Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kesenian Cekepung Desa Buda Keling, Gunakan Tiga Bahasa, Dipentaskan saat Upacara Agama

I Putu Mardika • Kamis, 25 Desember 2025 | 21:50 WIB

Pemain Kesenian Cekepung di Desa Adat Budakeling, Kecamatan Bebandem, Karangasem
Pemain Kesenian Cekepung di Desa Adat Budakeling, Kecamatan Bebandem, Karangasem
BALIEXPRESS.ID-Desa Adat Budakeling, Kecamatan Bebandem, Karangasem memiliki kesenian unik yaitu Cekepung. Pementasan Cekepung juga kerap dilakukan saat ada ritual di Desa Adat Budakeling.

Banyak yang menafsirkan jika Kesenian Cekepung dengan Genjek adalah sama. Padahal antara cekepung dan genjek keduanya sangatlah berbeda. Kesenian Tari Cakepung adalah sebuah kesenian dengan pakem-pakem yang khas dan tegas.

Dengan bunyi-bunyian yang dihasilkan dari mulut dan beirama sangat khas. Tari Cekepeung berasal dari bunyibunyian khas iringan musiknya, yaitu suara vokal ritmis yang mirib dengan suara-suara yang dilantunkan secara koor dalam cak.

Ketua Perintis Pembangkitan Kesenian Cekepung Desa Adat Budakeling, Ida Made Basma menceritakan Cekepung merupakan kesenian rakyat yang digunakan sebagai ajang untuk hidup bermasyarakat di Buda Keling.

Pada awal keberadaanya di Desa Buda Keling, Kesenian Cekepung begitu digemari oleh setiap masyarakat. Bahkan, kesenian Cekepung selalu dipentaskan disetiap acara keagamaan di Buda Keling.

keberadaan kesenian Cekepung tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan Kerajaan Karangasem pada abad ke 17. Dengan Rajanya yang pertama bernama Gusti Ketut Karang yang memusatkan pemerintahan di Batu-Aya.

Baca Juga: Jalan Bijak Moderasi Beragama untuk Bali yang Harmonis

Ia menceritakan, keberhasilan pasukan Karangasem menundukkan Lombok berkat petunjuk dan anugrah yang didapatkan oleh raja Karangasem di Pura Bukit. Yang mana Pura Bukit tersebut dipercaya sebagai stana dari I Gusti Ayu Karangasm dan Putra yang moksah.

Dikisahkan bahwa Pasukan Karangsem Ke Lombok disertai dengan Pasukan Kupu – Kupu Kuning. “Kesenian Cekepung bahkan dinyatakan sebagai jarahan kerajaan Karangasem terhadap kerajaan Lombok,” jelasnya.

Raja Karangasem I Gusti Wayan Karangasem dan adiknya yang merupakan panglima perang kerajaan yakni I Gusti Ketut Karangasem merupakan pecinta seni dan sastra. Hal ini dapat di lihat dalam salah satu poto yang terpajang di Taman Ujung Sukasada dimana I Gusti Ketut Karangsem terlihat menbaca Lontar di hadapan ayahnya.

“Sehingga sangat jelas jika beliau tertarik dengan kesenian sesasakan yang selanjutnya dimodifikasi menjadi kesenian cekepung untuk untuk dikembangkan di Karangasem,” ungkapnya.

Untuk mewujudkan keinginan raja Karangasem membawa kesenian Sasakan ke Karangasem, Raja Karangsem mengajak seniman Karangasem yang berasal dari Budakeling sebanyak tiga orang berangkat ke Lombok. Ketiga seniman tersebut diantaranya Ida Wayan Oka Tangi, Ida Made Putu dan Ida Ketut Rai. Ketiga seniman tersebut bersaudara yang merupakan kakek dari tokoh cekepung di Desa Budakeling.

Ketiga seniman tersebut memiliki tugas masing masing-masing. Ida Wayan Oka Tangi bertugas mempelajari lontar monyeh berserta pupuhnya. Ida Made Putu mempelajari sesulinganya dan Ida Ketut Rai mempelajari rebabnya. Ketiga seniman tersebut berhasil menguasai kesenian tersebut dengan mahir.

Baca Juga: Mengenal lebih jauh faktor resiko penyakit jantung koroner dan cara pencegahannya

Karena bahasanya dominan menggunakan Bahasa Sasak dan kesenian tersebut berasal dari Lombok maka disebut kesenian Sasakan. Ketiga seniman tersebut miliki skil bagus pada bidangnya masing masing.

“Kemampuan berpupuh dari Ida Wayan Tangi menurut Ida Made Basma tidak ada yang bisa menandingi, begitu pula dengan kemampuan saudaranya dalam memainkan suling dan rebab,” paparnya.

