Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Catur Paramita dalam Lontar Siwa Sasana: Relevan Membentuk Generasi Muda Hindu

I Putu Mardika • Jumat, 8 Mei 2026 | 13:17 WIB
Ajaran Catur Paramita yang termuat dalam lontar Siwa Sasana dinilai masih sangat relevan diterapkan dalam kehidupan masyarakat modern, khususnya dalam membangun pendidikan karakter generasi muda Hindu
Ajaran Catur Paramita yang termuat dalam lontar Siwa Sasana dinilai masih sangat relevan diterapkan dalam kehidupan masyarakat modern, khususnya dalam membangun pendidikan karakter generasi muda Hindu

BALIEXPRESS.ID-Ajaran Catur Paramita yang termuat dalam lontar Siwa Sasana dinilai masih sangat relevan diterapkan dalam kehidupan masyarakat modern, khususnya dalam membangun pendidikan karakter generasi muda Hindu.

Nilai-nilai luhur seperti persahabatan, cinta kasih, simpati, dan toleransi diyakini mampu menjadi fondasi penting dalam membentuk perilaku sosial yang harmonis di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.

Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Tejakula, Luh Irma Susanthi mengatakan, pendidikan karakter dalam Hindu sejatinya tidak hanya berbicara soal pengetahuan, namun juga menyangkut pembentukan moral, etika, dan pengendalian diri. Menurutnya, lontar-lontar Hindu Bali sejak dahulu telah memberikan pedoman kehidupan yang sangat lengkap bagi umat Hindu.

“Catur Paramita mengajarkan manusia agar mampu hidup harmonis dengan sesama. Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial saat ini, ajaran ini sangat penting untuk kembali dikuatkan, terutama kepada generasi muda,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Catur Paramita berasal dari kata catur yang berarti empat dan paramita yang berarti perbuatan luhur. Empat ajaran tersebut meliputi Maitri, Karuna, Mudita, dan Upeksa. Keempatnya merupakan pedoman moral yang mengarahkan manusia untuk memiliki sikap welas asih dan menjaga hubungan sosial yang sehat.

Baca Juga: Peralihan Arsip Pertanahan Elektronik sebagai Sebuah Keniscayaan, Sekjen ATR/BPN: Harus Dikelola dengan Baik

Dalam lontar Siwa Sasana lembar 6b dijelaskan mengenai sifat-sifat luhur yang harus dimiliki seorang sadhaka atau pencari spiritual. Kutipan lontar tersebut berbunyi:

“Nahan lwirning sabda wuwusakna de dang upadhyaya. Nyang lwiraning buddhi sang sadhaka dang upadhyaya, ambek Suddha satya sadhu santa dhreti, ksama Pagehakna sang sadhaka makapagwan buddhi dhira lebarata nityasa, maka bhumyang metri karuna mudita upeksa…”

Yang diterjemahkan sebagai:

“Demikianlah jenis kata-kata yang seharusnya disampaikan oleh dang upadhyaya. Inilah rincian sifat-sifat sang sadhaka yang telah menjadi dang upadhyaya yaitu pikiran yang bersih, setia budiman, tenang, tangguh, sabar. Itulah yang harus ditegakkan oleh sang sadhaka berdasarkan metri, karuna, mudita dan upeksa…”

Menurut Luh Irma Susanthi, kutipan tersebut menunjukkan bahwa ajaran Hindu sejak dahulu telah menempatkan nilai kemanusiaan sebagai dasar pembentukan karakter seseorang. Ia menyebutkan bahwa seseorang tidak cukup hanya pintar secara intelektual, namun juga harus memiliki keluhuran budi pekerti.

“Lontar ini mengingatkan bahwa manusia tidak boleh memiliki sifat curang, sombong, iri hati, mudah marah, atau suka menghina orang lain. Sebaliknya, manusia diajarkan untuk jujur, sabar, penuh kasih dan menghormati sesama,” jelasnya.

