Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mapetokan saat Saba Ngelemekin di Pedawa, Adu Pantun para Teruna, Harus Paham Pakem

I Putu Mardika • Senin, 12 Januari 2026 | 16:31 WIB

 

Prosesi Mepetokan di Pura Telaga Waja Desa Pedawa saat Saba Ngelemekin
Prosesi Mepetokan di Pura Telaga Waja Desa Pedawa saat Saba Ngelemekin
BALIEXPRESS.ID-Prosesi Saba Ngelemekin di Pura Telaga Waja, Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng, bukan sekadar ritual sakral yang digelar setiap lima tahun sekali. Di balik rangkaian yadnya tersebut, terselip sebuah tradisi unik yang jarang ditemui di desa lain, yakni Mepetokan, atraksi perang pantun yang sarat nilai bagi para teruna Pedawa.

Tradisi Mepetokan dilaksanakan oleh para pemuda yang ngayah, dengan formasi khas membentuk lingkaran di areal utama Pura Telaga Waja. Puluhan teruna berdiri melingkar, seolah menjadi benteng sekaligus pigura hidup yang menghidupkan ruang sakral. Di tengah lingkaran itu, empat orang pemain utama beradu pantun, diiringi tabuhan gamelan sebagai penanda dimulainya atraksi.

Bendesa Adat Pedawa, Wayan Sudiastika, menjelaskan bahwa secara etimologis, kata mepetokan berasal dari kata petuk yang berarti beradu atau bertanding. Namun, pertarungan dalam mepetokan bukan adu fisik, melainkan adu kecerdasan bahasa, keberanian mental, dan kematangan karakter.

“Mepetokan itu pragmen tari yang disertai berbalas pantun antar empat orang pemain. Mereka berdiri di empat sudut, sementara para teruna lain menjadi bingkai hidup dari permainan ini,” ujarnya.

Mepetokan bukan permainan yang bisa diikuti sembarang orang. Para pemainnya adalah teruna pilihan yang telah melewati proses belajar panjang. Mereka digembleng untuk mengasah keberanian tampil di ruang publik, membangun rasa percaya diri, sekaligus menguji kecerdasan dalam merangkai pantun agar pesan yang disampaikan mampu menghipnotis penonton.

“Yang masuk mepetokan itu bukan orang biasa. Mereka harus siap mental, siap bahasa, dan siap tanggung jawab,” jelas Sudiastika

Teruna yang berhasil lolos dan tergabung sebagai pemain mepetokan akan memperoleh status khusus sebagai teruna lelepasan, yakni pemuda yang dibebaskan dari kewajiban membawa janur dan membuat penjor dalam upacara saba. Status ini bukan sekadar simbol sosial, melainkan bentuk pengakuan adat atas kematangan pribadi seorang teruna.

Baca Juga: Kepala BPN Bali Jadi Tersangka Dugaan Penyalahgunaan Wewenang dan Arsip Negara

Keunikan lain dalam mepetokan terletak pada pantun-pantun yang dilantunkan. Pantun ini tidak boleh diganti atau diubah sembarangan karena diyakini memiliki nilai magis. Pantun disusun berdasarkan empat arah mata angin yang dipercaya menyimpan energi kehidupan.

Empat golongan pantun tersebut adalah Taluh Asebun (Kaja Kauh), Wargasari (Kaja Kangin), Gempinis (Klod Kangin), dan Penginggih (Klod Kauh). Dalam praktiknya, para pemain saling bersautan dengan pola diagonal.

Secara denotatif, diagonal adalah garis yang ditarik dari sudut bawah ke sudut atas. Namun secara konotatif, pola ini dimaknai sebagai proses meninggikan nilai kehidupan. Atraksi ini mengajarkan bahwa manusia khususnya laki-laki Pedawa harus terus menapaki proses pendewasaan menuju nilai hidup yang lebih luhur.

Selama ini, pendidikan karakter lebih dikenal melalui ruang kelas dan bangku kuliah. Padahal, masyarakat tradisional seperti Pedawa telah lama menanamkan nilai karakter melalui sastra lisan yang hidup dalam ritual.

Baca Juga: MIRIS! Minta Uang, Ibu Bilang Tak Punya, Pria di Mengwi Ngamuk dan Rusak Tempat Sembahyang

Pantun dalam mepetokan bukan sekadar hiasan kata. Ia menjadi properti utama yang menguatkan karakter pertunjukan. Melalui metafora dan simbol, pantun menyampaikan pesan moral secara imajinatif, menyentuh kesadaran tanpa kesan menggurui.

Pantun juga menyatu dengan identitas pemain. Para teruna wajib mengenakan busana adat lengkap laki-laki, dengan keris terselip di pinggang belakang. Kata-kata dalam pantun mencerminkan karakter maskulinitas yang bertanggung jawab, berani, dan beretika. Dalam mepetokan dikenal pantun sakral dan pantun lelucon, namun keduanya tetap berpijak pada nilai-nilai luhur.

Salah satu pemain mepetokan, Made Saja akrab disapa Ibong mengungkapkan bahwa menjadi pemain petokan adalah proses panjang yang penuh perenungan.

“Awalnya minder, takut salah dan disoraki. Tapi karena minat besar, keberanian itu muncul. Dalam prosesnya, kami sering dibandingkan dengan pemain-pemain terdahulu. Dari situ kami terus belajar agar tetap sesuai pakem. Sampai sekarang pun kami masih merenung soal ketepatan cara bermain, demi menjaga taksu Pedawa,” tuturnya.

Made Saja menegaskan bahwa mepetokan bukan hiburan biasa. Tradisi ini berkaitan dengan mitos tarian widyadari dan widyadara.

Baca Juga: Tegur Pacar Mabuk dan Telepon Wanita Lain, Perempuan di Badung Dianiaya Sampai Babak Belur

“Rejang itu tarian widyadari, sedangkan petoka adalah tarian widyadara. Maka pemain mepetokan harus paham pakem. Tidak boleh ngawur. Ini pragmen tari yang dibawakan dengan spirit pemujaan dan kegembiraan,” katanya.

Ia menambahkan, sorak sorai dan tepuk tangan di akhir pertunjukan bukan sekadar euforia, melainkan simbol kemenangan setelah melewati “perang” batin dan simbolik.

Beberapa pantun dalam mepetokan secara eksplisit menyentuh isu kedewasaan, tanggung jawab, dan pengendalian diri. Meski kadang mengandung bias gender, pantun tetap berfungsi sebagai sarana refleksi bagi para remaja laki-laki dalam mengenali diri dan masa depan.

“Pantun-pantun ini menjadi pengingat bahwa menuju kedewasaan tidak cukup hanya dengan keberanian, tetapi juga kesiapan moral dan tanggung jawab sosial,” tutupnya. (dik)

 

 

Editor : I Putu Mardika
#Pura Telaga Waja #PEDAWA #Saba Ngelemekin #sakral #bali aga