Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Beragam Alat Masakan Tradisional Bali, Warisan Dapur Leluhur yang Sarat Filosofi dan Pengetahuan Lokal

I Putu Mardika • Selasa, 7 Juli 2026 | 19:28 WIB
Payuk sebagai sarana memasak tradisional yang digunakan masyarakat di Bali (ist)
Payuk sebagai sarana memasak tradisional yang digunakan masyarakat di Bali (ist)

BALIEXPRESS.ID-Meski penggunaan peralatan dapur modern berbahan stainless steel hingga perangkat memasak serba elektrik sedang marak, namun masyarakat Bali rupanya hingga kini masih mengenal dan mempertahankan berbagai alat masakan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. 

Bagi masyarakat Bali, peralatan tersebut bukan sekadar perlengkapan memasak, melainkan bagian dari identitas budaya, sistem pengetahuan lokal, sekaligus cerminan filosofi hidup yang telah diwariskan oleh leluhur selama berabad-abad.

Dosen Ilmu Budaya IAHN Mpu Kuturan, I Gusti Agung Ngurah Agung Yudha Pramiswara, M.Si menjelaskan, keberadaan alat-alat masakan tradisional Bali juga tidak dapat dipisahkan dari warisan pengetahuan kuliner yang terekam dalam berbagai naskah kuno.

Lontar Dharma Caruban, Purincening Ebatan, dan Kakawin Dharma Sawita menunjukkan bahwa tradisi memasak di Bali telah berkembang sebagai sebuah sistem pengetahuan yang utuh.

Ketiga naskah tersebut bukan sekadar memuat resep atau teknik mengolah makanan, melainkan merekam nilai-nilai moral, etika, filosofi, hingga tata cara penyajian makanan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bali.

Dalam tradisi kuliner Bali, setiap racikan bumbu tidak hanya dipahami sebagai perpaduan rasa, tetapi juga mengandung simbol keseimbangan alam dan kehidupan. Setiap tahapan memasak dilakukan dengan ketelitian, kesabaran, dan penghormatan terhadap bahan pangan sebagai anugerah alam.

Demikian pula setiap sajian yang dihidangkan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmani, tetapi juga mencerminkan rasa syukur, harmoni, dan kearifan lokal. Dengan demikian, dapur tradisional Bali bukan sekadar ruang memasak, melainkan ruang pewarisan nilai budaya antargenerasi.

Pusat aktivitas tersebut berada pada cangkem paon, yakni tungku tradisional yang dahulu menjadi jantung kehidupan rumah tangga Bali. Dibuat dari tanah liat atau susunan bata dan menggunakan kayu bakar sebagai sumber panas, cangkem paon bukan hanya berfungsi sebagai tempat memasak, tetapi juga menjadi ruang berkumpul keluarga, tempat berbagi cerita, hingga lokasi pelaksanaan ritual sederhana yang berkaitan dengan penghormatan terhadap api sebagai sumber kehidupan.

Untuk mengolah berbagai jenis masakan, masyarakat Bali menggunakan penggorengan atau wajan, yang umumnya dibuat dari besi cor. Ketebalan materialnya mampu menghantarkan panas secara merata sehingga cocok digunakan untuk menggoreng maupun menyangrai aneka bumbu.

Masakan berkuah dan berbagai hidangan tradisional biasanya dimasak menggunakan payuk, yaitu periuk berbahan tanah liat. “Hingga kini banyak masyarakat meyakini bahwa memasak menggunakan payuk mampu menghasilkan cita rasa yang lebih gurih karena panas menyebar secara perlahan dan merata, sekaligus mempertahankan aroma alami bahan makanan,” sebutnya.

Dalam proses memasak nasi, masyarakat Bali mengenal dandang, yaitu wadah logam untuk merebus atau menanak nasi secara tradisional. Dandang umumnya dipadukan dengan kukusan yang digunakan untuk mengukus nasi, jajan Bali, maupun berbagai hidangan lainnya.

“Agar panas tetap stabil selama proses memasak, digunakan kekeb, yakni penutup berbentuk bundar yang menutup wajan, payuk, maupun dandang sehingga makanan matang secara merata,” paparnya.

Peralatan sederhana lainnya adalah siut, penjepit berbahan bambu yang digunakan untuk mengangkat panci atau wadah panas dari atas tungku. Meski bentuknya sederhana, siut menunjukkan kecerdasan masyarakat Bali dalam memanfaatkan material alam sebagai alat yang aman dan fungsional.

Untuk mengambil dan menyajikan makanan digunakan gebah dan cedok. Gebah yang dibuat dari anyaman bambu berfungsi sebagai alat peniris maupun pemindah bahan makanan, sedangkan cedok digunakan sebagai sendok besar untuk mengambil kuah, sayur, atau nasi.

Saat proses memasak berlangsung, masyarakat menggunakan kau, yaitu spatula berbahan kayu yang berfungsi mengaduk masakan tanpa merusak permukaan wajan maupun payuk. Setelah nasi matang, digunakan sinduk nasi, sendok besar dari kayu atau bambu yang menjaga tekstur nasi tetap utuh ketika disajikan.

Tahapan persiapan bahan makanan juga memanfaatkan berbagai alat tradisional. Gobed digunakan untuk mengupas kelapa, sedangkan kikian berfungsi sebagai alat pemarut kelapa. Kedua alat ini memiliki peran penting karena kelapa merupakan salah satu bahan utama dalam berbagai masakan dan sarana upacara adat di Bali.

Untuk memotong bahan makanan digunakan talenan berbahan kayu keras. Sementara itu, tiyuk berfungsi sebagai pisau serbaguna untuk mengiris berbagai bahan makanan, sedangkan blakas merupakan parang kecil yang digunakan memotong bahan berukuran besar seperti batang pisang, bambu, maupun daging.

Pengolahan bumbu khas Bali tidak dapat dipisahkan dari penggunaan cobek atau ulekan bersama batu base. Batu pipih ini digunakan untuk menggiling berbagai rempah hingga menghasilkan bumbu halus yang kaya aroma. Teknik menggiling secara manual dipercaya mampu mengeluarkan minyak alami dari rempah-rempah sehingga menghasilkan cita rasa khas yang sulit diperoleh melalui alat modern.

Kelapa sebagai bahan pokok dalam kuliner Bali juga diolah menggunakan penyolohan nyuh, yaitu alat khusus yang digunakan untuk menyangga atau menusuk kelapa saat dikupas maupun diparut sehingga proses pengolahannya menjadi lebih mudah dan aman.

Dalam tahap penyajian, masyarakat Bali menggunakan ingke, yaitu wadah bundar dari anyaman bambu yang lazim dipakai sebagai alas maupun tempat menyajikan makanan. Selain ringan dan ramah lingkungan, ingke juga menjadi perlengkapan penting dalam berbagai kegiatan adat, upacara keagamaan, hingga jamuan keluarga.

Seluruh rangkaian alat tersebut memperlihatkan bahwa teknologi dapur tradisional Bali berkembang selaras dengan lingkungan alam serta kebutuhan sosial masyarakat. Hampir seluruh peralatan dibuat dari bahan-bahan lokal seperti tanah liat, bambu, kayu, batu, dan batok kelapa yang mudah diperoleh serta ramah lingkungan.

Di balik kesederhanaannya, setiap alat dirancang untuk menjalankan fungsi tertentu secara efektif sekaligus mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Sebagaimana tercermin dalam Lontar Dharma Caruban, Purincening Ebatan, dan Kakawin Dharma Sawita, aktivitas memasak di Bali sesungguhnya merupakan praktik budaya yang memadukan pengetahuan, moralitas, dan spiritualitas.

Setiap racikan bumbu mengandung simbol, setiap langkah memasak diiringi nilai-nilai kehidupan, dan setiap sajian mencerminkan kedalaman kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

“Maka dari itu, alat-alat dapur tradisional tidak hanya menjadi benda fungsional, tetapi juga menjadi simbol keberlanjutan budaya, ketahanan pengetahuan lokal, serta penghormatan masyarakat Bali terhadap warisan leluhur yang tetap relevan di tengah perkembangan zaman,” tutupnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#Alat memasak tradisional #Payuk #Cangkem paon #bali