Singkat cerita, kesenian cekepung dalam perkembangannya di Desa Budakeling Kabupaten Karangasem tidak bisa lepas dari sejarah penyerangan Karangasem terhadap kerajaan Lombok. Maka tembang macepat yang dikarang oleh seniman cekepung karangasem (Ida Wayan Tangi) menceritakan tentang sejarah serta perjalanan tentara Karangasem menyerang kerajaan Lombok.

“Bahasa yang digunakan tetap tiga bahasa yaitu Lombok, Bali dan Jawa Kuno. Bait-bait tembang mecepat tersebut menggambarkan kisah perjalanan prajurit Karangasem ke Lombok dari awal samapi kemenangannya,” sebut Basma.

Sebagai kesenian lokal masyarakat Budakeling, Kesenian Cekepung dalam perkembanganya digunakan sebagai media penanaman rasa kebersamaan. Wujud nyatanya adalah kesenian Cekepung selalu ditampilkan dalam upacara nyadnya masyarakat Budakeling.

Setiap masyarakat Desa Budakeling memiliki upacara nyadnya baik dewa yadnya, manusia yadnya, pitra yadnya para seniman cekepung datang dengan sukarela tanpa harus diundang. “Jika ada upacara nyadnya rasa kebersamaan sangat terlihat. Sehabis pertunjukan biasanya diikuti dengan acara makan bersama yang disebut megibung,” imbuhnya.

Baca Juga: Pendidikan Budi Pekerti Hindu sebagai Fondasi Moral Generasi Masa Depan

Disamping itu juga diikuti dengan acara matuakan. Matuakan merupakan budaya minum bersama pada masyarakat Karangasem di Desa Budakeling. Minuman yang digunakan adalah tuak. Tuak merupakan air sadapan dari lontar atau kelapa. Minuman tuak mengandung alkohol bisa memabukkan. Terkadang tidak jarang para seniman cekepung mabuk yang menyebabkan penampilan seniman cekepung semakin kocak.

Perkembangan kesenian cekepung masa kini dan sekarang sangat berbeda. Sebagai bagian dari tradisi berkesenian pada masa jayanya kerajaan Karangasem yang berada di Lombok seni tari cakepung sangat digemari oleh kalangan masyarakat Budakeling.

Sehingga dalam kehidupan sosial yang terjadi di masyarakat Karangasem di Desa Budakeling pada masa lalu tari cakepung dengan kesusastraannya menjadi satu bagian dalam acara-acara tertentu. Misalnya dalam upacara Kematian, Pembacaan Kesusastraan Monyeh merupakan bagian yang memberi rasa haru dan kesedihan bagi pendengar yang ikut dalam upacara kematian tersebut.

Selain itu juga dalam upacara perkawinan, menyambut upacara kelahiran dan manusia yadnya lainnya juga mendarah daging dengan dimeriahkannya oleh tari cakepung.

“Masyarakat yang mengenal sejarah dari pada tari cakepung tersebut merasa wajib untuk mempertahankannya karena memiliki hubungan yang erat dengan sejarah leluhur masa lampau,” katanya.

Baca Juga: Investasi Makin Rasional, Masyarakat Buleleng Perlu Perhatikan Peluang Ekonomi 2026

Kesenian Cekepung pada dasarnya menggunakan musik vocal dengan bunyi “cak, pung, cak pung” dan bunyi musik lain yang ditirukan dengan menggunakan mulut. Suara musik yang ditirukan dengan mulut diantaranya kendang, cengceng, kemok.

Ida Made Basma menjelaskan para pemain Cakepung menyanyikan lagu-lagu macepat tanpa iringan. Mereka menirukan suara instrumen sambil menari sehingga kesenian cekepung disebut sebagai ansambel musik vocal.

Karena, para pemain melalui media mulut menirukan berbagai macam bunyi instrumen gamelan yang dalam penyajiannya membentuk lagu seperti permainan dalam satu ‘ansambel’ gamelan.

Disinggung terkait jumlah pemain, ia menyebut secara pokok personil kesenian cekepung terdiri atas delapan orang sampai 30 orang. Namun tidak menuntut kemungkinan personil kesenian cekepung berjumlah ratusan orang. Atau bisa juga berjumlah lima orang.

Menurutnya, pada dasarnya personil kesenian cekepung tidaklah baku, berapapun boleh asalkan mampu. Akan tetapi menut narasumber cekepung jumlah penari cekepung yang terlalu banyak kurang menarik.

Semakin banyak penari maka akan sulit mengkoordinasikan. Disamping itu kemampuan penari akan berbeda satu sama lain sehingga dalam pertnjukanya kurang lauh. “Kalau jumlahnya misalnya di antara 8 sampai 12 orang maka sangat pas untuk menarikan cekepung,” tutupnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#bebandem #Kesenian Cekepung #Desa Adat Budakeling #karangasem #genjek