Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tumpek Uye Momentum menjaga Keseimbangan Ekologis dengan Mengasihi Binatang

I Putu Mardika • Kamis, 5 Februari 2026 | 19:07 WIB

 

Tumpek Uye momentum memberikan persembahan kepada binatang
Tumpek Uye momentum memberikan persembahan kepada binatang
BALIEXPRESS.ID-Perayaan Tumpek Uye kembali hadir sebagai pengingat pentingnya hubungan harmonis antara manusia, alam, dan seluruh makhluk hidup. Hari suci yang dirayakan setiap Saniscara Kliwon wuku Uye ini kerap dipahami secara sederhana sebagai momentum memberi persembahan kepada binatang.

Namun, di balik praktik ritual tersebut, Tumpek Uye sesungguhnya mengandung ajaran spiritual, etis, dan ekologis yang sangat mendalam.

Dalam tradisi Hindu Bali hingga Hindu Nusantara, Tumpek Uye yang juga dikenal sebagai Tumpek Kandang merupakan kesadaran hidup dan tanggung jawab manusia dalam menjaga keseimbangan alam.

Pemaknaan ini bersumber dari sastra suci, khususnya Lontar Sundarigama, yang menempatkan Tumpek Uye sebagai bagian dari upaya menjaga keharmonisan semesta.

Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Tejakula, Luh Irma Susanthi, S.Sos., M.Pd, menjelaskan bahwa Tumpek Uye bukan sekadar ritual simbolik. Menurutnya, hari suci ini diperuntukkan untuk menghormati seluruh binatang, baik yang dipelihara manusia maupun yang hidup bebas di alam.

“Tumpek Uye mengajarkan satu hal yang sangat penting, bahwa manusia bukanlah penguasa mutlak alam. Manusia adalah penjaga kehidupan, yang memiliki kewajiban moral dan spiritual untuk merawat serta melindungi seluruh ciptaan Tuhan,” ujarnya.

Di tengah tantangan zaman modern yang ditandai dengan krisis lingkungan, eksploitasi binatang, serta menurunnya empati sosial, Tumpek Uye menjadi ajaran yang semakin relevan. Hari suci ini menegaskan bahwa kasih tidak cukup berhenti pada rasa iba, melainkan harus berkembang menjadi kesadaran spiritual dan diwujudkan dalam tindakan nyata.

Landasan sastra Tumpek Uye secara jelas tertuang dalam Lontar Sundarigama, sebagaimana menyebutkan bahwa

“Uye Saniscara Kliwon, Tumpek Kandang ngaran, pakreti ring sarwa pasu, sato, mina, paksi, mwang patik wenang widhi-widananya.”

Yang berarti, pada hari Saniscara Kliwon Uye disebut Tumpek Kandang, sebagai hari suci (pakreti) bagi seluruh binatang berkaki empat, semua satwa, ikan, burung, serta makhluk hidup lainnya yang patut diperlakukan sesuai ketentuan dharma.

Kata pakreti dalam teks ini memiliki makna penting karena menunjuk pada tindakan ritual yang bertujuan memulihkan dan menjaga keseimbangan kosmis. Dengan demikian, Tumpek Uye bukan hanya perayaan simbolik, melainkan upaya spiritual untuk mengharmoniskan kembali relasi manusia dengan seluruh makhluk hidup.

Irma menambahkan, penyebutan sarwa pasu, sato, mina, dan paksi menegaskan sifat ajaran Tumpek Uye yang inklusif dan ekologis. Semua makhluk hidup baik yang berada di darat, air, maupun udara memiliki kedudukan penting dalam tatanan semesta.

Dalam pandangan teologis Hindu, pemuliaan terhadap binatang merupakan nilai yang luhur. Binatang tidak dipandang sebagai objek mati yang bisa diperlakukan semena-mena, melainkan sebagai bagian dari ciptaan Tuhan yang menjalankan fungsi kosmisnya masing-masing.

“Tumpek Uye menegaskan bahwa manusia tidak berada di atas alam, melainkan berada di dalam sistem kehidupan yang saling bergantung,” katanya.

Ajaran ini sejalan dengan Kitab Suci Bhagavad Gita (V.18) yang menyatakan bahwa orang bijaksana memandang sama brahmana, sapi, gajah, anjing, maupun manusia yang hina, karena mereka melihat percikan Atman yang sama dalam semua makhluk. Tumpek Uye menjadi pengejawantahan ajaran tersebut dalam konteks budaya dan spiritual Nusantara.

Leluhur Nusantara memuliakan Tumpek Uye melalui tata upacara yang dilaksanakan sesuai prinsip desa, kala, patra. Dalam Lontar Sundarigama dijelaskan sarana upacara Tumpek Uye, seperti suci daksina, pras, penek, ajuman, soda prani putih kuning, canang lenga wangi, burat wangi, hingga pasucian. Seluruh sarana ini mengandung simbol ketulusan, rasa syukur, dan proses penyucian hubungan manusia dengan alam.

Tumpek Uye juga erat kaitannya dengan pemujaan Sang Hyang Rare Angon, simbol Tuhan sebagai penggembala dan pelindung makhluk hidup. Pemujaan ini menegaskan bahwa kehadiran Tuhan tidak hanya dirasakan di tempat suci, tetapi juga dalam relasi etis manusia dengan alam dan binatang.

Dalam konsep seva, Tumpek Uye mengajarkan pelayanan tanpa pamrih. Merawat binatang, memberi makan, menjaga kesehatannya, serta tidak menelantarkannya dipandang sebagai praktik spiritual yang luhur. Keutamaan manusia, menurut ajaran Hindu, tidak terletak pada kekuasaannya menundukkan alam, melainkan pada kemampuannya bertanggung jawab secara etis.

“Tumpek Uye juga berkaitan erat dengan konsep Tri Rna. Dewa Rna dilunasi dengan menjaga ciptaan Tuhan, Rsi Rna diwujudkan dengan mengamalkan ajaran para resi tentang keharmonisan semesta, sementara Pitra Rna dipenuhi dengan mewariskan lingkungan yang lestari kepada generasi berikutnya,” ungkapnya.

Dalam perspektif ekoteologi, Tumpek Uye merupakan ajaran ekologis yang sangat maju. Alam dipandang sebagai ruang sakral, binatang sebagai bagian dari keluarga kosmis, dan manusia sebagai penjaga harmoni. Di era digital, ajaran ini tetap relevan dengan isu kesejahteraan hewan, krisis iklim, dan keberlanjutan lingkungan.

Tumpek Uye, sebagaimana diajarkan dalam Lontar Sundarigama, merupakan perayaan kasih yang telah berkembang menjadi kesadaran dan tanggung jawab.

“Jadi, mengasihi hewan bukan sekadar simbol ritual, melainkan wujud tanggung jawab moral untuk menjaga keseimbangan alam dan menghormati kehidupan,” tutupnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#hewan #binatang #hindu #tumpek uye