Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Ngarap di Banjar Adat Buruan, Simbol Keikhlasan dan Kebersamaan yang Terus Dijaga

I Putu Mardika • Jumat, 9 Januari 2026 | 16:29 WIB

 

Tradisi Ngarap di Banjar Buruan, Desa/Kecamatan Tampaksiring, Gianyar
Tradisi Ngarap di Banjar Buruan, Desa/Kecamatan Tampaksiring, Gianyar
BALIEXPRESS.ID-Banjar Adat Buruan, Desa/Kecamatan Tampaksiring, Gianyar, hingga kini masih teguh melestarikan salah satu tradisi kematian yang paling unik dan kerap disalahpahami di Bali, yakni mesbes bangke atau yang juga dikenal dengan sebutan Ngarap.

Tradisi ini hanya boleh dilakukan oleh krama Banjar Adat Buruan dan menjadi bagian tak terpisahkan dari rangkaian upacara pengabenan. Dalam pelaksanaannya, jenazah yang diusung menuju setra tidak boleh jatuh, sebuah pantangan yang dijaga ketat sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada sang mendiang.

Bagi masyarakat awam, istilah mesbes bangke kerap terdengar ekstrem, bahkan mengundang rasa ngeri. Namun bagi krama Banjar Buruan, tradisi ini sama sekali tidak dimaknai sebagai bentuk kekerasan, apalagi dendam terhadap jasad yang telah meninggal.

Sebaliknya, Ngarap justru dipahami sebagai simbol kebersamaan, solidaritas, dan keikhlasan kolektif dalam mengantar roh menuju alam keabadian.

Tokoh muda Tampaksiring yang juga akademisi dan budayawan, Erman Rizky Dewa Suprapta, menjelaskan bahwa tidak terdapat catatan tertulis mengenai sejak kapan tradisi ini pertama kali dilaksanakan.

Namun berdasarkan ingatan kolektif masyarakat, mesbes bangke telah diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Tradisi ini hidup melalui laku, bukan teks; bertahan melalui keyakinan bersama, bukan dokumen formal.

“Ini bukan ritual spontan atau tindakan tanpa makna. Ada kesepakatan sosial dan spiritual yang kuat di baliknya,” ujar Erman.

Ia menegaskan bahwa pelaksanaan Ngarap selalu didasari oleh persetujuan keluarga yang berduka, restu prajuru adat, serta kesiapan mental seluruh krama yang terlibat. Dengan demikian, tradisi ini berjalan dalam harmoni, bukan kekacauan.

Dalam setiap prosesi pengabenan, mesbes bangke tampil layaknya sebuah panggung kolosal. Di bawah usungan wadah yang menjulang, puluhan bahkan ratusan krama terlibat dalam sebuah “koreografi massal” yang sarat makna.

Debu beterbangan, suara sorak membahana, dan tubuh-tubuh saling bersentuhan dalam satu tujuan: mengantar yang berpulang dengan cara paling jujur menurut keyakinan leluhur mereka.

Secara kosmologis, para tetua Banjar Buruan meyakini bahwa tradisi ini berfungsi untuk “membangunkan” sang roh agar segera melepaskan keterikatan duniawi. Tubuh jasmani dipandang sebagai sangkar sementara yang harus dibuka agar atma dapat melanjutkan perjalanan menuju alam niskala.

Dalam perspektif sekala, prosesi ini juga diyakini mempercepat proses pembakaran jenazah. Dengan raga yang telah “terbuka”, api suci di setra akan lebih cepat melahap jasad dan mengembalikannya ke pangkuan Panca Maha Bhuta.

Di tengah arus modernitas yang kerap mengagungkan estetika fisik dan individualisme, tradisi Ngarap hadir sebagai pengingat keras tentang kefanaan tubuh manusia. Ia menjadi antitesis dari ketakutan manusia modern terhadap kerusakan raga.

“Tradisi ini memaksa setiap orang untuk berkaca, bahwa tubuh yang diagungkan sejatinya hanyalah pakaian sementara yang suatu saat harus ditanggalkan,” ujar Erman.

Lebih dari sekadar ritual kematian, mesbes bangke juga menjadi sarana pendidikan karakter. Nilai kerendahan hati, gotong royong, dan kebersamaan terajut kuat dalam setiap sentuhan tangan krama yang saling berebut menopang usungan. Di sana, ego personal melebur menjadi kesadaran kolektif. Tidak ada “aku”, yang ada hanyalah “kita”.

Erman Riszky Dewa Suprapta
Erman Riszky Dewa Suprapta

Dalam konteks sosial yang lebih luas, pelestarian tradisi ini menjadi benteng terakhir bagi nilai gotong royong agar tidak sekadar menjadi jargon kosong. Ia menegaskan bahwa manusia tidak pernah hidup sendiri, dan pada akhirnya, tidak pernah meninggal sendiri. Setiap kehidupan terikat dalam jejaring sosial dan spiritual yang saling menopang.

Bagi masyarakat Banjar Buruan, Ngarap adalah monumen keteguhan hati. Tradisi ini akan tetap hidup selama krama masih merasakan getaran makna di dalamnya.

“Selama keringat, keriuhan, dan kebersamaan itu dipahami sebagai bentuk kasih sayang terakhir bagi mereka yang pulang ke keabadian, maka mesbes bangke akan terus menari dalam denyut budaya Bali, menjadi warna unik yang tak tergantikan dalam lukisan besar tradisi Pulau Dewata,” pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#kematian #Ngarap #Mesbes Bangke #Buruan #tradisi #Tampaksiring Gianyar