan sebagai penutup badan pada waktu upacara (rurub). Banten tetingkeb yang akan diinjak pada waktu turun dari bale petatahan setelah upacara selesai,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika