Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Moderasi Beragama dalam Hindu, Semai ajaran Vasudhaiva Kutumbakam, Semua adalah Bersaudara

I Putu Mardika • Jumat, 12 Desember 2025 | 20:48 WIB

Dosen Pendidikan Agama Hindu, IAHN Mpu Kuturan, Nyoman Ariyoga, M.Pd
Dosen Pendidikan Agama Hindu, IAHN Mpu Kuturan, Nyoman Ariyoga, M.Pd
BALIEXPRESS.ID-Nilai moderasi dan toleransi tidak hanya sebatas ucapan yang menggema selama ini. Namun juga tersurat dan tersirat begitu jelas dalam berbagai pustaka suci Hindu yang mencerminkan nilai universal.

Dosen Pendidikan Agama Hindu, Institut Mpu Kuturan, Nyoman Ariyoga M.Pd.H menjelaskan bahwa moderasi adalah cara pandang dan sikap hidup yang menempatkan segala sesuatu secara adil, seimbang, dan tidak berlebihan, sehingga seseorang mampu menghindari ekstremitas dalam berpikir maupun bertindak.

Moderasi menekankan kemampuan untuk menjaga kewajaran, menggunakan akal sehat, menghargai perbedaan, serta menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan kelompok.

Moderasi beragama dalam Hindu sesungguhnya bukan gagasan baru, melainkan napas yang sejak lama hidup dalam ajaran-ajaran tattwa Hindu. Hindu memandang kehidupan sebagai ruang bersama yang mesti dijaga keseimbangannya.

Hal ini bukan hanya antara manusia dan Tuhan, tetapi juga antara manusia dengan sesama serta dengan alam sekitarnya. Dari perspektif inilah moderasi menemukan relevansinya, terutama ketika ditempatkan dalam realitas kebangsaan Indonesia yang majemuk.

Menurutnya, Indonesia merupakan negeri dengan keragaman yang luar biasa, dari  agama, suku, bahasa, dan budaya. Kemajemukan ini tumbuh saling berdampingan dalam satu kesatuan negara Indonesia. Keberagaman ini adalah kekuatan, namun sekaligus dapat menjadi titik rawan bila tidak dikelola dengan kebijaksanaan.

Di sinilah moderasi beragama menjadi kebutuhan, bukan sekadar pilihan. Tanpa sikap moderat, perbedaan dapat mudah dimanfaatkan untuk memecah-belah, menimbulkan prasangka, atau bahkan melahirkan konflik sosial," katanya.

Maka, kemampuan untuk merawat perbedaan adalah syarat mutlak bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa.

Dalam wajah keberagaman inilah, agama Hindu memberikan kontribusi nilai yang sangat penting. Ajaran Tat Twam Asi, yang sejatinya mengajarkan bahwa diri kita dan orang lain pada hakikatnya satu, menanamkan kepekaan mendalam terhadap martabat setiap individu.

Ketika nilai ini dihidupi dalam konteks Indonesia, ia menjadi pijakan kuat untuk menolak intoleransi dan kekerasan atas nama agama. Moderasi beragama, dalam hal ini, bukan hanya sikap teologis, tetapi juga etika sosial yang menjaga harmoni di ruang publik.

Demikian pula ajaran Vasudhaiva Kutumbakam, bahwa seluruh dunia adalah satu keluarga, secara langsung menjawab tantangan keberagaman Indonesia. Gagasan ini meneguhkan bahwa kemajemukan bukan ancaman, tetapi bagian dari tatanan kosmis.

Lanjut Ariyoga, dalam kehidupan berbangsa, ajaran ini mendorong kita untuk melihat warga yang berbeda agama bukan sebagai “orang lain”, melainkan sebagai sesama anak bangsa yang harus dirangkul dengan rasa hormat dan empati.

Ajaran Tri Hita Karana melengkapi pandangan tersebut dengan menekankan keseimbangan antara manusia, Tuhan, dan alam. Dalam konteks Indonesia, keseimbangan ini menjadi pedoman agar praktik keberagamaan tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan peribadatan saja, tetapi juga berdampak pada kehidupan sosial yang lebih rukun.

Moderasi beragama lahir dari kesadaran bahwa spiritualitas sejati memerlukan harmoni sosial, sehingga sikap ekstrem, intoleran, atau fanatik berlebihan dapat merusak keseimbangan yang lebih luas.

Agama Hindu terdapat ajaran Rwa Bhineda, yang menegaskan bahwa segala sesuatu hadir berpasangan dan berbeda, menjadi dasar filosofis yang sangat relevan bagi bangsa dengan keragaman seperti Indonesia.

Perbedaan pandangan, keyakinan, dan budaya bukan hanya wajar, melainkan merupakan kemajemukan yang harus dijaga dan dirawat. Oleh karena itu, hidup berdampingan dengan agama lain bukan sebuah beban, melainkan kesempatan untuk tumbuh dalam kebijaksanaan.

"Hindu sebagai salah satu agama di Indonesia memiliki modal spiritual yang kuat untuk membangun budaya moderasi. Nilai-nilai Hindu yang terbuka, inklusif, dan adaptif menjadi penopang penting bagi upaya menjaga persatuan nasional," imbuhnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, moderasi ini tampak dalam bentuk sederhana seperti menghormati rumah ibadah agama lain, terlibat dalam gotong-royong lintas agama, serta mengedepankan dialog ketika terjadi perbedaan pandangan.

Di tengah arus informasi yang cepat, moderasi bukanlah bentuk kompromi terhadap nilai agama, tetapi kekuatan moral untuk tetap tenang, jernih, dan bijak.

Moderasi beragama dalam Hindu mengajarkan kita untuk tetap teguh dalam dharma, namun lembut dalam cara berinteraksi.  Kokoh dalam keyakinan, namun tidak menutup diri dari perbedaan, dan setia pada tradisi, tetapi tetap mampu bertumbuh mengikuti perkembangan zaman.

Sejatinya kita harus hidup bermoderasi di Indonesia, karena masa depan bangsa ini sangat ditentukan oleh kemampuan kita merawat keberagaman dengan kedewasaan.

Moderasi beragama menjadi jembatan yang memastikan bahwa perbedaan tetap berada dalam bingkai persaudaraan.

Melalui ajaran-ajaran Agama Hindu yang menekankan welas asih, keseimbangan, dan kedamaian, umat Hindu memiliki peran besar dalam memperkuat harmoni nasional dan menjaganya supaya Indonesia tetap menjadi rumah yang damai bagi semua.

Pandangan ini selaras dengan nilai universal yang diajarkan dalam sloka Bhagavadgita 4.11:

"Ye yathā māṁ prapadyante tāṁs tathaiva bhajāmy aham mama vartmānuvartante manuṣyāḥ pārtha sarvaśaḥ."

Terjemahanya:

“Jalan apa pun yang ditempuh umat-Ku untuk mendekati-Ku, Aku terima mereka dalam jalan itu; semua manusia, wahai Partha, menempuh jalan-Ku dalam berbagai cara.”

Sloka ini menegaskan bahwa Tuhan menerima setiap manusia melalui jalan spiritualnya masing-masing.

Pesan universal tersebut menyatu dengan semangat moderasi beragama, yaitu menghargai perbedaan, mengakui beragam jalan kebenaran, serta menempatkan kedamaian sebagai landasan hidup bersama.

"Dengan memahami dan menghayati ajaran ini, umat Hindu dapat berkontribusi secara nyata dalam merawat toleransi dan memelihara harmoni di Indonesia yang majemuk," pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#toleransi #moderasi beragama #hindu #Majemuk #budaya