Lebih lanjut dijelaskan, ajaran Maitri menekankan pentingnya membangun persahabatan dan hidup rukun dengan siapa saja. Dalam konteks kehidupan sosial di Bali, nilai ini tercermin dalam tradisi gotong royong, saling membantu saat upacara adat, hingga menjaga keharmonisan antarmasyarakat desa adat.

Sementara Karuna dimaknai sebagai cinta kasih dan kepedulian terhadap penderitaan orang lain. Nilai ini menurutnya sangat penting ditanamkan sejak usia dini agar generasi muda memiliki empati sosial yang tinggi.

Baca Juga: Dari Dapur Rumah ke Pasar Global, Casa Grata Tampil di Food & Hospitality Asia (FHA) 2026 Bawa Camilan Sehat

“Karuna mengajarkan bahwa manusia tidak boleh hidup individualis. Ketika ada orang susah, kita harus hadir membantu dengan tulus,” katanya.

Kemudian Mudita diartikan sebagai sikap ikut berbahagia atas keberhasilan orang lain dan ikut merasakan kesedihan sesama. Nilai ini dinilai mampu mengikis sifat iri hati maupun persaingan yang tidak sehat di tengah masyarakat modern.

Sedangkan Upeksa mengajarkan manusia untuk memiliki toleransi, sabar, serta mampu mengendalikan emosi. Sikap ini dianggap penting dalam menjaga keseimbangan hubungan sosial dan menghindari konflik di tengah keberagaman masyarakat Bali.

Selain tertuang dalam lontar Siwa Sasana, ajaran Catur Paramita juga dijelaskan dalam kitab Sarasamuscaya sloka 174 yang berbunyi:

“Amitramapi yo dinam caranaisinamagatam Wyasa nesvanugrnati vai purusa ucyate.”

Terjemahannya:

“Sekalipun orang yang berbuat jahat datang meminta pertolongan, orang yang berbudi luhur tetap akan menolongnya dengan penuh kebajikan.”

Luh Irma Susanthi menilai sloka tersebut memiliki pesan moral yang sangat mendalam mengenai pentingnya kemanusiaan dan pengampunan. Menurutnya, nilai tersebut perlu dihidupkan kembali di tengah maraknya konflik sosial, ujaran kebencian, hingga sikap intoleran yang berkembang di ruang digital.

Ia juga menegaskan bahwa pendidikan karakter berbasis ajaran Hindu tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, namun juga keluarga, lingkungan masyarakat, dan tokoh agama. Penyuluh agama, kata dia, memiliki peran strategis untuk terus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai nilai-nilai susila Hindu yang bersumber dari lontar dan kitab suci.

“Kalau nilai Catur Paramita benar-benar diterapkan, masyarakat akan hidup lebih damai, saling menghargai, dan tidak mudah terpecah karena perbedaan,” ujarnya.

Baca Juga: DPRD Klungkung Sahkan Dua Perda, Tuntut Penegakan dan Pengawasan Serius

Di Kecamatan Tejakula sendiri, pihaknya terus mendorong pembinaan umat melalui kegiatan penyuluhan agama, dharma wacana, serta pendidikan berbasis nilai karakter Hindu. Pendekatan tersebut dilakukan agar masyarakat tidak hanya memahami ritual keagamaan, namun juga mampu menerapkan nilai etika dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, tantangan generasi muda saat ini bukan hanya soal pendidikan formal, tetapi juga bagaimana menjaga moralitas di tengah derasnya arus globalisasi dan media sosial. Karena itu, ajaran Catur Paramita dianggap sangat penting sebagai benteng spiritual dan sosial masyarakat Hindu Bali.

“Nilai-nilai dalam lontar jangan hanya dibaca saat upacara atau disimpan di gedong lontar. Ajarannya harus dihidupkan dalam perilaku sehari-hari,” tegasnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#Lontar Siwa Sasana #generasi muda #catur paramita #hindu #pendidikan