Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Pemujaan Leluhur di Bali, Dilakukan di Pura Kawitan, Kamulan dimaknai sebagai Awal Mula

I Putu Mardika • Minggu, 1 Februari 2026 | 15:12 WIB

Pemujaan Kemulan bagi umat Hindu di Bali sebagai simbol penghormatan kepada leluhur.
Pemujaan Kemulan bagi umat Hindu di Bali sebagai simbol penghormatan kepada leluhur.

BALIEXPRESS.ID-Pemujaan leluhur bagi umat Hindu di Bali telah berkembang sejak jaman megalitik hingga kini, ditunjukkan dengan tinggalan beragam yang memiliki fungsi penghormatan kepada leluhur. Tinggalan tersebut berupa sarkofagus, hiasan kedok muka, menhir, hiasan tanduk kerbau, arca menhir, dan lain-lain.

Tinggalan-tinggalan tersebut menjadi penanda kuat bagaimana masyarakat Bali sejak masa lampau telah menempatkan leluhur sebagai sosok yang dimuliakan dan dihormati. Sarkofagus, misalnya, bukan sekadar wadah kubur, melainkan simbol penghormatan kepada tokoh yang dipandang berjasa bagi masyarakatnya.

Kepercayaan terhadap roh leluhur dilandasi keyakinan bahwa roh mereka memiliki kekuatan magis yang mampu memengaruhi nasib keluarga. Karena itulah, hubungan antara manusia yang hidup dengan leluhurnya senantiasa dijaga melalui berbagai upacara, terutama dalam prosesi kematian.

Upacara tersebut tidak hanya bertujuan mengantarkan roh menuju alam suci, tetapi juga menjaga keharmonisan dan ketentraman masyarakat yang ditinggalkan.

Menariknya, pada beberapa sarkofagus di Bali ditemukan hiasan kedok muka yang bukan sekadar ornamen dekoratif. Kedok muka ini dipercaya memiliki kekuatan magis sebagai pelindung arwah dalam perjalanannya menuju alam akhirat, sekaligus penolak bala bagi masyarakat yang masih hidup.

Baca Juga: Pelajar Bonceng Empat Terlibat Kecelakaan Maut, Satu Korban Tewas di Lokasi

Simbol-simbol tersebut mencerminkan cara pandang kosmologis masyarakat Bali kuno yang melihat kematian bukan sebagai akhir, melainkan peralihan menuju tingkat eksistensi yang lebih luhur.

Dosen Pendidikan Agama Hindu IAHN Mpu Kuturan, Nyoman Ariyoga, M.Pd, menjelaskan bahwa tradisi pemujaan leluhur di Bali kemudian mengalami perkembangan seiring masuknya pengaruh Hindu.

 “Dalam sumber-sumber prasasti Bali Kuno, tempat suci disebut dengan istilah hyang, da hyang, rah yang, sang hyang, hingga bhatara. Istilah-istilah ini kemudian berkembang menjadi parhyangan, kahyangan, dan akhirnya dikenal luas sebagai pura,” ujarnya.

Menurut Ariyoga, pemujaan kepada leluhur yang telah disucikan dalam lingkup keluarga dikenal dengan pura kawitan. Pada tingkat keluarga inti, tempat suci tersebut hadir dalam bentuk sanggah, merajan, atau kamulan.

Kamulan memiliki makna filosofis sebagai tempat asal-usul, yakni stana leluhur yang menjadi sumber kehidupan sebuah keluarga. “Kamulan bukan sekadar bangunan fisik, melainkan pusat spiritual keluarga,” tegasnya.

Keberadaan sanggah atau kamulan selalu menyertai berdirinya sebuah keluarga baru. Hal ini ditandai dengan penggunaan dapur yang sama, yang disebut kuren. 

Kurenan tidak hanya berarti satu unit rumah tangga, tetapi juga ikatan suci antara suami dan istri. Dalam satu pekarangan, biasanya terdapat beberapa kuren dari satu garis keturunan laki-laki yang hidup berdampingan dalam satu kesatuan ruang dan nilai.

Baca Juga: Pekerja Tewas Akibat Ledakan Ketel Uap Pabrik Tahu, Polisi Dalami Kelalain

Pembagian ruang pekarangan masyarakat Bali sangat memperhatikan orientasi sakral. Sanggah atau merajan umumnya ditempatkan di arah kaja kangin, arah yang dipandang paling utama dan suci. Dari sinilah terlihat bahwa pemujaan leluhur bukan sekadar aktivitas ritual, tetapi telah menyatu dalam tata ruang dan pola hidup masyarakat Bali.

Pada tingkat kekerabatan yang lebih luas, tempat pemujaan leluhur berkembang menjadi sanggah gede, mrajan agung, atau dadya, yang dikenal sebagai tunggal dadya. 

Saat upacara berlangsung, berbagai jenis sesaji dipersembahkan, dan hasilnya hanya dikonsumsi oleh para penyungsung sebagai bentuk bakti kepada leluhur.

Lebih luas lagi, kelompok kekerabatan yang terdiri dari beberapa dadya memiliki tempat pemujaan yang disebut paibon atau panti. Di beberapa daerah di Bali, paibon dikenal pula sebagai pura batur, kemungkinan karena bentuk bangunannya menyerupai teras berundak.

Pura panti berfungsi sebagai tempat pemujaan leluhur bagi keluarga besar yang hubungan genealogisnya tidak lagi teridentifikasi secara rinci, namun tetap merasa satu asal-usul.

“Panti pada awalnya kemungkinan merupakan tempat pertemuan umum keluarga besar. Kini, panti menjadi ruang spiritual sekaligus sosial, tempat keluarga berkumpul dalam pemujaan,” jelas Ariyoga.

Baca Juga: Bupati Tabanan Lantik Empat Perbekel PAW, Tekankan Pembangunan Dimulai dari Desa

Tempat suci ini umumnya dibangun di tempat yang lebih tinggi dan memiliki teras parigi, yang selain bermakna simbolis juga berfungsi praktis untuk menjaga kestabilan tanah.

Ia menambahkan, pada tingkat klan yang lebih besar, dikenal pura panataran, dan yang lebih luas lagi disebut padharman. Padharman tidak hanya terkait dengan ikatan genealogis, tetapi juga menjadi tempat pemujaan leluhur yang dianggap sangat berjasa, seperti raja dan tokoh besar masa lampau.

Kompleks Gunung Kawi Tampaksiring dan Candi Mangening merupakan contoh nyata padharman pada masa Bali Kuna.

Candi Mangening, menurut kajian arkeologi, disebut sebagai prasada agung, bangunan suci tempat pendharmaan raja yang telah wafat. Konsepsi prasada memiliki kesamaan dengan meru, yakni sebagai stana roh leluhur yang telah disucikan dan dipersatukan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi Dewa Pitara.

Tradisi ini menunjukkan kesinambungan antara kepercayaan prasejarah dan ajaran Hindu yang berkembang kemudian.

Dalam prasasti Bali Kuna dikenal pula istilah lumah dan siddhadewata untuk menyebut pendharmaan roh suci. Salah satu prasasti yang dikaitkan dengan Candi Mangening adalah Prasasti Batuan berangka tahun 994 Saka, yang menyebutkan pendharmaan raja di wilayah Yeh Mangening.

Jika penafsiran ini benar, maka Candi Mangening diyakini sebagai tempat pendharmaan Raja Udayana pada abad ke-10 Masehi.

Baca Juga: Resmi Turun! Pertamina Umumkan Harga Baru Pertamax, Cek Rincian Lengkapnya

MenuruTnya, bagi masyarakat Bali, penghormatan kepada leluhur adalah bentuk rasa bakti dan balas budi atas kehidupan yang diwariskan. Rasa hormat itu diwujudkan melalui upacara rutin, pemeliharaan tempat suci, serta pelestarian babad dan prasasti yang disakralkan.

“Naskah-naskah ini memuat pesan leluhur tentang kerukunan keluarga, tata upacara, hingga sejarah perjuangan yang menjadi sumber identitas kolektif,” sebutnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#pemujaan #bali #kamulan #megalitik #hindu #leluhur #kawitan